BANDAR post: SUMUT

Hot

Tampilkan postingan dengan label SUMUT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SUMUT. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Juni 2018

Pilgub Sumut: Warga Gagalkan Pembagian Sembako Djoss Atas Nama

27 Juni 0

Pilgub Sumut: Warga Gagalkan Pembagian Sembako Djoss Atas Nama Syamsul Arifin

10Berita - Pembagian sembako yang terdiri dari beras dengan kemasan karung 5 kg dan garam terjadi saat masa tenang Pilgub Sumut 2018. Kejadian tersebut terjadi di Jalan Puri Gang Sawo, Kecamatan Medan Area, Kota Medan, Selasa (26/6).

Beruntung, warga sekitar melakukan penolakan dan peristiwa tersebut langsung dilaporkan ke pihak Panwaslu setempat. Alhasil, pembagian sembako tidak jadi dilakukan.

Kejadian berawal saat warga melihat adanya distribusi beras dari truck di pinggir jalan ke rumah warga bernama Edi Tahir. Warga langsung mendatangi rumah Edi Tahir karena curiga sembako tersebut ada hubungannya dengan Pilgub Sumut 2018

Ternyata setelah diselediki lebih lanjut oleh warga, terbukti sembako tersebut diberikan atas nama Syamsul Arifin, mantan Gubernur Sumut yang juga merupakan tim sukses paslon nomor urut 2 Djarot Saiful-Sihar Sitorus (Djoss). Hal itu juga ditandai dengan adanya stiker dan kantong kresek bergambar Syamsul Arifin.

Saat kejadian, Edi Tahir tak berada di kediamannya. Namun ada seorang bernama Akmal yang mengaku diperintah Edi Tahir untuk menampung sembako itu.

Saat diwawancarai oleh wartawan, sopir bernama Rajab yang mengantarkan sembako tersebut mengakui bahwa sembako tersebut dibawa dari Kabupaten Langkat. Rajab juga mengakui bahwa beras itu ada hubungannya dengan Pilgub Sumut 2018.

“Ada lah bang hubungannya sama Pilkada, nomor 2 (Djoss) bang,” ungkapnya.

Mendengar hal tersebut, warga bernama Heru langsung melaporkan peristiwa tersebut ke pihak Panwaslu setempat. Setelah tiba di lokasi, petugas Panwaslu pun membawa sopir truck, kernek, dan Akmal ke kantornya guna dimintai keterangan lebih lanjut.

"Kami sangat menyayangkan di masa tenang ini masih ada saja yang mau buat kegaduhan dan pelanggaran. Jangan kotori Pilgubsu ini dengan cara-cara curang, suara warga tidak bisa dibeli,” tegas Heru.[ian/publika]

Sumber :Konfrontasi 

Read More

Senin, 25 Juni 2018

Data 7 Survei: Edy Rahmayadi vs Djarot, Siapa Layak Pimpin Sumut?

25 Juni 0

Data 7 Survei: Edy Rahmayadi vs Djarot, Siapa Layak Pimpin Sumut?

BANDARpost, Edy Rahmayadi menumbangkan Djarot di hampir semua survei yang digelar di Sumut.

Survei Pilgub Sumut

Pilgub Sumatera Utara 2018 menampilkan drama politik yang menyita perhatian luas. Mulai dari kemunculan Djarot Saiful Hidayat, hingga gagalnya jagoan Partai Demokrat, PKB, PKPI yaitu JR Saragih-Ance Selian gara-gara dugaan ijazah palsu.

Di atas kertas, Edy Rahmayadi adalah cagub paling kuat karena didukung 6 partai politik di Sumatera Utara. Edy juga kandidat paling siap bahkan sejak masih menjabat Pangkostrad sudah menyatakan keinginannya memimpin Sumut.

Sementara Djarot baru diputuskan menjadi cagub di last minute pendaftaran cagub-cawagub, terlebih setelah PDIP terseok-seok melobi PPP yang nyaris tak memberikan dukungan dan membuat Djarot hampir gagal turun gelanggang.

Mengantongi nomor urut 1, Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah (ERAMAS) mengusung visi 'Sumatera Utara yang Maju, Aman dan Bermartabat'. Duet militer dan pengusaha penggemar otomatif itu sebetulnya tak lebih banyak muncul di masa kampanye ketimbang manuver Djarot-Sihar.

Mari simak visi misi Edy-Ijeck untuk Sumut 5 tahun ke depan:

Sementara Djarot-Sihar mengusung visi misi dengan tagline: Membangun Sumut Hebat yang Berdaulat Mandiri dan Berkepribadian. Visi misi Djarot menuai sorotan karena sangat mirip dengan visi misi Ahok-Djarot di Pilgub DKI.

Berikut visi misi pasangan DJOSS tersebut:

Adu Kuat Survei

Meski hanya diusung dua parpol, Djarot nyatanya mampu menghadapi dominasi mantan Pangkostrad di Pilgub Sumut. Bermodal popularitas yang cukup tinggi, mantan wali kota Blitar itu perlahan namun pasti diterima warga Sumut. Hal itu diketahui dari elektabilitas Djarot-Sihar yang mendekati Edy-Ijeck.

Catatan kumparan, sejak penetapan pasangan calon, ada 6 survei di Pilgub Sumut yang digelar oleh 4 lembaga survei nasional berbeda. Dari 6 kali survei itu, hanya satu lembaga survei yang memenangkan Djarot, yaitu Indo Barometer. Sisanya, Edy-Ijeck juara.

Berikut datanya:

Survei Pilgub Sumut

Selain 4 lembaga itu, ada 1 lembaga survei lokal yang juga merilis data survei. Yaitu Center for Election and Political Party (CEPP) FISIP Universitas Sumatera Utara (USU), yang merilis elektabilitas Eramas 53,1%, sementara DJOSS 35,7%.

Dari survei nasional dan lokal tersebut, Edy-Ijeck unggul di 5 kali survei, sementara Djarot-Sihar unggul di 2 survei dari 1 lembaga yaitu Indo Barometer. Selisih elektabilitas kedua kandidat ini di angka 8-13%.

Sebagaimana diketahui, pemungutan suara akan digelar pada Rabu, 27 Juni 2018 mulai pukul 07.00-13.00 WIB

Sumber :kumparan.com 

Read More

Jumat, 22 Juni 2018

TERCYDUK MAKIN KASAR! Halalbihalal di PTPN III Jadi Ajang Kampanye Djarot-Sihar, Warganet BEBERKAN Fakta Ini

22 Juni 0

TERCYDUK MAKIN KASAR! Halalbihalal di PTPN III Jadi Ajang Kampanye Djarot-Sihar, Warganet BEBERKAN Fakta Ini


BANDARpost, Umat Islam yang berada pada perkebunan PTPN III di seluruh Sumatera Utara diminta waspada munculnya tim kampanye Djarot Saiful Hidayat dan Sihar Sitorus (DJOSS) dalam kedok halalbihalal.

Hal ini diketahui dalam daftar nama penceramah yang akan mengisi halalbihalal itu terdapat nama-nama yang dikenal sebagai bagian tim kampanye Djoss bernama Muslimin Berjuang.

Dalam selebaran yang beredar di media sosial, Rabu 20 Juni 2018 terdapat 33 kebun atau pabrik kelapa sawit milik PTPN III yang menjadi sasaran pelaksanaan halalbihalal yang berlangsung sejak 20 Juni hingga 23 Juni 2018.

Mulai dari Labuhanbatu Selatan, Tapsel, Labura, Labuhan Batu, Tebing Tinggi, Serdangbedagai, Asahan, Deliserdang dan Simalungun. Adapun kebun-kebun yang didatangi antara lain, Kebun Pulau Mandi, Kebun Aek Torop, Kebun Sisumut, Kebun Sei Daun, Kebun Hambalutu hingga Kebun Hapesong.

Sementara nama penceramah yang mengisi halalbihalal itu memang dikenal sebagai tim kampanye Djoss dan beberapa diketahui baru saja diberangkatkan umrah oleh DJOSS pada bulan puasa lalu. Mereka itu antara lain yakni H HM Thamrin Munthe, H Sangkot Saragih, Miftahul Khair, Samin Pane, Hermanto, Ilyas, Sampurna Silalahi, dan Rudi Suntari.

Menanggapi ini, Koordinator Pokja Humas Sumut, Idrus Djunaidi, mengatakan sebagai lembaga milik pemerintah PTPN3 III harus bebas dari intervensi politik.

"Sudah jelas ini halalbihalal hanya kedok saja. Ini bertujuan politik, kampanye. Kami minta direksi PTPN III bertindak. Kalau cuma diam, berarti manajemen PTPN III sudah ikut berpolitik," katanya.

Idrus menambahkan keyakinannya bahwa ini ajang politik, dikarenakan tidak pernah PTPN III menggelar roadshow halalbihalal seperti ini.

"Saya tahu itu, karena banyak saudara di sana. Selama ini, halal bil halal paling hanya di kantor direksi (kandir)," katanya.

Idrus mengatakan, Bawaslu harus menunjukkan netralitasnya dengan mengambil tindakan atas indikasi pelanggaran pemilu dalam kaitan PTPN III ini. Diakuinya, siapa pun tidak berhak melarang seseorang menjadi penceramah.

"Tapi kalau si penceramah itu adalah tim kampanye, maka cerita sudah berbeda pula. Kami kira kalau mau menang Pilgubsu boleh saja, tapi jangan curang dan menghalalkan segala cara," kata Idrus.


Sumber: PojokSatuSumut
------

Warganet pun bercuit.
"Makin kasar saja di Sumut ini," cuit Umar Hasibuan di akun twitternya @Umar_Hasibuan.

Sebelumnya tim Djarot-Sihar juga terciduk membagikan sembako kepada warga Sumut.

Berikut videonya.

— Ayra Hadinata (@AyraHadi) June 21, 2018


Sumber : PORTAL ISLAM

Read More

Jumat, 15 Juni 2018

Djarot Diprediksi Kalah di Pilgub Sumut. Bagaimana Nasib Djarot Selanjutnya?

15 Juni 0

Djarot Diprediksi Kalah di Pilgub Sumut. Bagaimana Nasib Djarot Selanjutnya?

Referensi pihak ketiga

BANDARpost,  Survey yang dilakukan oleh Center for Election and Political Party (CEPP) FISIP Universitas Sumatera Utara pada periode 27 Mei – 06 Juni terhadap elektabilitas paslon di Pilgub Sumut menunjukkan bahwa paslon nomor urut satu Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah (Eramas) jauh mengungguli paslon nomor urut dua Djarot Syaiful Hidayat-Sihar Sitorus (Djoss).

Referensi pihak ketiga

Menurut Akhyar Anshori, peneliti CEPP FISIP USU, angka yang didapat Eramas sebesar 53,1% sedangkan Djoss hanya mendapat 35,7% suara (merdeka.com/13/06/2018).

Sebesar 48,2% responden yang disurvey mengaku telah mantap memilih Eramas dan 31,8% mantap dengan Djoss.

“Jika data ini tidak mengalami perubahan signifikan, Eramas diprediksi menang melawan Djoss pada Pilgub Sumut 2018,” jelas Akhyar.

Referensi pihak ketiga

Paslon Djoss yang diusung PDI-P dan PPP ini memang telah diprediksi bakal gembos. Banyak faktor penyebabnya, diantaranya adalah Djarot merupakan orang asing di Sumut. Ia sama sekali tak mengakar di tengah masyarakat Sumatera Utara. Modal Djarot cuma ekspos dari media dan medsos atas kepemimpinannya saat menjadi wagub di DKI.

Referensi pihak ketiga

Bila prediksi ini benar dan tak ada tsunami politik, maka yang paling menarik adalah menerawang bagaimana nasib Djarot selanjutnya. Sebelumnya Djarot pindah dari Blitar ke Jakarta, lalu pindah lagi ke Medan demi Pilgub Sumut. Nah, kalau Djarot kalah? Pindah lagi, kah?

Sumber :UC News 

Read More

Kamis, 14 Juni 2018

Survey: Djarot Akan Kalah di Pilgub Sumut

14 Juni 0

Survey: Djarot Akan Kalah di Pilgub Sumut


BANDARpost – Lembaga Survei Strategi Taktik Indonesia (stratakindo) menggelar survei Pilgubsu untuk mengukur elektebikitas dan peta pemilih akhir jelang pencoblosan tanggal 27 Juni nanti.

Survei yang digelar dari tanggal 2 Juni sampai tanggal 9 Juni 2018 itu mengambil sampel sebanyak 800 responden berusia minimal 17 tahun atau memiliki hak pilih. Margin of error survei sebesar ± 3,46 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Adapun teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara tatap muka menggunakan kuesioner.

Hasil survei menunjukan pasangan Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah (Eramas) unggul jauh dari pasangan Djarot Syaiful Hidayat-Sihar Sitorus (Djoss). Elektabilitas Eramas mencapai 46,77 persen sementara Djoss mencapai 37,22 persen. Adapun yang menyatakan rahasia, tidak tahu, tidak menjawab sebanyak 16,01 persen.

Direktur Stratakindo, Oktarina Soebardjo menyatakan hasil survei ini kemungkinan tidak akan berubah mengingat sisa waktu menuju pencoblosan tinggal beberapa hari saja.

“Ini hasil suvei terakhir jelang pencoblosan. Masa lebaran yang juga merupakan cuti nasional dan libur nasional pasti tidak bisa dimanfaatkan secara efektif untuk mendulang suara. Jadi kami memprediksi pilgubsu ini akan dimenangkan pasangan Eramas,” Oktarina dalam keteranganya, Rabu (13/6).

Ia menyatakan, Eramas unggul di daerah-daerah padat seperti Medan, Deli Serdang, Langkat dan Asahan. Djoss mendapatkan dukungan solid dari pemilih non muslim.

Secara umum rakyat Sumut menghendaki perubahan dan perbaikan di bidang ekonomi dan infrastruktur. Responden menghendaki Sumut dipimpin oleh pemimpin yang tegas, bersih, anti korupsi dan agamis.[]
 

Sumber : rakyatmerdeka

Read More

Senin, 14 Mei 2018

Hasil Survei CSIS Elektabilitas Edy-Musa Ungguli Djarot-Sihar

14 Mei 0

Hasil Survei CSIS Elektabilitas Edy-Musa Ungguli Djarot-Sihar

Tingkat elektabilitas pasangan Edy-Musa mencapai 44,8 persen.Pasangan Djarot-Musa hanya memperoleh 38,6 persen.

Djarot Saiful Hidayat dan Edy Rahmayadi. ( Foto: Antara )

BANDARpost, Jakarta - Elektabilitas pasangan calon gubenur (Cagub) dan calon wakil gubernur (Cawagub) Sumatera Utara (Sumut) Edy Rahmayadi - Musa Rajekshah‎ unggul dari pasangan Cagub-cawagub Djarot Saiful Hidayat - Sihar Sitorus. Selisih elektabilitas dua pasangan mencapai 8 persen.

Hal itu terungkap dari hasil survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang dipaparkan di Jakarta, Minggu (13/5). Survei ini dilaksanakan 16-30 April dengan mengambil 950 responden. Survei menggunakan metode wawancara dengan mengisi kuesioner oleh responden.

Arya Fernandes menjelaskan, elektabilitas Edy-Musa mencapai 44,8 persen, sementara Djarot-Sihar sebesar 36,6 persen. Hingga survei dilakukan, terdapat 18,5 persen pemilih yang belum menentukan pilihannya.

"Waktu tersisa kurang lebih satu setengah bulan menjadi penting bagi kedua pasangan. Terutama, karena baru 61,2 persen responden menyatakan telah mantap dengan pilihannya," kata Arya.

Menurutnya, dari segi popularitas Djarot unggul mencapai 81,6. Sementara, Edy Rahmayadi hanya mencapai 74,6 persen. Untuk sisi cawagub, popularitas Sihar juga unggul mencapai 55,1 persen, sementara Musa Rajekshah hanya mencapai 49,6 persen.

"Pasangan Djarot-Sihar lebih banyak dipilih para pemilih yang menyatakan puas terhadap kinerja pemerintah mencapai 42, 3 persen. Sebaliknya pasangan Edy-Musa didukung oleh pemilih yang tidak puas terhadap pemerintah. Angkanya mencapai 46,9 persen," ujar Arya.

Dia menegaskan, dukungan terhadap Edy-Musa dari sisi gender lebih solid dibadingkan dengan pemilih Djarot-Sihar. Dari anasilisa cross tabulasi sedehana memperlihatkan kemantapan pilihan terhadap pasangan Edy-Musa‎ lebih tinggi dari pasangan Djarot-Sihar.

"Dari pemilih yang memilih Edy-Musa, ada 53 persen yang sudah mantap memilih pasangan ini. Sementara dari pemilih Djarot-Sihar, baru 43,9 persen yang sudah mantap dengan pilihannya," ungkapnya.

Arya menambahkan 30,1 persen responden menyebutkan Gerindra sebagai partai utama pasangan Edy-Musa. Sebanyak 8,2 persen menyatakan PKS adalah partai utama mencalonkan pasangan ini. Adapun 36,4 persen tidak mengetahui partai mana yang mencalonkan Edy-Musa.

Dari pasangan Djarot-Sihar, 64,8 persen responden menyebutkan PDIP adalah partai utama pasangan ini. Sebanyak 1,7 persen menyatakan Nasdem mencalonkan pasangan ini. Sisanya 27,5 persen menyatakan tidak mengetahui partai mana yang mengusung Djarot-Sihar.

"Dalam konteks Sumut, PDIP dan Gerindra adalah dua partai dengan identitas paling kuat di mata para pemilih," tutup Arya.

Sumber: Suara Pembaruan

Read More

Jumat, 11 Mei 2018

SBY Gabung Prabowo, Perjuangan Djarot di Pilgub Sumut Kian Berat

11 Mei 0

SBY Gabung Prabowo, Perjuangan Djarot di Pilgub Sumut Kian Berat

Referensi pihak ketiga

BANDARpost, Setelah JR Saragih terdepak dari pertarungan Pilgub Sumut menyusul terbongkarnya ijazah palsu yang dimilikinya, Demokrat di bawah komando SBY akhirnya mengalihkan dukungannya kepada cagub lain.

Di antara dua cagub, Edy-Ijeck dan Djarot-Sihar, SBY rupanya lebih memilih Edy-Ijeck sebagai pasangan cagub yang secara resmi didukung Demokrat. Dukungan ini sekaligus membuat perjuangan Djarot di Pilgub Sumut terasa kian berat.

“Demokrat memberikan dukungan penuh kepada pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur Sumatera Utara yaitu saudara Edy Rahmayadi dan saudara Musa Rajekshah atau Ijeck," kata SBY di kediamannya, Mega Kuningan Timur VII, Jakarta Selatan, Jumat (11/5/2018) seperti dikutip merdeka.com.

Djarot yang pernah menjadi tandem hingga menggantikan posisi Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta kini harus berhadapan dengan calon yang dijagokan SBY. Padahal, basis massa Demokrat diketahui cukup kuat di Sumut, terutama setelah Sekjen Demokrat, Hinca Panjaitan sangat rajin melakukan safari politik ke daerah kelahirannya itu.

Sejauh ini, Edy-Ijeck pun telah mengantongi tujuh parpol pendukung. Yakni, Demokrat, PAN, PKS, Gerindra, Hanura, NasDem, dan Golkar. Sedangkan Djarot-Sihar hanya didukung duet PDIP dan PPP.

Adapun PKB yang sebelumnya bergabung Demokrat saat mendukung JR Saragih-Ance Selian, hingga kini belum mengambil keputusan. Akan tetapi, bila melihat peta dukungan parpol saat ini, besar kemungkinan PKB akan mengikuti jejak Demokrat mendukung Edy-Ijeck.

Keikutsertaan Djarot ke Pilgub Sumut sebelumnya diklaim banyak pihak akan dengan mudah merebut kursi gubernur, dengan bermodalkan faktor “Ahok”. Apalagi, Sumut yang juga diketahui menjadi salah satu basis PDIP menambah modal elektabilitas terhadap Djarot yang juga berstatus kader partai banteng.

Namun kekuatan Edy-Ijeck juga tak bisa dipandang sebelah mata. Edy pernah menjabat Pangdam I BB sementara Ijeck adalah tokoh pemuda yang cukup tenar di wilayah Medan.

Kini dengan adanya dukungan SBY, sepertinya perjuangan Djarot akan lebih berat melawan dominasi Edy yang terus-menerus mencari dukungan dari berbagai pihak. Edy yang pertama kali mendapat restu dari Prabowo, kini bertambah lagi dengan adanya restu dari SBY.

Sumber :UC News 

Read More

Senin, 07 Mei 2018

Jika Pilgub Sumut Digelar Hari Ini, Pasangan Ini Diperkirakan Menang

07 Mei 0

Jika Pilgub Sumut Digelar Hari Ini, Pasangan Ini Diperkirakan Menang

BANDARpost, Jakarta,  Pilkada serentak 2018 telah memasuki masa krusial, jika dihitung mundur waktu ke hari pencoblosan hanya tinggal 92 hari. Hampir di semua daerah yang menggelar pilkada dilakukan survei untuk mengetahui peta kekuatan para paslon dan memprediksi pemenangnya.

Demikian halnya di pilgub Sumatera Utara 2018, survei dilakukan banyak lembaga bukan hanya untuk mengetahui siapa yang akan memenangkan kontestasi namun juga untuk mencek apakah hingar bingar pilkada DKI tahun lalu akan terulang di Sumut mengingat salah satu figur yang maju adalah bekas peserta pilkada DKI.

Lembag survei Stratak Indonesia merilis hasil survei mereka dan menemukan bahwa pilgubsu tidak seheboh pilkada DKI. Bahkan popularitas para calon masih belum sampai di angka ideal.

Popularitas Edy Rahmayadi baru mencapai angka 73,50 persen lalu Djarot Syaiful Hidayat 70,10 persen. Para calon wagub bahkan belum ada yang mencapai angka 50 persen. Popularitas Musa Rajekshah sebesar 47,22 persen sementara Sihar Sitorus 25,40 persen.

“Jadi isu pilgubsu 2018 akan heboh karena Djarot diimpor ke sini, tidak terjadi. Pilkadanya saja seperti tidak menarik minat masyarakat. Para calon belum dikenal secara maksimal padahal waktu sudah tinggal 3 bulan,” demikian disampaikan Octarina Soebardjo dalam rilis survei yang digelar di kawasan Cikini, Jakarta, Selasa (27/3).

Oktarina menjelaskan, jika pilkada digelar hari ini, pasangan Edy – Musa akan menang dan terpilih. Namun demikian dalam kurun waktu tiga bulan ke depan, semua kemungkinan bisa terjadi.

Mengingat hanya ada dua pasang yang bertarung, siapa yang bisa memanfaatkan waktu tersisa, sangat mungkin untuk memenangkan kontestasi. “Sekarang ini pemenang pilgubsu adalah undecided voters. Pada pertanyaan tertutup angkanya lebih tinggi sedikit dari pasangan Edy-Musa,” ujarnya.

Data temuan elektabilitas tertutup:
1. Edy Rahmayadi – Musa Rajekshah: 36,91 persen.
2. Djarot Syaiful Hidayat – Sihar Sitorus: 24,71 persen.
3. TT/TJ/BM: 38,38 persen.

Dalam surveinya, Stratak Indonesia menggunakan metode multistage random sampling. Jumlah sampel yang sebanyak 820, dengan margin of error sebesar ± 3,5% pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Responden terpilih diwawancarai secara tatap muka oleh pewawancara yang telah terlatih. Satu pewawancara bertugas untuk satu kelurahan/desa yang terdiri hanya 10 responden.

Quality control secara random sebanyak 20% dari total sampel dilakukan oleh supervisor dengan kembali mendatangi responden terpilih (spot check).

Sumber :Aktual 

Read More

Sabtu, 28 April 2018

Hasil Survey LSI, Eramas Kuasai Pemilih Jawa dan Muslim

28 April 0

Hasil Survey LSI, Eramas Kuasai Pemilih Jawa dan Muslim

BANDARpost . Lingkar Survey Indonesia Denny JA menyampaikan hasil survey tentang dua pasangan calon yang akan maju di Pilgubsu 2018 yakni pasangan Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah (Eramas) dan pasangan Djarot Syaiful Hidayat-Sihar Sitorus (Djoss). Hasilnya hingga saat ini pasangan Eramas memiliki elektabilitas yang lebih tinggi dibanding pasangan Djoss yakni 43,3 Persen berbanding 33,3 persen. Sedangkan 23,4 persen warga masih merahasiakan pilihannya. Direktur Citra Publik Advertising, anak perusahaan Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Ade Mulyana menjelaskan keunggulan pasangan Eramas justru terletak pada segmen besar yakni pemilih pada Suku Jawa dan juga pemilih muslim.

Dalam persentase yang dipaparkan, hasil survey pada pemilih segmen Suku Jawa persentase pemilih Eramas mencapai 58 persen sedangkan Eramas hanya 18,1 persen. Kemudian pada Suku Melayu juga hasil telak terjadi yakni Eramas mendapat 66,0 persen sedangkan Djoss hanya 10,0 persen.

Pasangan Djoss sebenarnya juga memiliki persentase yang tinggi pada beberapa suku besar lainnya di Sumut yakni suku Batak dan Nias. Akan tetapi persentase keduanya pada segmen ini justru dapat dikatakan berimbang. Pada suku Batak pemilih Djoss mencapai 46,9 persen sedangkan Eramas mendapat 35,1 persen. Hal yang telak hanya pada segmen Suku Nias dimana Djoss memperoleh 49,2 persen dan Eramas hanya 13,1 persen.

Kondisi saling "bersahutan" terjadi pada segmen pemilih berdasarkan agama. Pemilih beragama Islam 59,2 persen memilih Eramas sedangkan Djoss hanya 24,0 persen. Sebaliknya pemilih beragama Kristen 72,3 persen memilih Djoss dan Eramas hanya 8,6 persen.

"Dua segmen besar ini membuat pasangan Eramas jauh unggul atas Djoss," katanya.[rgu]

Sumber : RMOL

Read More

Kamis, 15 Februari 2018

NAHLOH! Pilgub Sumut, Ijazah Wakil Djarot Sihar Sitorus DIGUGAT

15 Februari 0

NAHLOH! Pilgub Sumut, Ijazah Wakil Djarot Sihar Sitorus DIGUGAT


BANDARpost, Komisi Pemilihan Umum telah menetapkan pasangan calon yang akan bertarung dalam pemilihan gubernur Sumatera Utara 2018. Pasangan Edy Rahmayadi dan Musa Rajeckshah akan berhadapan dengan pasangan Djarot Saiful Hidayat dan Sihar Sitorus.

Namun setelah ditetapkan, Sihar Sitorus yang mendampingi Djarot Saiful Hidayat, dilaporkan ke Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Sumatera Utara. Perkaranya terkait surat pengganti ijazah Sihar Sitorus yang dianggap tidak sesuai Peratura Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 29 tahun 2014.

Pelapornya adalah Hamdan Noor Manik. "Ini ijazah tidak sesuai dengan peraturan kita. Ini saya laporkan KPU-nya", ujar Hamdan di Kantor Bawaslu pada Rabu, 14 Februari 2018.

Hamdan menjelaskan jika dalam surat pengganti ijazah yang diserahkan Sihar Sitorus, tidak dilengkapi dengan nomor seri ijazah. Menurut dia, hal tersebut sesuai dengan Permendikbud tentang pengesahan fotocopy ijazah/STTB/ surat keterangan pengganti ijazah/STTB dan penerbitan surat keterangan pengganti ijazah jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Hamdan yang juga diketahui sebagai adik kandung mantan Ketua KPU RI, almarhum Husni Kamil Malik, berkeinginan agar KPU Sumut melakukan verifikasi ulang terhadap ijazah para paslon. Harapannya, Bawaslu dapat mengakomodir laporan yang dibuat.

Dinamika yang terjadi saat ini, menurut Hamdan, dapat memicu gejolak sosial. Apalagi setelah salah satu pasangan calon, JR Saragih dan Ance Selian tidak lolos untuk maju dalam pilgub Sumatera Utara karena persoalan ijazah.

Ketika ditanyai apakah dirinya terkait dengan salah satu calon, Hamdan dengan tegas membantahnya "Saya hanya mengamati perubahan dinamika sepanjang proses di Pilgub Sumut dan ketidakfairan KPU dalam penelitian ijazah," ujarnya.

KPU Sumut telah menetapkan dua paslon dalam pilgub Sumut. Keduanya adalah Djarot-Sihar dan Edy-Ijeck. Pasangan JR Saragih dan Ance Selian dinyatakan gagal menjadi paslon.

Pasangan ini pun melakukan gugatan atas putusan KPU. JR Saragih dan Ance Selian melakukan gugatan siang tadi ke Bawaslu yang diwakili oleh kuasa hukum.

Sumber: Tempo

Read More

Rabu, 14 Februari 2018

JR Saragih-Ance Gugur, Pilgub Sumut Head to Head Edy Vs Djarot

14 Februari 0

JR Saragih-Ance Gugur, Pilgub Sumut Head to Head Edy Vs Djarot

BANDARpost , Medan -Dua pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur Sumatera Utara yang dinyatakan lolos mendapatkan nomor urut untuk mengikuti Pilkada serentak 2018. 

Dari hasil pengundian, pasangan Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah (Ijeck) memperoleh nomor urut 1, sedangkan pasangan Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus mendapatkan nomor urut 2.

Nomor urut itu merupakan hasil pengundian pada rapat pleno terbuka KPU Sumut di Hotel Grand Mercure Medan, Selasa (13/2/2018) sore. Pengundian dilakukan dengan cara dua kali pencabutan nomor.

Awalnya dua calon wakil gubernur bersamaan mencabut nomor untuk menentukan urutan pencabutan nomor. Musa Rajekshah mendapatkan nomor 1, sedangkan Sihar Sitorus mendapatkan nomor 2.

Berdasarkan urutan itu, Edy Rahmayadi pun mendapat giliran pertama mengambil satu dari dua gulungan yang disediakan dalam kotak kaca. Djarot mengambil satu gulungan yang tersisa.

Hasil dari pencabutan nomor itu, Edy-Ijeck mendapat nomor 1. Sementara Djarot-Sihar mendapat nomor 2.

Pasangan nomor urut 1, Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah (Eramas) didukung koalisi enam partai politik (parpol), yaitu Gerindra, PKS, PAN, Golkar, NasDem, dan Hanura, yang menguasai 60 kursi di DPRD Sumut.

Pasangan nomor urut 2, Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus (Djoss) diusung PDIP dan PPP yang menguasai 20 kursi di DPRD Sumut.

Pertarungan antara kedua pasangan calon ini diprediksi bakal menarik. Selain dua poros berlawanan yang mengusung, sosok kedua cagub juga cukup ternama.

Edy Rahmayadi merupakan mantan Pangkostrad. Musa Rajekshah dikenal sebagai pengusaha muda di Kota Medan. Djarot merupakan bekas Gubernur DKI Jakarta yang gagal untuk maju kembali bersama Ahok. 

JR Saragih-Ance tak Lolos

Sebelumnya, KPU Sumatera Utara menetapkan dua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur dalam Rapat Pleno Terbuka Pengumuman dan Penetapan Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumut 2018-2023 di Ballroom Hotel Grand Mercure Maha Cipta Jalan Perintis Kemerdekaan, Medan, Senin (12/2/2018).

Kedua pasangan yang lolos adalah Edy Rahmayadi dan pasangannya, Musa Rajekshah, serta pasangan Djarot Saiful Hidayat dan Sihar Sitorus.

Sementara pasangan JR Saragih dan Ance Selian yang diusung Partai Demokrat dan PKB dinyatakan tidak lolos karena berkas persyaratan JR Saragih sebagai bakal calon gubernur Sumut tidak memenuhi syarat.

"Sesuai dengan surat Dinas Pendidikan Pemprov DKI Jakarta Nomor 1454/1.851.623 Tanggal 22 Januari 2018 pada poin empat menyatakan bahwa Dinas Pendidikan Pemprov DKI Jakarta tidak pernah melegalisir atau mengesahkan ijazah atau STTB SMA Nomor 1 OC Oh 0373795 Tahun 1990 atas nama Jopinus Saragih," ujar Komisioner KPU Sumut Benget Silitonga.

red: abu faza/dbs

Sumber : SI Online

Read More

Senin, 12 Februari 2018

KPU Gugurkan Calon Dari Demokrat, Gerindra: Jangan Sampai Ada Sabotase Politik Dalam PilGub Sumut

12 Februari 0

KPU Gugurkan Calon Dari Demokrat, Gerindra: Jangan Sampai Ada Sabotase Politik Dalam PilGub Sumut


BANDARpost, Pasangan calon gubernur Sumatera Utara yang diusung oleh Partai Demokrat, bersama PKB dan PKPI, JR Saragih-Ance Silaen digugurkan pencalonannya oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatera Utara.

Partai Demokrat menilai Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatera Utara telah mengabaikan aturan penyelenggaraan pemilihan kepala daerah (pilkada) dengan menggugurkan pencalonan pasangan JR Saragih-Ance Silean di Pilkada Sumut 2018.

Sekretaris Departemen Dalam Negeri DPP Partai Demokrat, Abdullah Rasyid di Jakarta, Senin 12 Februari 2018 menjelaskan alasan digugurkannya JR Saragih dan Ance.

"Dalam rapat pleno penetapan calon di Grand Mercure Hotel, Medan hari ini, calon Partai Demokrat tidak memenuhi syarat (TMS). Alasannya, calon kami tidak menyertakan fotokopian ijazah yang dilegalisir. Ini tidak benar, sebab UU tentang Pilkada tidak mengatur seperti itu," ungkap Abdullah Rasyid.

Rasyid menjelaskan UU tentang Pilkada mengamanatkan paslon harus menyelesaikan pendidikan SLTA/sederajat, yang dibuktikan dengan ijazah. Dan tidak ada klausul yang menyebutkan adanya syarat legalisir atas penyelesaian pendidikan dimaksud.

Hal lainnya, lanjut Rasyid, ada dua kondisi objektif yang juga diabaikan oleh KPU Sumut. Pertama, JR Saragih adalah Bupati Simalungun dua periode. Saat maju mencalonkan diri di Pilkada Simalungun, hal seperti ini juga sudah 'dimainkan' oleh KPU. Dan, ketika itu terbit putusan Mahkamah Agung (MA) yang menyatakan ijazah JR Saragih sah alias legal.

Kedua, dalam konteks mendaftarkan diri sebagai calon gubernur Sumut, JR Saragih juga sudah memegang surat keterangan dari Kepala Dinas Pendidikan Nasional (Diknas) DKI Jakarta, yang menyatakan ijazah sudah dilegalisir.

"Nyatanya kondisi objektif tersebut tidak dianggap sama sekali oleh KPU. Untuk itu, Partai Demokrat akan menempuh jalur hukum demi tegaknya aturan dan rasa keadilan dalam penyelenggaraan Pilgub Sumut tahun ini," demikian tutur Rasyid.

Sumber: RMOL

--------

Menanggapi digugurkannya calon gubernur yang diusung Partai Demokrat, kader Gerindra Habiburokhman, SH memberikan reaksi keras.

Saya berharap jangan sampai ada sabotase politik dlm Pilgub Sumut, jangan sampai ada diskualifikasi pasangan calon karena intervensi politik.

— Habiburokhman (@habiburokhman) February 12, 2018


Info dari Lawyer Grd di Sumut, Ijasah asli Pak JR Ada, tapi diskulifikasi karena legalisir gak ada ? Lah bgm ini

— Habiburokhman (@habiburokhman) February 12, 2018

Beberapa warganet pun turut menanggapi keputusan KPU Sumut untuk menggugurkan pasangan calon Gubernur Sumut JR Saragih dan Ance Silaen.

— S0EY0T0 (@soeyoto1) February 12, 2018

— Haji Umar Hasibuan (@Umar_Hasibuan_) February 12, 2018

— Republik Dagelan (@panca66) February 12, 2018

gue dah pradiksi.... ketika kalah di Jakarta.... mereka cari celah... karena yang satu dari angkatan yang satu dari pengusaha... jelas org batak pasti pilih dari angkatan untuk jadi pemimpin daerah... yang pengusaha pasti ditinggalkan.... itu pradiksi gue dari awal.... https://t.co/S4tfV4kbX8

— #HidupMuliaMatiSahid (@mirza_makmur) February 12, 2018

seperti Pilkada DKI Jakarta pemainnya ya itu itu aja.... takut kalah lagi karena pemainnya juga pernah kalah di Jakarta cuma pengen jadi, kebelet pengen jadi pemimpin daerah....... https://t.co/LWgWFlG8aT

— #HidupMuliaMatiSahid (@mirza_makmur) February 12, 2018

Diskualifikasi JR Saragih-Ance ini mengandung sesuatu yg jahat. Pernah jadi Bupati itu artinya syarat administrasinya pasti terpenuhi. Lha kok sekarang jadi masalah? Ini mah nyari" perkara. Kayak perkara di republik ini kurang aja. Huh!

— Pelan-pelan, Ardi! (@awemany) February 12, 2018


Sumber :Portal Islam 

Read More

Selasa, 06 Februari 2018

Survei Pilgub Sumut: Elektabilitas Edy-Ijek 33,1% dan Djarot-Sihar 19,2%

06 Februari 0

Survei Pilgub Sumut: Elektabilitas Edy-Ijek 33,1% dan Djarot-Sihar 19,2%


Masjid Raya

BANDARpost, Edy Rahmayadi dan Musa Rajeckshah (Edy-Ijek) sebagai pasangan calon gubernur Sumatera Utara (Sumut) diusung banyak partai politik tidak sia-sia. Hasil survei terkini menunjukkan elektabilitas pasangan berada di atas kandidat lain.

Media Survei Nasional (Median) melakukan survei terhadap Pilgub Sumut. Ditemukan elektabilitas Edy-Ijek ada di urutan pertama dengan persentase 33,1 persen. Di bawahnya ada Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus 19,2 persen.

Sementara duet JR Saragih-Ance Selian berada di urutan paling buncit dengan elektabilitas 10,5 persen. Sedangkan yang belum menetukan pilihan 37,2 persen. Persentase tersebut setelah peneliti mengajukan pertanyaan kepada responden, tentang siapakah yang akan dipilih sebagai gubernur dan wakil gubernur bila pilkada digelar hari ini.

“Jawaban mereka 33,1 persen akan memilih Edy Rahmayadi-Ijek; 19,2 persen akan memilih Djarot-Sihar Sitorus; 10,5 persen akan memilih JR. Saragih-Ance. Sedangkan 37,2 persen masih belum menentukan pilihan,” kata Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun dalam siaran persnya, Selasa (6/2/2018).

Dari sisi ketokohan, kata Rico, populeritas ketiga pasangan tersebut tetap masih dipegang Edy Rahmayadi pada urutan pertama. Begitu pula dari calon wakil gubernur, sosok Musa Rajekshah juga berada di urutan pertama.

“Ketika kami tanyakan, apakah Anda mendengar nama-nama tokoh ini, sambil menyebutkan nama calon gubernur dan calon wakil gubernur. Edy Rahmayadi menempati peringkat pertama dengan popularitas 74,5 persen, diikuti Djarot saiful Hidayat 72,1 persen, JR. Saragih 59,8 persen, Musa Rajeckshah 35,5 persen, Sihar Sitorus 16,9 persen, dan Ance Selian 7,0 persen,” katanya.

Survei dilakukan pada 16-25 Januari 2018 dengan sampel 1.200 warga Sumut yang telah memiliki hak pilih. Teknik menggunakan multistage random sampling, dengan margin of error sebesar 3,4% pada tingkat kepercayaan 95%, dan quality control 20% dari sampel yang ada.

Pasangan Edy-Ijeck ini didukung sejumlah partai politik. Mulai dari PKS, Gerindra, Golkar, PAN, Nasdem, Hanura, hingga Perindo. Sementara Djarot-Sihar didukung PDIP dan PPP, serta R Saragih-Ance Selian Demokrat, PKB dan PKPI.

Sumber : Dakwah Media

Read More

Sabtu, 27 Januari 2018

Belum Dimulai, Pilgub Sumut Sudah 'Usai': Ada yang Kalah Sebelum Bertanding

27 Januari 0

Belum Dimulai, Pilgub Sumut Sudah 'Usai': Ada yang Kalah Sebelum Bertanding


BANDARpost,  Tampaknya, kampanye pilgub Sumatera Utara sudah melewati klimaksnya walaupun periode kampanye resmi belum dimulai. Bahkan, banyak orang yang bercanda bahwa “gubenurnya sudah terpilih”.

Begitulah situasi di provinsi yang terkenal dengan keberagaman dan keberagamaannya itu. Pertarungan bagaikan sudah selesai, padahal arena pergulatan belum dibuka. Lighting (lampu) ring tinju belum dinyalakan. “Yaumul hisab” (hari perhitungan) itu masih jauh, 27 Juni 2018.

Tetapi, rakyat di Sumut merasa seolah mereka sudah punya gubernur baru. Terasa seakan-akan hari pencoblosan telah berlalu. Terasa seakan-akan Pak Djarot Saiful Hidayat sudah kembali ke Jakarta membawa pulang kekalahan telaknya di tangan Edy Rahmayadi.

Itulah suasana yang berlangsung. Foregone conclusion. Sudah diputuskan. Banyak orang yang sudah menyimpulkan hasil pilkada ini.

Apakah situasi seperti bagus atau tidak bagi rakyat Sumut khususnya, atau bagi Indonesia pada umumnya?

Menurut hemat saya, kalau proses pilkada bisa direkayasa seperti yang sedang berlangsung di Sumut saat ini, saya pastikan sangat elok bagi rakyat Sumut. Biaya pilkada bisa ditekan menjadi relatif sangat kecil. Sebab, tim paslon “pasti menang” tidak perlu lagi heboh menyiapkan kampanye yang berbiaya tinggi. Paslon “pasti” itu tidak usah membentuk kelompok relawan yang jumlahnya belasan ribu orang dengan honor harian yang bisa membuat seorang calon bangkrut.

Disamping itu, rakyat Sumut tidak terlalu terkuras perhatiannya. Memberikan perhatian terhadap pilkada bisa berakumulasi menjadi sumber ketegangan. Jadi, saya berpendapat suasana pilkada model Sumut 2018 ini, memberikan banyak kemaslahatan. Misalnya, tidak perlu hiruk-pikuk yang biasanya memancing perselisihan.

Kalaulah semua pilkada bisa seperti entengnya menuju kemenangan di pilgub Sumut kali ini, niscaya Indonesia bisa lepas dari kasus-kasus dana relawan sosialisasi dan kampanye yang selalu ratusan miliar rupiah. Jumlah yang acapkali tak bisa dijangkau oleh orang-orang yang memiliki kemampuan memimpin.

Kalau bisa kita buat pilkada-pilkada di daerah lain sama seperti di Sumut hari ini, hampir pasti kerawanan yang terkait dengan keamanan, bisa ditiadakan.

Tetapi, sayangnya, dana perahu untuk parpol-parpol pendukung kelihatannya masih sulit untuk ditiadakan. Tentunya ini aspek lain lagi.

Penulis: Asyari Usman

Sumber : PORTAL ISLAM

Read More

Kamis, 11 Januari 2018

Poster Romi Dibakar, Massa PPP Sumut Ogah Dukung Djarot-Sihar

11 Januari 0

Poster Romi Dibakar, Massa PPP Sumut Ogah Dukung Djarot-Sihar


BANDARpost – Para pengurus wilayah dan cabang Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Sumut menolak dukungan yang diberikan pengurus pusat pada Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus. Mereka menilai dukungan ini tidak sesuai dengan prinsip yang dianut partai tersebut.

Aksi penolakan ini ditunjukkan dengan membakar gambar Ketua Umum DPP PPP Romahurmuziy di kantor DPW PPP Sumut, Jl Raden Saleh, Medan, Rabu (10/1). Mereka merobek spanduk bergambar Romahurmuziy kemudian membakarnya sebagai bentuk protes.

Ketua DPC PPP Langkat, Rahmat Rinaldi mengklaim, suara penolakan Djarot-Sihar berasal dari seluruh pengurus DPC di Sumut. Menurutnya, kader PPP Sumut kesal dengan keputusan pengurus pusat.

“Ini penolakan bersama akibat kekecewaan para kader terhadap keputusan DPP terkait Pilkada Sumut. Kami seluruhnya hari ini menolak keputusan itu,” kata Rahmat yang mengaku mewakili pengurus seluruh DPC PPP se-Sumut, Rabu (10/1).

Rahmat mengatakan, mereka menolak pencalonan Sihar sebagai wakil Djarot. Sebagai Partai Islam, mereka tidak bisa menerima adanya pasangan ‘pelangi’. Hal ini, menurutnya, tentu melanggar prinsip partai.

Rahmat pun menegaskan, mereka tidak akan membantu memenangkan Djarot-Sihar. “Kami tidak akan mendukung proses pemenangan. Secara faktual itu memang sudah dilakukan (didaftarkan ke KPU Sumut). Tapi pemenangan butuh tim yang secara struktural. Dan hari ini kami menyatakan lebih baik diam,” ujar dia.

Sebelumnya, penolakan disampaikan Ketua DPW PPP Sumut, Yulizar Parlagutan Lubis. Dia menegaskan tetap menginginkan Djarot berpasangan dengan figur Muslim. Bahkan, hingga hari ini, dia masih berada di kantor DPP di Jakarta untuk mempertanyakan keputusan itu.

Namun, penolakan ini berbuntut pada pencopotan dirinya. Jabatan Ketua DPW Sumut diserahkan pada Ihsan Nahrowi yang juga menjabat Ketua DPP PPP Korwil Sumatera. Keputusan ini tertuang dalam SK Nomor 1559/KPTS/DPP/1/2018.

Ihsan pun tampak hadir mendampingi Djarot-Sihar mendaftar ke KPU Sumut hari ini, Rabu (10/1). Dia diberi kuasa untuk melakukan pendaftaran dan menandatangani berkas-berkas dalam pencalonan Djarot-Sihar.(kl/rol)

Sumber :rol, Eramuslim 

Read More

Sabtu, 06 Januari 2018

PKS Bertekad Menangkan Edy-Ijeck d Sumut

06 Januari 0

PKS Bertekad Menangkan Edy-Ijeck d Sumut


BANDARpost , MEDAN -- DPW Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sumut mendeklarasikan dukungan terhadap Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah alias Ijeck untuk Pilgub 2018, Sabtu (6/1). Tak hanya deklarasi, PKS juga menggelar pengukuhan...

Kunjungi website

REPUBLIKA.CO.ID, MEDAN -- DPW Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sumut mendeklarasikan dukungan terhadap Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah alias Ijeck untuk Pilgub 2018, Sabtu (6/1). Tak hanya deklarasi, PKS juga menggelar pengukuhan Tim Pemenangan pasangan ini.

Ketua DPW PKS Sumut sekaligus Ketua Tim Pemenangan Sumut, M Hafez mengatakan, tim ini terdiri dari kader PKS Muda yang tersebar di 33 kabupaten/kota. Mereka akan bekerja di bawah arahan koordinator masing-masing. "Tim pemenangan ini akan bekerja keras untuk memenangkan Pak Edy dan Pak Ijeck sebagai gubernur dan wakil gubernur Sumut periode 2018-2023," kata Hafez, Sabtu (6/1).

Sementara itu, Edy Rahmayadi mengaku akan membangun dan menyejahterakan Sumut bersama-sama dengan partai politik. Atas dasar inilah, memperbanyak dukungan anggota DPR dari tingkat pusat hingga kabupaten/kota harus dilakukan. "Untuk itu, PKS jangan pernah berhenti kita bersama. Karena seperti itu sistem demokrasi kita, bukan mau banyak-banyakan di DPR," kata Edy.

Edy mengatakan, sebagai putra daerah yang menghabiskan masa kecil dan tumbuh besar di Sumut, dia berharap diizinkan untuk membangun provinsi ini. Dia pun berharap banyak pada PKS dalam Pilgub Sumut 2018.

"Yang pasti kami sangat membutuhkan jaringan sampai ke tingkat-tingkat desa yang dimiliki PKS. Ini untuk mencari dan menggaet semua untuk pemenangan ini," ujar dia.

Hingga kini, Edy-Ijeck telah mengantongi 50 kursi di DPRD Sumut yang berasal dari Golkar (17 kursi), Gerindra (13 kursi), PKS (9 kursi), PAN (6 kursi), dan Nasdem (5). Jumlah ini telah memenuhi syarat minimal dukungan 20 kursi untuk maju sebagai pasangan calon gubernur dan wakil gubernur. Partai-partai tersebut rencananya akan secara resmi mendeklarasikan dukungan untuk Edy-Ijeck di Lapangan Merdeka Medan, Ahad (7/1) besok. n Issha Harruma

Sumber :Republika.co.id 

Read More

Jumat, 05 Januari 2018

Memelas, Megawati: Tolonglah, Warga Sumut Terima Djarot

05 Januari 0

Memelas, Megawati: Tolonglah, Warga Sumut Terima Djarot

BANDARpost, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menawarkan Djarot Saiful Hidayat sebagai calon gubernur kepada masyaralat Sumatera Utara."Bagaimana kalau saya pilih Djarot?" kata Megawati di Kantor DPP PDIP, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (4/1/2018).Megawati lalu meminta agarmasyarakat Sumatera Utarauntuk menerima mantan Gubernur DKI Jakarta itu."Mudah-mudahan rakyat Sumut bisa melihat. Tolonglah terima Pak Djarot. Di sana kan banyak Jawanya," kata Megawati.Megawati menyodorkan Djarot sebagai calon gubernur Sumatera Utara bukan tanpa alasan. Menurut Megawati, selama ini pemimpin di Sumut selalu memiliki masalah hukum."Gubernur di Sumut selalu punya permasalahan hukum, kenapa ya? Makannya, saya pikir orang yang dekat kok saya lupakan, jadi saya masukkan Pak Djarot ke sana," kata Megawati.

Sumber : liputan6.com

Read More

Kamis, 04 Januari 2018

Letjen Edy Rahmayadi: Insya Allah Saya Jadi Kader PKS

04 Januari 0

Letjen Edy Rahmayadi: Insya Allah Saya Jadi Kader PKS


Letjen Edy Rahmayadi mengenakan jaket PKS (Merdeka.com)

BANDARpost, Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) Letjen Edy Rahmayadi menyatakan dirinya sudah mundur dari TNI dan kini menjadi kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Hal itu disampaikannya dalam acara Ikrar Pemenangan Calon Kepala Daerah di Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis (4/1/2018).

Edy mengatakan dirinya didukung oleh lima partai politik untuk maju sebagai Calon Gubernur Sumatera Utara. Kelima partai itu adalah PKS, Gerindra, PAN, Golkar dan Nasdem.

"Ya Insya Allah, ini kan sudah jadi kader PKS ini, sudah pake ini," kata Letjen Edy sambil menunjukkan logo PKS di saku jaket putihnya.

Ia juga mengatakan, nantinya akan ada deklarasi di Sumatera Utara pada tanggal 7 Januari 2018. [Ibnu K/]

Sumber :Tarbiyah.net

Read More

Sabtu, 30 Desember 2017

Golkar Pertimbangkan Usung Letjen Edi Rahmayadi di Pilkada Sumut

30 Desember 0

Golkar Pertimbangkan Usung Letjen Edi Rahmayadi di Pilkada Sumut

BANDARpost, Koordinator Bidang Pemenangan Pemilu Partai Golkar Wilayah Indonesia I DPP Partai Golkar Nusron Wahid, mengatakan saat ini Partai Golkar tengah mengevaluasi dukungan kepada Tengku Ery Nuradi sebagai calon gubernur di Pilkada Sumatera Utara (Sumut) 2018.

"Sekarang sedang proses mengevaluasi dukungan terhadap Tengku Erry Nuradi," kata Nusron kepada Liputan6.com di Jakarta, Jumat 29 Desember 2017.

Nusron menyebut sebagai alternatif, partai berlambang pohon beringin itu akan mengusung Pangkostrad Letjen Edi Rahmayadi. Menurut dia, Edi merupakan sosok yang tegas dan berani dalam mengambil resiko serta keputusan.

"Kalau kita lihat rekam jejak Letjen Edi Rahmayadi, kita meyakini bahwa sosok seperti itu yang dibutuhkan untuk Sumut," ujar dia.

Tak hanya itu, Nusron menyatakan bahwa Edi juga memiliki sejarah panjang dengan partai yang kini dipimpin Airlangga Hartarto itu. Seperti halnya keluarga besar Edi merupakan bagian dari Partai Golkar.

Karena hal itu, dia mengharapkan kedepannya kedua belah pihak dapat bekerjasama dalam memajukan Sumut.

"Kami yakin Pak Edi dapat ngemong kader Golkar di Sumatera Utara. Apalagi beliau figur yang punya hubungan sejarah dan batin dengan Golkar secara mendalam," jelas Nusron.

Sumber : Liputan6

Read More

Selasa, 26 Desember 2017

Sambangi Sumut, Djarot Ngaku Calon Kuat PDIP di Pilgub 2018

26 Desember 0

Sambangi Sumut, Djarot Ngaku Calon Kuat PDIP di Pilgub 2018


BANDARpost,  Gubernur DKI Jakarta, Djarot Syaiful Hidayat, mengaku menjadi salah satu kandidat terkuat untuk diusung PDI Perjuangan dalam Pilgub Sumatra Utara (Sumut) 2018. Hal ini disampaikannya saat berkonsolidasi dengan pengurus partai di kota Pematang Siantar, Sumut, Selasa (26/12).

"Saya dengar, saya masuk radar yang cukup kuat untuk dibahas di DPP partai untuk ditugaskan di Sumut. Karena radar yang sangat kuat itu saya datang ke sini untuk memastikan sinyalnya ini kuat nggak, sinyalnya ini nyambung nggak di bawah," kata Djarot, Selasa (26/12).

Meski begitu, Djarot mengatakan, masih ada sejumlah proses yang akan dilakukan oleh partai dalam mengusung jagoan di Pilgub Sumut kelak. Salah satunya, yakni komunikasi dengan partai politik lain yang hingga kini terus dilakukan.

"Karena PDI Perjuangan kurang kursinya maka harus berkoalisi dengan partai lain. Makanya nanti akan kami godok di tingkat pusat. Mudah-mudahan Insya Allah Januari akan diumumkan," ujar dia.

Bersama keluarganya, Djarot tiba di kota Medan, Senin (25/12) malam. Selain Pematang Siantar, dia pun dijadwalkan akan menyambangi sejumlah kabupaten/kota lain di Sumut.

Mantan orang nomor satu di ibu kota negara itu direncanakan akan berada di Sumut hingga Kamis (28/12). Selain untuk tujuan politik, Djarot mengaku juga mengajak keluarganya untuk berlibur. Dia direncanakan akan mengunjungi Danau Toba dan Pulau Samosir sebelum akhirnya kembali ke Jakarta melalui bandara Silangit, Tapanuli Utara.

Sumber : Republika.co.id 


Read More