BANDAR post: KHAZANAH

Hot

Tampilkan postingan dengan label KHAZANAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KHAZANAH. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Juni 2019

Ingatkan Kaum Hawa: Wanita-wanita Berpakaian Tapi Telanjang

10 Juni 0

Ingatkan Kaum Hawa: Wanita-wanita Berpakaian Tapi Telanjang

BABDARpost - KETIKA kita membuka lembaran surat kabar, tabloid, majalah wanita, atau saluran televisi, pemandangan yang satu ini akan kerap kita temukan. Fenomena wanita dengan pakaian seksi yang membentuk garis tubuh dan menggoda kaun Adam telah menjadi hal yang lazim.
Kini fenomena itu menjadi pemandangan bukan hanya di perkotaan, bahkan saat ini di daerah dan desa-desa terpencil sekalipun budaya membuka aurat telah menjadi pemandangan yang lumrah.
Rasulullah bersabda: "Ada dua macam penduduk neraka yang belum pernah kulihat, orang-orang yang membawa cemeti seperti ekor sapi yang mereka gunakan untuk mencambuki manusia dan wanita-wanita berpakaian tapi telanjang, yang bergoyang dan membuat orang lain bergoyang, kepala mereka seperti punuk unta yang miring, mereka tidak akan masuk surga dan tidak mencium baunya, padahal bau surga itu bisa dicium dari jarak perjalanan sekian dan sekian." ( HR.Muslim)
Imam An-Nawawi memberikan penjelasan yang beragam tentang makna wanita-wanita berpakaian tapi telanjang, adalah:
Pertama: Mereka adalah wanita-wanita yang berpakaian (menggunakan) nikmat Allah, namun telanjang (tidak menggunakan) dari berbuat syukur.
Kedua: Mereka adalah wanita yang berpakaian namun tidak berperilaku taat dan tidak memperhatikan urusan akhiratnya.
Ketiga: Mengenakan pakaian tetapi tampak sebagaian anggota badannya untuk menampakkan kecantikannya. Mereka itu berpakaian tetapi telanjang.
Keempat: Mengenakan pakaian tipis yang masih memperlihatkan warna kulitnya dan bentuk tubuhnya. Mereka ini berpakaian tetapi telanjang.
Ketahuilah wanita, tidak ada pakaian yang abadi dalam hidup kita. Semua hanya hiasan diri yang bila kita tidak bijak menggunakannya, pakaian-pakaian itulah yang akan mengantarkan kita ke neraka-Nya kelak. Ketahuilah, kafanlah pakaian terakhir kita, penutup seluruh tubuh kita yang telah membeku. Kita kembali dengan seluruh tubuh tertutup, sungguh tidak adil jika kita membukanya, membiarkan orang-orang lain menikmati tubuh kita. Jagalah sebaik mungkin segala titipan-Nya ini sampai kita kembali pada sang pemilik jiwa. [jft/Inilah]
Sumber: Konfrontasi

Read More

Jumat, 31 Mei 2019

Teka-teki Para Pembunuh Bayaran dan Senjata Jenderal Soenarko by Hersubeno Arief

31 Mei 0
Teka-teki Para Pembunuh Bayaran dan Senjata Jenderal Soenarko by Hersubeno Arief



BANDARpost,Menteri Pertahanan Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu membuat pernyataan mengejutkan soal rencana pembunuhan empat tokoh nasional dan “penyelundupan” senjata oleh mantan Danjen Kopassus Mayjen TNI (Purn) Soenarko.

Pertama, dia tidak yakin ada rencana pembunuhan terhadap empat orang tokoh : Menkopolhukam Jenderal TNI (Purn) Wiranto, Menko Maritim Jenderal Kehormatan Luhut Panjaitan, Kepala BIN Jenderal Pol (Purn) Budi Gunawan dan Staf Khusus Presiden Bidang Intelijen Komjen Pol (Purn) Gories Merre.

Dia menduga ancaman pembunuhan itu hanya gertak sambal. Tak perlu dianggap terlalu serius. “Misalnya kan kita ngomong, nanti gua gebukin lu. Kan belum tentu gebukin. Ya kita tahulah yang namanya politik kan memang begitu,” ujarnya.

Kedua, dia menyatakan senjata yang dimiliki oleh Soenarko bukan senjata selundupan. Dia meyakini senjata itu berupa rampasan dari daerah konflik seperti Timor-Timur atau Aceh.

Menurut Ryamizard Soenarko banyak terlibat dalam operasi-operasi di daerah konflik. “ Kan dia itu perang terus,” tegasnya.

Soal adanya rencana pembunuhan terhadap empat tokoh ini diungkap oleh Wiranto. Bahkan Wiranto menyebut dalang rencana pembunuhan itu diketahui.

Pemasok senjata, eksekutornya dan yang memerntahkan, kata Wiranto juga sudah ditangkap.

Polisi seperti dikatakan Kadiv Humas Mabes Polri sudah menangkap 6 orang tersangka. Mereka hanya disebutkan inisialnya. Namun bila kita rangkaikan dengan penjelasan pengacara Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen, kemungkinan tokoh yang dimaksud Wiranto adalah mantan Kepala Staf Kostrad itu.

Djudju Purwantoro pengacara yang mendampingi Kivlan mengaku, kliennya sejak Rabu (29/5) secara resmi sudah ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka. Kivlan disebut memiliki senjata ilegal dan mengenal 6 orang tersangka yang lebih dulu ditangkap polisi.

Wiranto dan Kivlan selama ini dikenal menjadi seteru. Mereka sering kedapatan bersitegang di muka umum, dan masalahnya menjurus ke personal.
Kivlan mengaku pernah dikerjai oleh Wiranto pada tahun 1998. Dia diperintahkan Wiranto membentuk Pengamanan (Pam) Swakarsa untuk mengimbangi kelompok-kelompok yang ingin menggagalkan Sidang Istimewa MPR.

Saat itu Wiranto yang menjabat sebagai Menhankam/Panglima TNI menjanjikan akan memberi jabatan dan menyiapkan dana operasional Pam Swakarsa.

Namun jabatan tidak pernah diperoleh dan dana Pam Swakarsa sebesar Rp 7-8 miliar harus dia tanggung sendiri. Saat itu melalui Jimly Asshidiqie dia hanya mendapat bantuan sebesar Rp 1.25 miliar. Sisanya harus dia tomboki, sampai-sampai dia harus menjual rumah.

Apakah gara-gara cerita lama itu Kivlan sampai berniat membunuh Wiranto. Atau malah yang terjadi sebaliknya. Huru-hara ini digunakan untuk Pembunuhan karakter Kivlan?

Soal ancaman bunuh membunuh ini belakangan jumlah tokoh yang menjadi target bertambah. Kepala Staf Presiden Moeldoko juga mengaku dia juga masuk dalam daftar. Karena itu pengawalannya oleh kepolisian kini diperketat.

Entah ada hubungannya dengan soal pembunuhan itu atau tidak. Pertengahan Mei lalu di kalangan media beredar surat seleksi untuk menjadi pengawal Moeldoko bagi prajurit di lingkungan Pangdam Jaya.

Masalah serius

Berbeda dengan Ryamizard yang terkesan santai dan tidak terlalu mengganggap serius, di jalur hukum kasusnya bergulir serius.

Soenarko malah sudah lebih dahulu ditangkap aparat gabungan POM TNI dan Polri. Dia juga sudah di tahan polisi dan dititipkan di rumah tahanan militer Guntur, Jakarta.

Soenarko sebagaimana dijelaskan oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyelundupkan senjata jenis M4 Carbine, dua magasine, dan peredam dari Aceh .

Senjata itu rencananya digunakan untuk menyerang aparat dan pengunjuk rasa pada 22 Mei di depan kantor Badan Pengawas Pemilu, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta. “Kalau ada yang tewas, seolah­ olah aparat yang melakukan,” ujar Tito dalam konferensi pers, 21 Mei lalu.

Sebelum penangkapan, Soenarko sudah lebih dulu dilaporkan ke Mabes Polri karena videonya viral. Di depan sejumlah emak-emak yang diduga relawan Paslon 02, Soenarko mengarahkan mereka untuk mengepung istana dan KPU pada tanggal 22 Mei saat KPU mengumumkan hasil penghitungan final suara Pilpres.

Tak lama setelah penangkapan Soenarko di media sosial beredar bantahan dari Kolonel (Purn) Sri Radjasa Chandra. Perwira menengah itu pernah menjadi staf Soenarko saat menjadi Pangdam Iskandar Muda di Banda Aceh (2008-2009).

Soenarko, kata Radjasa, tidak tahu menahu soal pengiriman senjata itu. Selain itu ada beberapa catatan yang menjadi kejanggalan dalam kasus penangkapan Soenarko.

Pertama, senjata yang di expose oleh Kapolri saat konferensi pers adalah M4 baru. Bukan M16A1 laras pendek bekas milik Soenarko dalam kondisi rusak dan tidak laik pakai. Sebagaimana pengakuan Soenarko senjata itu akan diperbaiki dan diserahkan ke Kopassus. Kedua, senjata yang di expose Kapolri atau yang dimiliki Soenarko merupakan senjata serbu laras pendek (karaben) sehingga tidak laik digunakan oleh para penembak jitu (sniper).

Untuk mendudukkan persoalan sejumlah senior militer yang mengenal dekat Soenarko, Jumat (31/5) akan menggelar jumpa pers. Mereka adalah Letjen TNI (Purn) J. Surryo Prabowo Mantan Kepala Staf Umum TNI, Mayjen Zacky Anwar Makarim mantan Kepala Badan Intelijen ABRI, dan Kolonel Sri Radjasa Chandra. Mereka menjadi advokat yang mendapat kuasa hukum dari Soenarko.

Sebagai prajurit komando, Soenarko (Akmil 1978) seperti dikatakan Ryamizard sangat sering berperang. Karakternya sebagai pria Jadel ( Jawa kelahiran Deli) keras dan tegas. Berdasarkan catatan Suryo Prabowo, yuniornya itu terlibat dalam 9 kali operasi militer. Dua diantaranya bersama Suryo.

Ketiga orang anaknya juga lahir saat dia berada di medan tempur. Satu-satunya anak lelakinya, seorang penerbang tempur TNI AU, gugur dalam tugas dan dimakamkan di TPU Kalibata. “Dengan lembaran hidup semacam itu tidak mungkin dia menyelundupkan senjata tidak laik pakai untuk membuat kerusuhan,” tegas Suryo.

Karena masalahnya sudah bergulir ke ranah hukum. Sebaiknya kita tunggu persidangan akan membuat kasusnya menjadi lebih terang.

Benarkah Kivlan Zen dan Sunarko merencanakan pembunuhan dan kerusuhan berdarah pada aksi 22 Mei? Atau ada skenario lain yang tidak (akan) pernah kita ketahui.

Ini adalah perang bintang. Dalam beberapa pekan ke depan, langit politik kita akan penuh kilatan cahaya dan ada kemungkinan selingi suarabguntur yang menggelegar.

Penulis: Hersubeno Arief

Sumber: portal Islam
Read More

Kamis, 30 Mei 2019

HOAX TERBESAR BUKAN MENYEBAR BERITA BOHONG, TAPI MENYEMBUNYIKAN KEBENARAN DARI PUBLIK

30 Mei 0
HOAX TERBESAR BUKAN MENYEBAR BERITA BOHONG, TAPI MENYEMBUNYIKAN KEBENARAN DARI PUBLIK



Oleh: Prof. DR Daniel Mohammad Rosyid

Guru Besar ITS Surabaya


Saat ini Pancasila hanya disebut sambil lalu tapi sudah tidak nyambung dengan konstitusi yg kita pakai saat ini. Juga tidak nyambung dalam praktek berbangsa dan bernegara. Semua cara dihalalkan secara komunistik, sementara kehidupan ekonomi sangat kapitalistik.

Perayaan pertemuan IMF dan WB di Bali Oktober ini dengan biaya nyaris Rp. 1T adalah aksi anti-Pancasila yang paling terang-terangan di tengah ketiadaan dana penanggulangan bencana di Lombok dan di Sulawesi Tengah.

Mengatakan “Saya Pancasila” adalah hoax paling besar. Yang berlaku saat ini adalah UUD2002, bukan UUD1945, karena sudah diamandemen beberapa kali dengan semangat nekolimik.

Mengatakan Islam mengancam Pancasila adalah hoax terbesar kedua. Ini hanya a carefully crafted hoax untuk menyudutkan Islam. Banyak orang lupa, teriakan “Merdeka !” yang pernah dipopulerkan oleh Bung Tomo selalu didahului oleh “Allahu Akbar!”.

Gerakan liar kebohongan ini situasi yang berbahaya. Jika kebohongan dibiarkan merajalela, maka iman apapun diam-diam pergi. Iman mensyaratkan kejujuran. Seorang komunis tulen pun tidak bisa berbohong terus.

Hoax terbesar bukan menyebar berita bohong, tapi menyembunyikan kebenaran dari publik. Jadi yang lebih berbahaya adalah yang tidak dinyatakan secara terbuka di depan publik. Sebuah upaya menyebarkan realitas parsial berkali-kali, sambil menyembunyikan realitas lainnya.

Tapi ada masalah besar saat kita mencoba menghentikan kebohongan yang merajalela ini : masyarakat sudah hampir kehilangan kapasitas berpikir kritis, lalu menerima begitu saja berita apapun yang datang. Kemampuan kritis ini sudah lama dilumpuhkan, justru di sekolah dan kampus. Di sekolah, dan di kampus, murid dan mahasiswa sudah tidak lagi dilatih hidup untuk berpikir bebas, apalagi kritis. Sementara itu dosen sibuk mengejar scopus. Jika tidak terscopus mampus.

Sekolah dan kampus adalah institusi indoktrinasi yang paling kolot saat ini. Jargon Revolusi Industri 4.0 hanya manis di mulut, pahit di pikiran. Berpikir kritis langsung dicap radikal.

Pelajaran berbohong justru dimulai di sekolah. Guru selalu mengharapkan jawaban yang benar, bukan jawaban yang jujur. Jawaban yang jujur tapi keliru langsung dihukum. Sing jujur ajur. Jawaban benar tapi hasil mencontek mendapatkan penghargaan.

Ujian Nasional adalah pembelajaran kebohongan massal saat pencontekan berjamaah dilakukan di bawah perintah guru dan kepala sekolah. Saat seleksi masuk ke jenjang sekolah berikutnya ditentukan oleh hasil UN, maka praktek contek berjamaah ini akan berlangsung terus.

Di tahap akhir trayektori kebohongan ini adalah mutual trust yang hilang antar sesama warga bangsa, terutama para elite nya. Mutual distrust justru akan tumbuh merajalela. Padahal mutual trust adalah modal sosial terpenting bagi eksistensi sebuah bangsa, apalagi bangsa yang bhinneka seperti Indonesia ini. Kebohongan adalah ancaman terbesar bhinneka tunggal ika.

Saya serukan agar kita segera hentikan semua kebohongan ini.

Sumber: viral di WA
Read More

Minggu, 26 Mei 2019

MEMBEDAH SALAFY SEDJATI, KHAWARIJ Teriak KHAWARIJ

26 Mei 0
MEMBEDAH SALAFY SEDJATI, KHAWARIJ Teriak KHAWARIJ



MEMBEDAH SALAFY SEDJATI, KHAWARIJ Teriak KHAWARIJ 

Oleh: Fathi Nasrullah

Saya mau kasih tau sedikit tentang siapa dan gimana orang-orang atau kelompok ini, Sekaligus selayang pandang tentang Salafy secara umum.

Yang pertama adalah orang-orang yang ada di belakang FP ini dan kelompok yang satu ideologi dengannya. (Isi FP di atas postingan mereka tentang wafatnya Ustadz Arifin Ilham -red)

Mereka biasa merasa dan menyebut diri atau kelompoknya sebagai SALAFY SEDJATI. Yaitu satu-satunya kelompok yang berhak menyandang gelar atau nama atau istilah; Salafy.

Mereka menjadikan kelompoknya sebagai tafsir kebenaran tunggal atas nash-nash syariat. Maka itu mereka merasa sebagai muslimnya muslim. Salafynya Salafy. Corenya core. Dan intinya inti. Selain mereka HARAM menyandang gelar Salafy.

Biasanya mereka merupakan orang atau kelompok Salafy yang mengaku-ngaku berafiliasi atau berkiblat pada masyaikh (para syaikh) Salafy dari Yaman. Meski akhir-akhir ini masyaikh Yaman berlepas dari mereka setelah mengerti bahwa fatwa-fatwa mereka sering dikebiri dan disetting dengan keji.

Serta tidak semua Salafy yang belajar di Yaman berkelakuan dan berpemikiran seperti mereka. Tapi bisa kita anggap begitu karena sudah menjadi rahasia umum bahwa dulu mayoritas Salafy yang berafiliasi pada Yaman berideologi demikian meski sekarang tidak lagi.

Ideologi mereka sendiri secara garis besar merupakan campuran antara Murjiahdengan Khawarij.

#Murjiah atau penjilat pada saat berhubungan dengan pemerintah. Bukan sekedar taat dan patuh dalam hal yang baik. Tapi bahkan bersedia mati atau membunuh demi pemerintahan sebuah negeri yang kepala negaranya beragama (atau sekedar mengaku beragama) Islam.

Mereka berpandangan ekstrem:

Ketika sebuah negara pemimpinnya beragama Islam, Maka wajib, Sudah pasti, Mutlak dihukumi sebagai Ulil Amri.

Yaitu Ulil Amri yang dicirikan oleh Islam sebagai menjalankan syariat Islam secara kaffah (penuh, totalitas). Dimana membelanya menjadi kewajiban setiap orang. Bahkan bila mati diatasnya akan digelari syahid. Dan mencela pemimpin negara bisa mengantarkan seseorang kepada murtad kekafiran yang wajib diperangi dan dibunuh.

Mereka sama sekali tidak peduli bentuk atau dasar hukum atau praktek ideologi dan sistem pemerintahan di negara yang mereka tempati. Apakah sekuler. Liberal. Kejawen. Demokrasi. Mix antara Islam dengan demokrasi. Dan isme-isme lainnya.

Pokoknya selama kepala negaranya beragama Islam, Maka itu sudah cukup untuk menggelarinya Ulil Amri perwakilan Allah pada suatu negara.

Bahkan mereka tidak peduli juga apakah si kepala pemerintahan menjalankan syariat Islam untuk pribadi dan keluarganya atau tidak. Cukup dia beragama Islam. Maka sebejat apapun dia adalah Ulil Amri.

Konsekuensinya adalah harus bersedia bunuh membunuh dengan komandonya.

Yang sering terjadi di banyak negara; Mereka akan menjadi anjing-anjing rezim bathil paling setia. Menjilat dan menggigit dengan perintah tuannya.

##Di kesempatan lain mereka bisa seketika beralih ideologi menjadi Khawarij. Yaitu saat berhadapan dengan semua kelompok kaum muslimin lainnya. Karena semua orang Islam di luar kelompok mereka telah dianggap sebagai Ahli bid'ah.

Mereka tidak segan bergembira atas kematian seorang muslim. Bahkan di Libya, Mereka membunuhi para mujahidin yang melawan Haftar, Menggali kuburannya, Dan mengarak mayatnya di jalan-jalan.

Di Indonesia sendiri mereka berkamuflase, agak sedikit menghaluskan kalimat dan tudingan kafir atau murtad itu dengan kalimat Ahli Bid'ah. Karena dalam prakteknya, ketika mereka menuduh seseorang sebagai ahli bid'ah, maka hak-hak orang itu sebagai sesama muslim, sudah hilang di mata mereka alias dianggap murtad.

Kehormatannya layak dihancurkan sehancur-hancurnya. Bila perlu dengan membuat berita-berita dusta. Fitnah keji membabi buta. Fatwa-fatwa yang dikebiri dan disetir. Serta dengan omongan ngelantur ngalor ngidul ga jelas ujung pangkalnya.

Mereka mengharamkan seorang perempuan Salafy Sedjati menikahi Ahli Bid'ah. Tapi boleh bagi laki-laki Salafy Sedjati menikahi perempuan ahli bid'ah dengan berdalil bolehnya seorang muslim menikahi perempuan ahli kitab.

Mereka juga menganggap seorang istri otomatis telah bercerai dari suaminya bila mereka anggap dia ahli bid'ah. Dan kedudukan si suami sama dengan murtaddin najis mugholadhoh.

Mereka dengan mudah tanpa sedikitpun perasaan bersalah akan membawa lari harta seorang muslim di luar kelompoknya. Menipunya. Membohonginya. Dan mencuranginya dalam muamalah. Dari omongan-omongan di internal mereka sendiri yang sudah tersebar luas, Sambil tertawa-tawa mereka bilang harta-harta yang diambil dengan kedzaliman itu sebagai "Fa'i" atau "Ghanimah" alias rampasan perang.

Yang repot dari mereka ini adalah satu hal saja: SEMUA ORANG ISLAM DI LUAR KELOMPOK MEREKA TELAH DIANGGAP AHLI BID'AH.

Sedangkan sebagaimana saya sebutkan diatas, Orang yang sudah mereka tuduh sebagai ahli bid'ah, Dalam praktek muamalahnya akan mereka perlakukan setara dengan murtad kafir.

Ciri mereka ada beberapa:

(1) Benci sekali dengan kelompok lain. Terutama Ikhwanul Muslimin. Dan (lucunya) juga kelompok lain yang mengklaim Salafy.

Contoh kasus kebencian pada kelompok Salafy lainnya adalah kebencian mereka yang teramat dalam terhadap Salafy yang berafiliasi masyaikh Yordania serta Saudi. Yang perwujudannya di Indonesia adalah kelompok Salafy yang berafiliasi radio Rodja.

- Dulu Salafy Sedjati ini hampir-hampir mengkafirkan Salafy Rodja hanya karena masalah dana bantuan dari Timur Tengah.

- Kemudian hampir-hampir mengkafirkan Salafy Rodja hanya karena mendirikan organisasi resmi terdaftar di pemerintah dan menarik SPP di sekolah-sekolahnya

- Kemudian hampir-hampir mengkafirkan lagi hanya karena masalah penggunaan/pendirian radio sebagai fasilitas dakwah Salafy Rodja.

- Kemudian hampir-hampir mengkafirkan lagi karena Rodja membuat televisi.

- Dan terakhir hampir-hampir mengkafirkan lagi karena Rodja mendatangkan syaikh-syaikh tertentu dari Saudi/Yordan.

Yang konyolnya. Kini Salafy Sedjati menggunakan ketiga washilah/perantaraan dakwah tersebut.

(2) Mereka mudah sekali, Amat sangat mudah, Bahkan seperti meludah saja, Ketika menuduh orang/kelompok lain sebagai ahli bid'ah.

(3) Hobi debat dan mencela/memaki. Amat sangat hobi. Saking hobinya, Kalau mereka ngelindur, Yang keluar adalah makian dan debat monolog.

(4) Ngelantur kalau bicara/diskusi/debat

Coba perhatikan thread-thread yang mereka buat atau mereka terlibat di dalamnya. Isinya adalah khayalan. Imajinasi. Ngelantur. Ngalor ngidul. Dan monolog.
Kuping mereka pekak dari nasehat dan bukti2/fakta2/kebenaran. Mata mereka buta. Dan hati mereka penuh dengan keyakinan mendalam akan kebenaran mutlak tunggal dan satu arah.

(5) Curang dan licik luarbiasa

Contohnya membawakan fatwa2 ulama yang pertanyaannya sudah disetting agar sang ulama menjawab sesuai hawa nafsu mereka.

Bahkan bila perlu akan memotong2 fatwa2 tersebut semau2. Sudah sering terjadi mereka menafsirkan ayat dan hadits sesuka hati meski jauh melenceng dari penafsiran yang disepakati ulama.

(6) Waham heroik

Gaya bicara mereka selalu resmi. Baku. Formal. Dan tertib kaidah. Mana bisa mereka ngebanyol dsb. Itu karena mereka merasa dirinya adalah satu2nya perwujudan Islam yang benar dan hakiki. Sehingga segala tindak tanduk mereka harus dilakukan dengan gaya2 atau cara2 yang serius dan agung.

(7) Kuat berdalil. Tapi busuk dalam menyampaikan makna dalil2 tersebut

Persis seperti kaum Khawarij yang disebutkan oleh Ali bin Abi Thalib ketika berdalil. Yaitu "Dalil yang disampaikan benar, Tapi dengan pemahaman dan tujuan yang salah".

(8) Takfiri malu-malu

Penyebutan Ahli bid'ah pada orang dan kelompok lain sebetulnya cuma eufimisme. Karena yang mereka simpan di dada mereka sejatinya adalah takfir. Vonis murtad mu'ayyan.

(9) Terpecah belah

Jangan dikira mereka bersatu. Bahkan sesama mereka saling cakar.
Dulunya mereka bersatu. Tapi ketika lawan berat mereka yaitu Ikhwanul Muslim dan Salafy Saudi/Yordan ga terlalu meladeni, Maka ideologi jahat mereka yang suka sekali pertengkaran akhirnya mencari pelampiasannya sendiri.
Dengan mencakar dan memakan temannya sendiri, Sehingga kemudian mereka berpecah belah dan saling tuduh Ahli Bi'dah.
Perpecahan itu sedemikian beratnya sampai2 antara sesama kelompok Salafy Sedjati tersebut menjadi puing2 kecil hanya beranggotakan belasan puluhan orang saja setiap puingnya. Maksimal ratusan, Yang berserakan di belantara dakwah tapi masih terus semangat saling meng"ahli bid'ah"kan satu sama lainnya

(10) Jahil murakkab (dungu ke tulang sumsum) pada waqi' (realita dunia dan kehidupan) yang mereka hidup di dalamnya

Mereka menutup mata dan memerintahkan diri sendiri untuk menjauhi koran2, TV, Media sosial, Internet, Bahkan radio dan sebagainya.

Mereka hidup dalam khayalan. Dalam kekakuan yang gila2an. Dan sudut pandang serta pemahaman yang amat sangat sempit. Hanya bersumber dari tokoh2 mereka saja yang itupun cuma segelintir karena sudah mereka cabik2 sendiri.

(11) Muqallid/fanatik kelas satu

Lucunya, Mereka merasa/menganggap diri masing2 sebagai orang2 yang independen. Tidak dicampuri ideologi dan pandangan kelompok lain. Dan bebas menentukan sikap.
Tapi di sisi lain mereka luarbiasa taqlid kepada tokoh2 lokalnya. Saking taqlidnya, ga jarang sebuah kelompok Salafy Sedjati akan dengan mudah berbalik menyerang seorang syaikh/guru/ustadznya sendiri karena hasutan orang2 yang secara kasta sosial dan keilmuan di bawah para syaikh/guru/ustadz tersebut.

(12) Kasar dari telapak kaki sampai ke ubun-ubun

Nomer 11 diatas terjadi karena buat mereka agama ini didirikan diatas pondasi kekasaran dan kekakuan. Jadi bukan siapa lebih berilmu yang akan menang. Tapi siapa lebih kasar lah yang akan mereka dengar.

(13) Mudah futur alias jenuh dengan kondisi pemikiran, Diri pribadi, Serta kelompoknya.

Sebetulnya wajar dan masuk akal aja. Siapa pula orangnya yang kuat lama2 bersikap panas, Keras, Kasar dan kaku? Sebab manusia Allah ciptakan dari tanah, Bukan dari api.

(14) Goblok dan mudah dibohongi

Terbukti banyak agen asing atau intelejen negara2 tertentu yang menyusup masuk ke dalam kelompok mereka lalu memanfaatkannya untuk kepentingan melawan Islam.

Di Libya mereka melawan kaum muslimin mujahidin dan pemerintahan yang sah yang diakui PBB dan disokong Saudi.

Di Yaman Dammaj mereka berkali2 menyerang pemikiran2 dan tindakan2 kaum muslimin mujahidin yang sedang menghadapi Syi'ah Houthi. Dan di Suriah mereka mentahdzir mujahidin yang sedang melawan Syi'ah Nushairiah.

Di Indonesia?
Liat sendiri aja lah gimana kelakuan mereka.

Kesiannya, Seringnya mereka cuma diperalat aja. Habis manis sepah dibuang. Di Yaman Dammaj mereka akhirnya terusir oleh Syi'ah Houthi setelah diabaikan rezim yang tadinya mereka bela mati2an tapi kemudian berbalik mendukung Houthi.

Di Indonesia sendiri, Meski sejak dulu menjilat siapapun pemerintahnya, Tapi ketika berhadapan dengan kelompok Aswaja atau NU, Teriakan2 minta tolong mereka pada pemerintah diabaikan.

(15) Kaum yang penuh ironi

Mereka melarang orang jadi Khawarij tapi mereka sendiri berideologi Khawarij Takfiri sembari menuduh orang lain sebagai Khawarij 😝😝😝.

Mereka melarang orang lain begini dan begitu tapi mereka sendiri terdepan melakukannya.

Mereka menyerang orang lain karena melakukan langkah2 tertentu dalam dakwahnya. Lalu di belakang hari mereka melakukannya juga.

Mereka bersikap keras terhadap orang lain. Tapi terhadap diri atau keluarganya mereka bermudah2an. Bukan rahasia lagi banyak keluarga Salafy Sedjati ini adalah Ahli Bid'ah tapi tetap mereka muamalahi dengan baik. Bahkan saya tau beberapa orang dari kelompok ini yang sambil merokok ketika memaki2 orang/kelompok lain sebagai sesat khawarij ahli bid'ah dll.

Keras terhadap kaum muslim, Lemah lembut terhadap kekufuran. Karena mereka menganggap bahwa orang kafir sudah cukup Allah hinakan dan ga perlu lagi dijelaskan kebatilannya. Sedangkan kelompok2 lain dalam Islam harus dijelaskan pada ummat seperti apa kesesatan2nya. Sehingga mereka habiskan umur hanya untuk mencela kelompok2 Islam lainnya. Dst.

(16) Sabuk putih yang merasa DAN 7

Sering dijumpai dari kelima kelompok ini bocah2 balita yang udah pandai bermedsos lalu menebar fatwa serampangan.

Anak2 muda yang semangatnya membersihkan Islam sudah diatas ubun2 sehingga mengalahkan semangatnya belajar syariat Islam itu sendiri.

Orang2 tua yang telat belajar Islam lalu jatuh ke pelukan da'i2 SEDJATI dan merasa kehampaannya tercapai dalam damai padahal cakarnya menghujan. Dll

(17) Sombong
Sebetulnya inilah pangkal dan ujung dari segala kekacauan ideologi Sedjati.

(18) Pemburu kekacauan, Pencari kesalahan orang di luar kelompoknya, Dan biang gosip numero uno ngalahin emak2 rumpi.

Larangan tokoh2 mereka untuk menjauhi Internet, Koran, TV dsb sering mereka langgar. Bahkan tokoh2nya yang melarang2 itupun sering melanggar larangannya sendiri demi mencari berita2 yang bisa dijadikan bahan bakar menyerang lawan2nya.

Dulu ada seorang murid dari tokoh Sedjati yang dilarang oleh gurunya buka internet dsb. Tapi kemudian si murid curi2 larangan dan surfing di internet. Disitu dia membabi buta memaki kiri kanan. Hajar sini hajar sana. Berusaha keras menampakkan kesedjatiannya.

Lalu ga lama dia dapat bukti gurunya ternyata fesbukan dan Internetan juga. Ga pake nunggu dia berbalik menyerang gurunya sendiri habis2an.

Si guru yang ga terima harga dirinya dihancurkan, Balas menyerang dengan sengit. Hingga akhirnya kedua guru murid itu jadi tontonan orang banyak. Ditertawakan seisi medsos. Dan bangkrut lahir batin dunia akherat.

***

Walhasil demikian lah selayang pandang tentang mereka. Mengungkap apa yang mereka sembunyikan di hati-hati mereka. Yang tidak mereka katakan secara terus terang tapi mereka lakukan berulang-ulang.

Jadi gausah heran kalo mereka bergembira dengan wafatnya ustadz Arifin Ilham dan meninggalnya para demonstran sejak 411 2016 hingga 22 Mei 2019 ini. Karena ketika mereka bersyukur atas meninggalnya orang yang mereka anggap Ahli Bid'ah/Khawarij, Mereka sebenernya sedang bersyukur atas meninggalnya seorang kafir murtad.

Nanti saya lanjut part II nya tentang Salafy Kokohiyyun. Yaitu mereka yang sebelah kakinya berada di kelompok Salafy Rodja, Tapi sebelahnya lagi berada di Salafy Sedjati.

*Sumber: fb penulis
Read More

Kamis, 16 Mei 2019

Ini Puasa Para Nabi Sebelum Rasulullah?

16 Mei 0
Ini Puasa Para Nabi Sebelum Rasulullah?

BANDARpost – PUASA dalam bahasa Arab disebut “as-Shiyaam”, yang berarti imsak atau menahan diri. Sebetulnya kata “Puasa” yang kita kenal dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sanskerta yakni upawasa, menutup atau menghentikan segala kebiasaan (Leksikon islam jilid 2, Pustaka Azet, 1988, hal 613).
Pokoknya tiap membahas ibadah puasa, dari SD sampai menginjak perguruan tinggi, dalil ini pasti muncul. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan bagimu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan pada orang-orang sebelum kamu. Mudah-mudahan kamu bertakwa” (Al-Baqarah:183).
Ayat tersebut menjelaskan dengan gamblang, betapa puasa adalah ibadah yang telah dikerjakan oleh umat sebelum kaum Nabi Muhammad SAW, bahkan sejak Nabi Adam as turun ke bumi.
Pasca tragedi pohon Khuldi, Nabi Adam bertobat dan melaksanakan puasa selama 3 hari dalam satu bulan. Puasa tersebut selanjutnya dikenal dengan nama puasa putih yang dikerjakan setiap tanggal 13, 14, dan 15 bulan Islam (Hijriah). Kekasihku, Rasulullah SAW mewasiatkan kepadaku tiga perkara: puasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat salat duha, dan salat witir sebelum tidur (Bukhari-Muslim).
Namun, ada versi lain kalau Nabi Adam hanya melakukan puasa khusus pada hari Jumat untuk mengenang peristiwa penting. “Sesungguhnya Allah menjadikan Adam pada hari Jumat, diturunkan di bumi pada hari Jumat, dia bertobat kepada Allah atas dosanya memakan buah khuldi pada hari Jumat dan wafat pun pada hari Jumat.” (HR Bukhari).


Sumber: Eramuslm
Read More

Sabtu, 04 Mei 2019

Hitung-Hitung Hasil Pilpres 2019, ala Pedagang Pasar Masyarakat Binungko-Buton

04 Mei 0
Hitung-Hitung Hasil Pilpres 2019, ala Pedagang Pasar Masyarakat Binungko-Buton



BANDARpost,  Saya hanya melihat bahwa Komisioner KPU masih menggunakan  model/cara yang pernah dilakukan dan diterapkan pada pilpres 2014.... Sayangnya situasi telah berubah jauh, semua elemen anak bangsa yang kritis dan cerdas turut peduli dalam pilpres di 2019 ini.

Para pakar IT, dan ahli statistik sudah banyak yang terlibat dan telah mengeluarkan pendapat, bahwa itu Rumus dan Mainan hitungan model Lama....oleh rezim KPU sekarang mau diulangi lagi...yah blunder.

Akal sehat bilang semua akan runtuh, apapun argumen yang mendasarinya.

Model Perkalian dan hitung-hitung jujur yang sederhana ala pedagang-pedagang kecil masyarakat BINUNGKO suku Buton (salah satu pulau di daerah Sultra). yang akan merontokkannya;
Kira-Kira beginilah cara mereka memberikan perhitungannya :

1. PS...di pilpres 2014 kalah, dengan hanya menang di 10 Provinsi....jumlah Presentasi yang diraih adalah: 46 koma sekian%.

2. JKW ..di pilpres 2014, Menang di 23 Provinsi dengan jumlah presentasi yang diraih adalah: 53 koma sekian%

Di Pilpres 17 april 2019, perhitungan awal ditiap daerah provinsi yang juga di dibantu dengan Pemberitaan-Pemberitaan yang gencar, di halaman muka media-media utama lokal maupun media-media sosial hampir dipastikan PS menang di 20 Provinsi. (sepuluh provinsi lama kemenangan 2014 tetap). ditambah kemenangan baru  di 10 provinsi.

JKW kemungkinan besar hanya menang di 14 provinsi (sedangkan 10 provinsinya berpindah ke PS)

Logika sederhananya saja, Dimana aku mulasi perhitungan bisa menang.???

PS saat ini pilpres 2019, di 10 Provinsi Pemenangan lama di pilpres 2014, presentasi perolehan dalam angka maupun jumlah tambah meningkat...
begitupun tambahan kemenangan di 10 provinsi baru juga berasal dari provinsi yang memiliki kantong-kantong suara besar populasi suara pemilih.

JKW, di posisi pilpres 2019, realitasnya di lapangan dalam kampanye komunikasi dengan rakyat sepi, sehingga perlu pengerahan masa, itu berbanding terbalik dengan PS yang disambut dengan penuh histeria, spontanitas dan membludak. Hal ini memberikan bukti JKW Telah  kehilangan kemenangan di 10 provinsi, disamping itu ; di 14 provinsi, yang menjadi kemenangan saat ini (2019) terlihat pendulangan suaranya tidaklah meningkat signifikan.

Lalu Akal Sehat berbisik,... mungkinkah bisa menang.???

Dalam perhitungan bisa saja Salah atau Keliru, dan kemungkinan besar dapat direvisi dan diperbaiki  karena mungkin saja, tidak ada niat jahat disitu.
Tetapi yang tidak boleh itu adalah *CURANG*..karena dibaliknya ada  unsur Niat, merencanakan keJahatan (itu kejahatan terencana).
Itulah masalah serius yang dihadapi KPU.
Bagi saya bukan sekedar Dilema.
tapi pada hakekatnya adalah: Pelanggaran Berat Terhadap Rakyat, Bangsa, Negara dan Demokrasi.

YAKIN USAHA SAMPAI

Penulis: Ramli Kamidin
Read More

Jend. Gatot: Ya Allah, Lindungilah yang Benar, Bukalah Tabir yang Curang

04 Mei 0
Jend. Gatot: Ya Allah, Lindungilah yang Benar, Bukalah Tabir yang Curang


BANDARpost – Banyaknya informasi yang beredar selama tahun politik membuat emosi masyarakat Indonesia sangat tinggi. Oleh karenanya, masyarakat Indonesia disarankan untuk bersabar menghadapi situasi seperti itu.
Demikian disampaikan oleh Mantan Panglima TNI, Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo saat menanggapi situasi selama perhelatan pesta demokrasi, dalam program Etalk Show TVOne, Jumat (3/5).
“Jadi menghadapi ini, anggap sebagai suatu ujian, kita bersabar. Ujian ada dua langkah paling penting, di samping ikhtiar, ada sabar dan doa,” imbuh Gatot.
Lebih lanjut, ia juga menganjurkan bacaan doa yang bisa dipanjatkan oleh masyarakat Indonesia kepada Tuhan Yang Maha Esa. Doa tersebut salah satunya meminta agar Indonesia dibukakan tabir pihak yang benar dan yang curang.


“Doanya: ‘Ya Allah, lindungilah yang benar, dan bukalah tabir yang curang, culas, bohong dan zalim. Berikanlah bangsa Indonesia pemimpin yang Kau ridhoi rahmati, dan amanah,” lanjut Gatot.
Jika rakyat Indonesia sudah berdoa demikian, imbuhnya, maka Allah akan memberikan petunjuk kepada orang per orang langsung ke dalam hati masing-masing.
“Karena kan suara rakyat, suara Tuhan,” sebutnya.  [rmol]

Sumber: Eramuslim


Read More

Selasa, 23 April 2019

Mengapa Suara PKB dan PKS Naik Signifikan di Pemilu 2019?

23 April 0
Mengapa Suara PKB dan PKS Naik Signifikan di Pemilu 2019?


Partai Islam yang suaranya naik tinggi baru PKB dan PKS.

Tabulasi suara Pemilu 2019 di Kantor DPP PKB.

BANDARpost, JAKARTA -- Hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei menempatkan empat dari lima partai politik (parpol) Islam lolos ke parlemen karena meraih perolehan suara Pileg 2019 melewati ambang batas empat persen. Hasil penghitungan sementara KPU pun tak jauh berbeda.

Keempat parpol itu adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Kebangkitan (PKB), Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Sementara itu, Partai Bulan Bintang (PBB) terancam tak lolos ke parlemen.

Berdasarkan hasil hitung suara legislatif dalam laman resmi KPU per Jumat (19/4), pukul 21.30 WIB, PKB memimpin parpol Islam dengan raihan 8,43 persen. PKS untuk sementara meraih angka 8,31 persen dan PAN 6,45 persen.

PPP masih pada kisaran 3,94 persen. Namun, PPP berpeluang besar lolos karena hasil hitung suara KPU baru mencakup 12.997 TPS. Sementara, PBB belum mencapai 1 persen, tepatnya 0,94 persen.

Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) M Sohibul Iman bersyukur atas hasil pileg ini, Kamis kemarin. Ia bahkan mengklaim PKS bisa tembus dua digit, seperti yang diamanatkan musyawarah nasional partai tersebut.

Apa kunci keberhasilan PKS meningkatkan suara? Sohibul percaya bahwa partainya di sela-sela ketatnya kompetisi pemilihan presiden berhasil menyisipkan empat program untuk publik.

Keempat program itu adalah berlaku surat izin mengemudi (SIM) seumur hidup, bebas pajak kendaraan, bebas pajak untuk warga berpenghasilan di bawah Rp 8 juta, dan RUU perlindungan ulama dan simbol agama.

Ketua DPP Ledia Hanifah Amalia menambahkan, laporan internal dan hitung cepat lembaga survei memperlihatkan bahwa PKS memperoleh hasil yang cukup memuaskan pada Pileg 2019.

"Alhamdulillah, dari laporan internal, insya Allah lolos PT (parliamentary threshold) dan laporan umum lapangan ada peningkatan suara," kata Ledia, Jumat (19/4).

Kendati demikian, PKS masih akan menunggu hingga penghitungan manual oleh KPU selesai dilakukan. "Jadi, masih harus kita kawal dan kita tunggu hasilnya," ujar dia.

Sekretaris Jenderal DPP PAN Eddy Soeparno mengatakan, partainya optimistis meraih tujuh persen suara pada Pemilu Legislatif (Pileg) 2019. PAN juga yakin raihan kursi di DPR akan meningkat dari yang saat ini sebanyak 48 kursi.

Dari hasil pantauan laporan pengurus PAN di daerah, Eddy menilai, partainya akan lolos ambang batas parlemen. PAN optimistis meraih suara yang lebih tinggi dari hasil survei yang dikeluarkan lembaga survei karena sebaran pemilih PAN cukup merata, sampai di luar Jawa.

"Ini patut disyukuri karena Pemilu 2019 sangat berat," kata dia, Kamis.

Wakil Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Jurhum Lantong mengatakan, partainya optimistis lolos ke parlemen meski hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei memprediksi perolehan suara PBB jauh di bawah ambang batas parlemen 4 persen. Optimismenya itu mengacu pada data perolehan suara yang masuk berdasarkan formulir C1.

"Kalau dalam internal PBB sendiri dengan suara yang masuk sekitar 10 persen dari C1, posisi kami hampir 3,5 persen. Jadi, kami optimistis (lolos ke parlemen)," ujar Jurhum mengklaim, Jumat (19/4).

Berdasarkan hasil hitung cepat berbagai lembaga survei, seperti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, PBB meraih suara sebesar 0,93 persen. Sementara, batas minimal ambang batas untuk mendapatkan kursi di parlemen adalah empat persen suara.

Jurhum mengatakan, pihaknya tidak mau terburu-buru menyimpulkan bahwa hasil hitung cepat sesuai dengan kenyataan. Menurut dia, hasil hitung cepat tersebut belum merangkum secara keseluruhan dan ada kemungkinan banyak suara yang tidak terekam.

Ia menyatakan, telah menginstruksikan seluruh anggota partai agar menjadikan penghitungan resmi KPU sebagai acuan. PBB akan terus mengawal proses penghitungan suara dan telah memiliki lima hingga delapan petugas di setiap kecamatan, juga saksi di hampir 500 ribu TPS di seluruh Indonesia.

"Saya pikir kita perlu memberikan sumbangsih kepada pola pikir masyarakat agar masyarakat juga tidak terus-menerus disuguhkan dengan hoaks-hoaks yang sulit dan menggiring emosi masyarakat," kata Jurhum.



Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Sohibul Iman mencoblos di TPS 235, Tugu, Cimanggis, Depok, Jawa Barat.
Pendapat lembaga survei

Peneliti LSI Denny JA Rully Akbar mengatakan, ada sejumlah faktor yang menyebabkan naiknya perolehan suara PKB. Hitung cepat mereka menunjukkan PKB memperoleh 9,56 persen suara. Pada Pileg 2014, PKB meraih 9,04 persen.

Rulli menyebut, efek ekor jas dari cawapres nomor urut 01 KH Ma'ruf Amin menjadi salah satu pendongkrak suara PKB. "Jadi, ketika bicara Ma'ruf Amin, bicara NU, pasti terasosiasi kuat ke PKB," kata Rully kepada Republika, Jumat (19/4).

Begitu juga dengan PKS. Seusai hitung cepat yang dilakukan LSI Denny JA, PKS berada di angka 8,04 persen. Menurut Rully, perolehan suara PKS tidak terlepas dari militansi PKS yang mendukung paslon Prabowo-Sandiaga.

"Kalau kita bicara PKS, memang asosiasi paling kuat ke pemilih ketika berbicara 02 pasti Gerindra. Kedua, secara otomatis orang pasti berbicara mengenai militansi kader PKS," ujar dia.

Sementara itu, angka yang didapat PAN tidak sebaik PKS dalam hasil hitung cepat. LSI Denny JA mencatat, PAN hanya mendapatkan 6,16 persen suara. Padahal, dalam Pileg 2014, PAN memperoleh 7,57 persen suara.

"Para era 2014, PAN dikenal dengan anekdot 'partai artis nasional' segala macam untuk mengangkat perolehan suara. Tapi, sekarang hampir mayoritas semua partai (ada caleg artisnya--Red)," ujar dia.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komarudin menilai, PPP cukup beruntung pada Pemilu 2019. Pasalnya, dengan sejumlah masalah yang menerjang hingga detik-detik pemilihan, partai berlambang Ka'bah tersebut masih berpeluang lolos ke parlemen.

Selama ini, kata dia, hasil survei berbagai lembaga kerap menyebutkan PPP tidak lolos ambang batas parleman. Apalagi, setelah eks ketua umum PPP Romahurmuziy ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Ketika Rommy kena kasus KPK, dianalisis oleh beberapa kalangan tidak lolos. Tapi, justru di luar dugaan mereka lolos, walaupun perolehan suaranya menurun (daripada Pemilu 2014),” kata ujang.

Menurut dia, PPP memiliki pendukung yang solid dan militan sehingga mampu menyelamatkan partainya hingga bisa masuk ke parlemen. “Pemilih PPP sangat solid, militan, dan pemilih dari orang-orang lama yang turun-temurun," ujar dia.

(antara ed: satria kartika yudha)

Sumber: REPUBLIKA.CO.ID
Read More

Rabu, 17 April 2019

Ini Dia Daftar Kiai & Habaib NU Pendukung Prabowo-Sandi

17 April 0
Ini Dia Daftar Kiai & Habaib NU Pendukung Prabowo-Sandi


BANDARpost, Berikut ini Daftar Kiai dan Habaib NU Pendukung Prabowo-Sandi.

1. KHR. Kholil As’ad, PP. Walisongo Mimbaan Situbondo (putra pendiri NU, Rais Syuriah PBNU)
2. KH. Maulana Kamal Yusuf (A’wan Syuriah PBNU, Mantan Rais Syuriah PWNU DKI Jakarta)
3. KH. Hasib Wahab Hasbullah, PP. Tambakberas (putra pendiri NU, Ketua PBNU)
4. KH. Fuad Noerhasan, PP. Sidogiri Pasuruan (cucu pendiri NU)
5. KH. Abdullah Siraj, PP. Sidogiri Pasuruan (cucu pendiri NU)
6. KH. Solachul Aam Wahib Wahab, PP. Tambakberas Jombang (cucu pendiri NU)
7. KH. Irfan Yusuf Hasyim, PP. Tebuireng Jombang (cucu pendiri NU)
8. KH. Hasyim Karim, PP. Tebuireng Jombang (cucu pendiri NU)
9. KH. Fahmi Amrullah, PP. Tebuireng Jombang (cucu pendiri NU)
10. KH. A. Baidhowi, PP. Tebuireng Jombang (cucu pendiri NU)
11. KH. Muqtafi Aschal, PP. Sirrul Cholil, Bangkalan (cucu pendiri NU)
12. KH. Choirul Anam, Surabaya (cucu pendiri NU)
13. KH. Bashori Alwi, PIQ Singosari Malang (Mustasyar PWNU Jawa Timur)
14. KH. Mudatsir Badruddin, PP. Panyepen Pamekasan (Mustasyar PWNU Jawa Timur)
15. Prof. Dr. KH. Imam Suprayogo (Mustasyar PWNU Jawa Timur)
16. KH. Mahfud Shobari, PP. Riyadul Jannah Pacet Mojokerto (A’wan Syuriah PWNU Jawa Timur)
17. KH. Mahfud Asirun, PP. Al-Itqon Jakarta Barat (Rais Syuriah PWNU DKI Jakarta)
18. Hb. Muhammad Vad’aq, PP. Al-Khoirot Jakarta (Mustasyar NU Garis Lurus)
19. KH. Luthfi Bashori, Singosari Malang (Imam Besar NU Garis Lurus)
20. Buya Yahya (Rais Aam NU Garis Lurus)
21. Idrus Ramli, Jember (Ketua Umum NU Garis Lurus)
22. KH. Najih Maimoen Zubair, PP. Al-Anwar Sarang Rembang
23. KH. Wafi Maimoen Zubair, PP. Al-Anwar Sarang Rembang
24. KH. Abd. Hamid, PP. Bata-Bata Pamekasan
25. KH. M. Syamsul Arifin, PP. Banyuanyar Pamekasan
26. KH. Muqsith Idris, PP. Annuqayah Sumenep
27. KH. Fauzi Tijani, PP. Al-Amin Sumenep
28. Hb. Abubakar Assegaf (Wakil Rais Syuriah PCNU Pasuruan)
29. KH. Abd. Qodir Syam, Cermee Bondowoso (Ketua PCNU Bondowoso)
30. KH. Syukron Makmun, Jakarta
31. KH. Thoifur Mawardi, Purworejo
32. KH. Thoifur Ali Wafa, Sumenep
33. KH. Suyuthi Thoha, Banyuwangi
34. KH. Abdullah Muhith, Bululawang Malang
35. Prof. Dr. KH. Ahmad Zahro, Surabaya
36. KH. Nailurrahman, Madura.
37. KH. Habib Rozi Syihab, Bangil
38. KH. Yahya Romli, Tuban
39. KH. Ali Karrar Shinhaji, Pamekasan
40. KH. Jaiz Badri, Situbondo
41. Hb. Ali bin Abdurrahman bin Muhammad Al Habsyi, Kwitang Jakarta
42. Hb. Nabiel al-Musawa, Majelis Rasulullah Jakarta
43. Hb. Hasan bin Ja’far Assegaf, Majelis Nurul Musthofa Jakarta
44. KH. Yusuf Aman MA, Jakarta
45. Abuya KH. Murtadho Dimyati, Cidahu Banten
46. Hb. Ahmad bin Zen Alkaaf, Surabaya
47. Hb. Thohir bin Abdulloh Alkaaf, Tegal
48. KH. Umar Hamdan, Madura
49. KH. Ma’shum Tirmidzi, PP. Ma’had Sayid Muhammad Al-Maliki Bondowoso
50. KH. Abdul Jalal, Paiton Probolinggo
51. KH. Luthfi Abdul Hadi, Malang
52. Hb. Muhammad Ba’abud, Lawang
53. Hb. Umar Alatas, Lawang
54. Hb. Ali Zainal Abidin Bil Faqih, Malang
55. KH. Kholil Muhammad, PP. Gunungsari Pamekasan
56. KH. Ismail Muhammad, PP. Gunungsari Pamekasan
57. KH. Abd. Qodir Muhammad, PP. Gunungsari Pamekasan
58. KH. Muzakki Syah, PP. Al-Qodiri Jember
59. Hb. Husein Ba’abud, Kediri
60. KH. Ahmad Rozikin, Lc, Jawa Tengah (Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah)
61. KH. Abd. Hafid Malik, Suger Jember
62. KH. Abd. Qoyyum, Lasem
63. KH. Abdul Somad / UAS, Riau (Mustasyar PWNU Riau)
64. KH. Zuhrul Anam Hisyam, Banyumas
65. KH. Ahmad Zamroji, PP. Ma’arif Udanawu Blitar
66. KH. Abbas Mawardi, London (Duta Luar Negeri NU Garis Lurus)
67. KH. Luthfi Rochman, Purworejo (Komandan NU Garis Lurus)
68. KH. Sofwan, PP. Darunnajah Jakarta
69. Prof. Dr. KH. Juhaya S Praja, PP. Al-Qutub Bandung
70. KH. Ahmad Fauzi, Surabaya
71. KH. Athoillah As’ad, PP. Kramat Pasuruan
72. KH. Rofi’i Baidhowi, PP. Al-Hamidy Banyuanyar Pamekasan
73. KH. Ahdal Abdurrohim, PP. MUS Sarang
74. KH. Ustuchri Irsyad, PP. Alhidayah Sarang
75. Hb. Ali bin Abdurrahman Assegaf, Majelis Al-Affaf Jakarta
76. Hb. Umar bin Abdurrahman Assegaf, Majelis Al-Kifahi al Tsaqafi, Jakarta
77. KH. Abdul Rasyid Abdullah Syafi’i, PP. Al-Qur’an Asy-Syafiiyah, Pulo Air Sukabumi
78. Prof. Dr. KH. Rahmat Wahhab, Yogyakarta
79. Hb. Abu Bakar Ba’abud, SH, Imam Masjid Agung Purworejo
80. Hb. Najib Ba’abud, Takmir Masjid Agung Purworejo
81. Hb. Faishol Baraqbah, PP Sunniyah Salafiyah Kutoarjo Purworejo
82. Hb. Utsman Baraqbah, Majelis Royatun Nabi Kutoarjo Purworejo Masjid Agung Kutoarjo Purworejo
83. KH. Ridwan Sururi, Banyumas
84. KH. Mudatsir Idris, Banyumas
85. Hb. Idrus Aljufri, Tuban
86. Hb. Muhammad Salim Alkaaf, Makassar
87. Hb. Muhammad Aljufri, Situbondo
88. Hb. Alwi Salim Alkaaf, Banjarmasin
89. Hb. Zaid Alkaaf, Lawang
90. Hb. Haidar Abdullah Shihab, Lawang
91. Hb. Abu Bakar Ba’bud, Lawang
92. Hb. Hamid Muladdawilah, Malang
93. KH. Muhammad Thohir, PP. Bata-Bata Pamekasan
94. Buya Karomy (NU Garis Lurus, DKI Jakarta)
95. KH. Ali Rahbini, Gondanglegi Malang
96. KH. Muhaimin Abdul Bari, Sampang (Syuriah PCNU Sampang)
97. KH. Fauraq Alawi, Sampang
98. KH. Imron Rosyadi, Jombang
99. KH. Ahmad Faisol (Ahfas) Hamid, Lasem
100. KH. Zainuddin Umar, Gondanglegi Malang
101. KH. Imam Mawardi, Tulungagung
102. KH. Ibnu Shodiq Ali, PPHM Tulungagung
103. KH. Adib Ali Shodiq, Ngunut Tulungagung
104. KH. Minan Ali Shodiq, Tulungagung
105. Habib Asadullah bin Alwy Alaydrus, Gerakan Aswaja Malang Raya (GAMAL) Malang
106. KH. Abdul Rosyid, Magelang
107. KH. Afifuddin Mustari, Semarang
108. KH. Ruba’i, Kartosuro Surakarta
109. Hb. Muhammad Nasrullah Al Jufri, Kebumen
110. KH. Mukholid Chudlori, Wonosobo
111. KH. Mukthi, Magelang
112. KH. Miftahur Reza Bastomi, PP. Baran Kediri
113. KH. Abdullah Adlan, Kediri
114. Hb. Abdurrahman Hasan Hinduan, Ketapang Sampang
115. Hb. Ali bin Husain Aljufri, Sumenep
116. KH. Abdul Kholiq, Tambak Beras Jombang

Sumber: Swamedium
Read More

Senin, 15 April 2019

Mantan Jubir Presiden: Kenapa Gus Dur Sebut Prabowo Paling Ikhlas, Bukan Megawati?

15 April 0
Mantan Jubir Presiden: Kenapa Gus Dur Sebut Prabowo Paling Ikhlas, Bukan Megawati?




BANDARpost, Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah menyebut sosok Prabowo Subianto sebagai orang yang paling ikhlas dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Hal itu kembali ditegaskan oleh mantan Juru Bicara Kepresidenan era Gus Dur, Adhie Massardi.

"Pada tahun 2009, di suatu wawancara dengan TVOne, dengan Indi Rachmawati, Gus Dur mengatakan bahwa kalau pemimpin yang ikhlas itu ya Prabowo," katanya dalam diskusi bertajuk "Gus Dur Bilang Prabowo Akan Jadi Presiden" di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Senin (15/4).

Padahal, lanjut dia, pada saat itu Prabowo hanya menjadi calon wakil presiden dari capres Megawati Soekarnoputri.

"Tapi kenapa Gus Dur malah ngomong kalau pemilu yang ikhlas justru Prabowo? Megawati tidak disebut," imbuhnya.

Video pernyataan Almarhum Gus Dur yang menyebut Prabowo orang paling ikhlas sebelumnya sempat viral usai putri Gus Dur, Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid atau Yenny Wahid memilih mendukung pasangan Jokowi-Maruf  beberapa waktu lalu.

Dalam petikan video, Gus Dur beralasan bahwa sosok mantan Danjen Kopassus itu paling ikhlas dalam pengabdiannya kepada bangsa.

"Ya banyaklah. Yang dia bikin itu menunjukkan betapa dia ikhlas betul kepada rakyat Indonesia," ucap Gus Dur kala itu.

sumber: rmol

Read More

Budayawan Jawa: Marah-marah di Yogya, Jokowi Wis Rampung!

15 April 0
Budayawan Jawa: Marah-marah di Yogya, Jokowi Wis Rampung!


BANDARpost – Sikap Calon Presiden nomor utut 01 Joko Widodo yang “mengamuk” saat berpidato di Stadion Kridosono Yogyakarta pada Sabtu (23/3) lalu, menandakan kalau petahana sudah tidak pantas lagi menjadi seorang pemimpin.
Budayawan Jawa, Bambang Susanto Priyohadi menegaskan, seorang kesatria yang hendak menjadi pemimpin mestinya memahami tentang Hasta Brata yang terdiri 8 sifat alam.
“Salah satunya sifat bumi, dia akan menerima semua proses, bahkan cacing mati pun dia terima, tidak akan menolak,” katanya dalam diskusi bertajuk “Pilpres 2019 Dalam Tinjauan Kosmologi dan Spiritualisme” di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Senin (15/4).

Mahambeg Mring Kismo atau meniru sifat bumi, seperti halnya bumi, seorang pemimpin harus berusaha untuk setiap saat menjadi sumber kebutuhan hidup bagi siapa pun. Dia mengerti apa yang dibutuhkan oleh rakyatnya dan memberikan kepada siapa saja tanpa pilih kasih. Meski selalu memberikan segalanya kepada rakyatnya, dia tidak menunjukkan sifat sombong atau angkuh.
Maka dari itu, lanjut dia, kemarahan Jokowi saat berkempanye di Yogyakarta menunjukkan kalau dia sudah tidak layak lagi menjadi seorang pemimpin.
“Kalau kasus kemarin (yang di Yogya), apa yang terjadi, kami mengatakan selesai. Wis rampung. Karena beliau sudah melanggar apa yang menjadi prinsip kosmologi,” sebut Bambang Susanto Priyohadi.
Joko Widodo menumpahkan perasaannya saat menghadiri deklarasi “Alumni Jogja Satukan Indonesia” di Stadion Kridosono, Yogyakarta, Sabtu (23/3) lalu. Pada kesempatan itu, Jokowi dengan nada tinggi menunjukkan kemarahannya atas segala serangan yang dialamatkan selama ini kepada dirinya.
“Dijelek-jelekin saya juga diam. Dicela direndah-rendahkan saya juga diam. Dihujat, dihujat-hujat, dihina-hina saya juga diam. Tetapi hari ini di Yogya saya sampaikan saya akan lawan!” teriak Jokowi mengebu-gebu. (rmol)

Sumber: Eramuslim


Read More

Kamis, 11 April 2019

UAS Nasehati Prabowo untuk Tabah Kuat: Jihad yang Paling Besar Menjadi Pemimpin

11 April 0
UAS Nasehati Prabowo untuk Tabah Kuat: Jihad yang Paling Besar Menjadi Pemimpin




BANDARpostUstaz Abdul Somad atau UAS memberikan nasehat kepada capres nomor 02 Prabowo Subianto.

Nasehat itu diucapkannya setelah diminta Prabowo dalam dialog di tvOne, Kamis (11/4/2019) sore.

"Tabah, kuat. Serahkan kepada Allah," kata UAS kepada Ketua Umum Partai Gerindra itu.

Dia menjelaskan menjadi pemimpin merupakan jihad yang besar. Mudah-mudahan Prabowo bisa menjadi pemimpin yang adil.

"Jihad paling besar, menjadi pemimpin," katanya.(*)

sumber: inilah

Ikuti kami di channel Telegram : https://t.me/kontenislam | Ikuti Kami di Facebook: facebook.com/KONTENISLAMCOM | Flow Twitter Kami: @beritaislam

Read More

Ustad Abdul Somad Resmi Dukung Prabowo-Sandi

11 April 0
Ustad Abdul Somad Resmi Dukung Prabowo-Sandi



Ustad Abdul Somad Resmi Dukung Prabowo-Sandi

Oleh: Erizal

Sore ini saya nonton dialog Prabowo dan Ustad Abdul Somad di TvOne. Ustad Abdul Somad nyata-nyata mendukung Prabowo. Ia banyak dibisiki ulama-ulama yang tak terkenal. Semua bisikan itu menyuruh memilih Prabowo. Selalu itu pesan yang dibisikkan ke telinganya.

Hari ini Ustad Abdul Somad mengungkapkan dukungan ulama-ulama itu dan dirinya sendiri di hadapan publik. Dua permintaan Ustad Abdul Samad setelah mengungkapkan dukungannya itu. Satu, kalau Prabowo menang, jangan pernah undang dia ke istana. Dua, kalau Prabowo menang, jangan pernah beri jabatan apa pun kepada dirinya. Luar biasa.

Mendengar dua permintaan itu tak hanya Prabowo yang tersentuh dan mengusap air matanya, saya juga sangat tersentuh dan haru. Masih ada ulama sepopuler Ustad Abdul Somad menjauh dari istana atas dukungannya, di saat banyak ulama yang berdesak-desakkan menyambangi istana, bahkan sebelum tahu entah berbuat apa?

Saat berpisah, Ustad Abdul Somad memberikan minyak wangi dan tasbih kepada Prabowo, karena memang tak punya barang-barang mewah yang mau diberikannya dan memang itulah barang yang paling disayanginya.

Semoga Prabowo-Sandi benar-benar bisa menjaga dan memakmurkan Indonesia.

[Video]



[VIDEO FULL TVONE]
Read More