BANDAR post: RENUNGAN

Hot

Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RENUNGAN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Desember 2018

Renungan Pagi: Jangan Terlalu Berharap

29 Desember 0

Renungan Pagi: Jangan Terlalu Berharap


Referensi pihak ketiga
BANDARpost - Tentu setiap manusia memiliki harapan demi harapan yang ingin dicapai. Berbagai harapan yang ada dalam diri manusia kadang bisa tercapai pun juga bisa tidak.
Suatu hal yang menyakitkan jika harapan tak kunjung datang dan justru semakin jauh. Saat hal itu terjadi, rasa kecewa akan menjelma menjadi sebuah sumpah serapah serta kemarahan yang luar biasa.
Terlebih jika hal tersebut menyangkut tentang rasa, hati dan cinta. Ketika mengharapkan cinta dari seseorang, di saat hati begitu menginginkan orang itu untuk menerima cintamu, namun ternyata yang terjadi sebaliknya.
Referensi pihak ketiga
Itulah salah satu contoh betapa menyakitkannya berharap kepada manusia. Hati yang terlalu berharap kepada manusia adalah salah satu sumber kekecewaan. Maka, berharaplah saja kepada Allah SWT.
Semakin kita terlalu berharap selain kepada Allah, maka bersiap-siaplah untuk semakin kecewa. Jangan percaya terlalu banyak, jangan mencintai terlalu banyak, jangan berharap terlalu banyak, sebab terlalu banyak akan melukai begitu banyak pula.
Referensi pihak ketiga
Maka, mari sama-sama renungkan kutipan perkataan Ali bin Abi Thalib berikut ini: Aku sudah merasakan semua kepahitan hidup dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia. Ali Bin Abi Thalib.
Mulai sekarang, janganlah terharu berharap kepada manusia dan berharap saja kepada Allah SWT. Segala nikmat datangnya dari Allah, maka berdoalah kepada-Nya dan yakinlah setiap kekecewaan atas harapan pada manusia adalah bentuk peringatan dari Allah.(ayo membaca  
Sumber :UC News 

Read More

Kamis, 20 Desember 2018

Sekelas Eyang BJ Habibie Saja Menyesal! Renungan Telak Untuk Kita, Rugi Kalau Tak Dibaca!

20 Desember 0

Sekelas Eyang BJ Habibie Saja Menyesal! Renungan Telak Untuk Kita, Rugi Kalau Tak Dibaca!

Referensi pihak ketiga
BANDARpost, Puisi dari BJ Habib ini, dianggap punya makna. Menarik dan menginspirasi, hingga kini di view 568.672 orang. Tak banyak berita yang bisa menjadi viral dan view oleh ragam orang, yang semacam ini.
Selain puisinya, orang banyak yang mencari kisah, profil atau biografi dari sosok orang paling cerdas dan ahli pesawat terbang ini. Prof. DR (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie. Presiden ketiga Republik Indonesia ini beken dengan nama Habibie.
Nama panggilannya Rudy. Kelahiran 25 Juni 1936, Parepare, Sulawesi Selatan. Habibie putra dari Alwi Abdul Jalil Habibie (Ayah), RA. Tuti Marini Puspowardojo (Ibu).
BJ Habibie mempunyai saudara kandung : Junus Effendi Habibie, Alwini Karsum Habibie, Satoto Mohammad Duhri Habibie, Sri Sulaksmi Habibie, Sri Rahayu Fatima Habibie, Sri Rejeki Habibie, Ali Buntarman, Suyatim Abdurrahman Habibie.
Suami dari Hasri Ainun Besari Habibie ini memiliki anak yang bernama: Ilham Akbar dan Thareq Kemal.
Bahwa puisinya banyak diklik kemudian viral serta menjadi trending topik, memang dibaca dan direnungkan.
Bagi yang belum tahu, silahkan dibaca puisi renungan sekaligus inspirasi untuk kita semua. Berikut kutipannnya:
SAAT KEMATIAN ITU KIAN DEKAT
*B. J. HABIBI*
*KALAULAH SEMPAT ..?*Renungan utk kita semua !!!!
------------------------------------------------------------------------
Ketika BJ Habibie berpidato diKairo, beliau berpesan "Saya diberikan kenikmatan oleh Allah ilmu technology sehingga saya bisa membuat pesawat terbang, tapi sekarang saya tahu bahwa ilmu agama itu lebih manfaat untuk umat Islam. Kalo saya disuruh memilih antara keduanya maka saya akan memilih ilmu Agama".
Sepi penghuni... Istri sudah meninggal...
Tangan menggigil karena lemah... Penyakit menggerogoti sejak lama... duduk tak enak, berjalan pun tak nyaman... Untunglah seorang kerabat jauh mau tinggal bersama menemani beserta seorang pembantu...
Tiga anak, semuanya sukses... Berpendidikan tinggi sampai ke luar negeri... » Ada yang sekarang berkarir di luar negeri... » Ada yang bekerja di perusahaan asing dengan posisi tinggi... » dan ada pula yang jadi pengusaha ... Soal Ekonomi, saya angkat dua jempol » semuanya kaya raya...
Namun.... Saat tua seperti ini dia 'Merasa Hampa', ada 'Pilu Mendesak' disudut hatinya...... Tidur tak nyaman... dia berjalan memandangi foto-foto masa lalunya ketika masih perkasa & enegik yang penuh kenangan...
Di rumahnya yang besar dia merasa kesepian, tiada suara anak, cucu, hanya detak jam dinding yang berbunyi teratur...
Punggungnya terasa sakit, sesekali air liurnya keluar dari mulutnya....
Dari sudut mata ada air yang menetes..
Rindu dikunjungi anak2nya...
Tapi semua anaknya sibuk dan tinggal jauh di kota atau negara lain...
Ingin pergi ke tempat ibadah namun badan tak mampu berjalan....
Sudah terlanjur melemah.... Begitu lama waktu ini bergerak, tatapannya hampa, jiwanya kosong, hanya gelisah yang menyeruak ... Sepanjang waktu ....
• Laki-laki renta itu, barangkali adalah Saya....
• Atau barangkali adalah Anda yang membaca tulisan ini suatu saat nanti......
• Hanya menunggu sesuatu yg tak pasti...
• Yang pasti hanyalah KEMATIAN.
» Rumah Besar tak mampu lagi menyenangkan hatinya...
» Anak Sukses tak mampu lagi menyejukkan rumah mewahnya yang ber AC...
» Cucu-cucu yang hanya seperti orang asing bila datang...
» Asset-asset produktif yang terus menghasilkan, entah untuk siapa .?
Kira-kira jika malaikat 'Datang Menjemput', akan seperti apakah kematiannya nanti
» Siapa yang akan memandikan ?
» Dimana akan dikuburkan ??
» Sempatkah anak kesayangan dan menjadi kebanggaannya datang mengurus jenazah dan menguburkan?
» Apa amal yang akan dibawa ke akhirat nanti?
» Rumah akan di tinggal, asset juga akan di tinggal pula...
• Anak-anak entah apakah akan ingat berdoa untuk kita atau tidak ???
• Sedang ibadah mereka sendiri saja belum tentu dikerjakan ???
• Apa lagi jika anak tak sempat dididik sesuai tuntunan agama???
Ilmu agama hanya sebagai sisipan saja...
'Kalau lah Sempat' menyumbang yang cukup berarti di tempat ibadah, Rumah Yatim, Panti Asuhan atau ke tempat2 di Jalan Tuhan yang lainnya...
'Kalau lah Sempat' dahulu membeli sayur dan melebihkan uang pada nenek tua yang selalu datang...... 'Kalau lah Sempat' memberikan sandal untuk disumbangkan ke tempat ibadah agar dipakai oleh orang yg memerlukan..... 'Kalau lah Sempat' membelikan buah buat tetangga, kenalan, kerabat dan handai taulan......
Kalau lah kita tidak kikir kepada sesama, mungkin itu semua akan menjadi 'Amal Penolong' nya .... Kalaulah dahulu anak disiapkan menjadi 'Orang yang Shaleh', dan 'Ilmu Agama' nya lebih diutamakan... Ibadah dan sedekahnya di bimbing / diajarkan dan diperhatikan, maka mungkin senantiasa akan 'Terbangun Malam', 'Meneteskan Air Mata' medoakan orang tuanya. Kalaulah sempat membagi ilmu dengan ikhlas pada orang sehingga bermanfaat bagi sesama ....
KALAULAH SEMPAT
Mengapa kalau sempat ?
Mengapa itu semua tidak jadi perhatian utama kita ? Sungguh kita tidak adil pada diri sendiri. Kenapa kita tidak lebih serius 'Menyiapkan Bekal' untuk menghadap-NYA dan 'Mempertanggung Jawabkan' kepadaNya?
Jangan terbuai dengan 'Kehidupan Dunia' yang bisa melalaikan.......
Referensi pihak ketiga
Kita boleh saja giat berusaha di dunia....tapi jadikan itu untuk bekal kita pada perjalanan panjang dan kekal diakhir hidup.
Semoga Bermanfaat...!
Kiranya ulasan tersebut semoga dapat menggugah dan menginspirasi untuk kita semua. Di era digital seperti saat ini, semoga kita tidak lengah dan lalai dibuatnya.
Sumber: www.majelisilmudandzikirvioletgarden.blogspot.com/2018/09/kalaulah-sempat.html?m=1

Read More

Sabtu, 15 September 2018

Saat Dirazia, Isi Tas Siswi Ini Seketika Membuat Para Gurunya Menangis. Ternyata Isinya

15 September 0

Saat Dirazia, Isi Tas Siswi Ini Seketika Membuat Para Gurunya Menangis. Ternyata Isinya


Gambar sekedar ilustrasi

Sahabat SP - Alkisah. Suatu ketika, Di sebuah sekolah menengah putri di kota Shan’a’ ibukota Yaman mendadak dilakukan pemeriksaan tas bagi seluruh siswi di dalam kelas

Menurut keterangan salah seorang staf, razia ini bertujuan untuk memastikan para siswanya tidak membawa barang terlarang dan yang tidak ada hubungannya dengan kegiatan belajar-mengajar.

Para guru pun mulai memasuki kelas untuk melakukan pemeriksaan, dan menyuruh masing masing siswa duduk ditempatnya memastikan semua tas berada diatas meja dan sudah dalam keadaan terbuka.

Hingga sebuah kejadian mengharukan terjadi dari seorang siswa di kelas itu. Di salah satu sudut kelas, duduk seorang siswa yang selama ini dikenal pendiam juga pemalu namun berakhlak sopan dan santun. Ia tidak suka berbaur dengan siswi-siswi lainnya, ia suka menyendiri, padahal ia terkenal cukup pintar dan menonjol dalam hal akademis.

Setelah menyisir bagian depan, tim guru yang merazia akhirnya sampai di bangku siswi pemalu ini. Raut muka penuh kecemasan mulai nampak dari wajah siswi tersebut. Tim guru pun semakin mendekat dan ingin segera memastikan isi tas siswi yang sopan ini tidak ada barang yang melanggar,

Namun mereka cukup kaget lantaran siswi tersebut terus memegang erat tas yang ada di depannya. Hal itu tentu membuat tim pemeriksa semakin penasaran apa ada yang ia sembunyikan di dalam tas miliknya.

Gambar sekedar ilustrasi

“Buka tasmu wahai putriku.” ujar salah seorang guru kepada siswi tersebut dengan lembut.

Siswi tersebut memandangi pemeriksa dengan pandangan sedih, dan perlahan meletakkan tasnya di atas meja.

“Berikan tasmu.” pinta tim pemeriksa.

Siswi itu lalu menoleh dan menjerit, “Tidak…tidak…tidak..”

Perdebatan pun terjadi.

“Berikan tasmu.”

“Tidak..”

“Berikan.

“Tidak Ibu Guru, aku mohon.” ucap siswa itu.

Tarik menarik pun terjadi dan tangan mereka saling berebut tas. Para guru belum berhasil merampas tas dari tangan siswi tersebut karena ia memeluknya dengan erat.

Spontan saja siswi itu menangis sejadi-jadinya. Siswi-siswi lain terkejut. Mereka memandangi ada apakah di dalam tas tersebut.

Para guru yang mengenalnya sebagai seorang siswi yang pintar dan penurut terkejut melihat kejadian tersebut. Kelas pun kemudian hening tanpa suara.

Setelah berdiskusi ringan, tim pemeriksa sepakat untuk membawa siswi tersebut ke ruang guru agar tidak menggangu aktifitas belajar di ruang kelas. Dengan penjagaan yang ketat dari tim dan para guru, siswi itu pun dibawa ke ruang guru.

Sementara air mata sang siswi pendiam mengucur deras, masih menjadi misteri apakah yang sebenarnya ia tangisi hanya karena pemeriksaan tas. Tidak sedikit siswi lain yang ikut mengawal perjalanan tim pemeriksa dan siswi menuju ruang kepala sekolah, mereka memandangi dengan penuh keheranan karena selama ini siswi tersebut terkenal sangat penurut dan sopan.

Kepala sekolah kemudian berusaha menenangkan siswi yang masih menggenggam erat tasnya tersebut lalu bertanya padanya, “Apa yang engkau sembunyikan wahai putriku?”

Dengan tetap menggenggam erat tasnya, siswi itu berkata, "Di dalam tas saya tidak ada benda-benda terlarang atau haram, atau telepon genggam atau foto-foto. Demi Allah, itu semua tidak ada!"

Dengan bibir masih sedikit bergetar karena tangisannya yang semakin menjadi, akhirnya lidahnya mulai berucap,

"Tidak ada dalam tas itu melainkan sisa-sisa roti. Yah, itulah yang ada dalam tas tersebut. Sisa-sisa roti ini adalah sisa-sisa dari para teman di sekolah ini yang mereka buang di tanah, lalu aku kumpulkan untuk kemudian aku makan sebagian dan membawa sebagian lainnya untuk keluargaku di rumah. Ibu dan saudari-saudariku di rumah tidak memiliki apa-apa untuk disantap di siang dan malam hari bila aku tidak membawakan untuk mereka sisa-sisa roti ini. Kami adalah keluarga fakir yang tidak memiliki apa-apa. Kami tidak punya kerabat dan tidak ada yang peduli pada kami," ujar siswi tersebut sambil menundukkan kepalanya malu. Itulah yang membuat aku menolak untuk membuka tas saat di dalam kelas tadi. Aku akan merasa sangat malu dan hina jika sampai teman temanku tahu apa yang telah selama ini aku lakukan, mereka akan terus mencelaku di sekolah ini." ucap siswi tersebut masih dengan nafas tersenggal- senggal menjelaskan kepada gurunya yang nampak matanya ikut berkaca kaca, beberapa di antaranya bahkan sudah meneteskan air mata.

Seketika itu juga semua yang hadir di ruangan tersebut tak kuasa menahan air mata, bahkan beberapa guru menangis sambil memeluk siswi tersebut.

Sahabat. Milikilah sifat peka terhadap lingkungan kita. Barangkali satu kejadian tersebut ada juga di sekitar kita tapi kita tidak mengetahuinya dengan pasti. Bantulah mereka yang kekurangan agar hidup semakin bermakna.

Gambar sekedar ilustrasi

(Sang Pembelajar)

Sumber: youtu.be/ANIwSWPWZG4,

Read More

Jumat, 27 Juli 2018

Jawaban Zakir Naik Bikin Nangis, 'Bagaimana Yakin Pada Allah, Sedang Aku Tak Melihatnya'

27 Juli 0

Jawaban Zakir Naik Bikin Nangis, 'Bagaimana Yakin Pada Allah, Sedang Aku Tak Melihatnya'

Referensi pihak ketiga

BANDARpost, Tak sedikit orang-orang yang mendapatkan hidayah iman Islam melalui peratara kalimat-kalimat cerdas seorang Zakir Naik.

Seperti wanita Nasrani dalam kisah berikut ini.

Referensi pihak ketiga

Seorang wanita Nasrani bernama Indah, mengajukan sebuah pertanyaan kepada Dr. Zakir Naik. "Aku percaya Yesus Kristus karena terlihat gambar sosoknya. Bagaimana aku bisa percaya Allah dan Muhammad padahal aku tidak bisa melihat gambarnya?”

Dr. Zakir Naik mengawali jawabannya dengan memuji pertanyaan wanita tersebut yang dinilainya sangat masuk akal.

Beliau kemudian menjelaskan, bahwa sosok tampan yang terlihat di film seperti Jeffrey Hunter dalam King of Kings sejatinya bukanlah Yesus. Begitu pula yang divisualkan dalam berbagai gambar, patung, atau film lainnya.

"Saudariku, jika sesuatu tidak terlihat, bagaimana engkau dapat mempercayainya? Saudariku, apakah engkau bisa melihat udara?” tanya beliau lebih lanjut.

“Tidak” jawabnya.

Referensi pihak ketiga

Kemudian Dr. Zakir Naik sebagaimana dilansir di situs KabarMakkah.com menjelaskan, bahwa kita bisa mempercayai sesuatu yang tak terlihat karena ada fakta ilmiah yang bisa membuktikannya, seperti udara yang bisa kita rasakan meski tak bisa kita lihat.

Demikian pula halnya, keyakinan kepada Allah dan RasulNya, dalam Al-Qur'an surat Fushilat ayat 53, Allah berfirman, "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar", tutur beliau.

Lebih lanjut, Zakir Naik kemudian menjelaskan sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah di langit, di laut, di bumi dan bukti-bukti kebenaran Al Qur’an.

Mendengarnya, wanita yang bertanya itu terlihat menyeka air mata, terlebih mendengar pertanyaan Zakir Naik selanjutnya.

“Apakah engkau percaya bahwa Tuhan itu satu?” tanya Dr Zakir Naik.

Indah menjawab dengan tegas, "iya".

“Apakah engkau percaya bahwa Muhammad adalah Nabi?” tanya Dr Zakir Naik lagi.

Indah kembali menjawab, “Iya”

“Mana yang kau percayai, apakah Yesus itu tuhan atau nabi?” tanya Zakir Naik lebih lanjut.

“Nabi” jawab wanita itu.

“Masya Allah, Karena engkau telah mempercayai bahwa Tuhan hanya satu dan Muhammad adalah utusan Tuhan, bersediakah engkau masuk Islam” tanya Dr. Zakir Naik

Dan Indah, wanita Nasrani itu menjawab "iya"

Allahu Akbar!

Dituntun oleh Dr. Zakir Naik, wanita itu pun mengucapkan dua kalimat syahadat dengan penuh rasa haru dan sesekali mengusap air matanya.

Referensi pihak ketiga

Sahabat UCers,demikianlah tanda-tanda kekuasaan Allah yang terbentang di antara langit dan bumi. Jika kita tak bisa melihatNya, sungguh itu bukan karena Dia tidak ada melainkan karena Allah itu Akbar, Maha Besar!

Referensi pihak ketiga

Sumber referensi:

kabarmakkah.com/2017/04/bagaimana-percaya-allah-sedang-aku-tak.html, UC News 

Read More

Minggu, 24 Juni 2018

Malaikat Maut Mengunjungi Rumahmu Setiap Hari

24 Juni 0

Malaikat Maut Mengunjungi Rumahmu Setiap Hari

BANDARpost, DARI Hasan, ia berkata, “Tiada hari melainkan malaikat maut mengintip setiap rumah beberapa kali. Barangsiapa di antara mereka didapati rezekinya telah habis dan ajalnya telah tiba, maka ia pun akan mencabut ruhnya.

BACA JUGA: Ingin Didoakan Malaikat? Sedekahlah

Apabila ia telah mencabut ruhnya, ia menemui keluarganya dengan sedih dan menangis. Malaikat maut itu berpegang di tiang pintu lalu berkata, ‘Aku tidak berbuat salah kepadamu. Demi Allah aku hanya diperintah. Aku tidak memakan rezekinya, aku tidak menghabiskan umurnya, dan aku tidak mengakhiri ajalnya.

Sesungguhnya tugasku kepadamu adalah mengunjungi dan mengunjungimu lagi sehingga tidak tertinggal seorang pun di antara kamu.

Al-Hasan berkata, “Demi Allah, jika mereka melihat tempatnya dan mendengar ucapannya, tentu mereka akan melupakan mayit mereka dan menangisi dirinya sendiri.” (Ibnu Abi Dunya dan Abusy –Syaikh). []

Sumber: 40 Hari Menuju Kematian/Karya: Syaikh Maulana Muhammad Islam/Penerbit: Nabawi



Read More

Kamis, 21 Juni 2018

Bisakah Jadi Lebih Baik?

21 Juni 0

Bisakah Jadi Lebih Baik?

Bisakah kita jadi lebih baik selepas Ramadhan?

Khawatir Amalan Tidak Diterima

Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آَتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 60).

Ayat di atas, kata Syaikh As-Sa’di rahimahullah menceritakan tentang orang-orang yang melakukan shalat, zakat, haji dan sedekah serta amalan lainnya, namun hati mereka dalam keadaan takut. Mereka khawatir dengan amalan mereka ketika dihadapkan di hadapan Allah, bisa jadi amalan mereka tidak selamat dan malah mendapatkan siksa-Nya. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 583)

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang orang-orang yang dimaksud dalam ayat di atas, apakah mereka itu melakukan zina, mencuri dan minum minuman keras. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ وَلَكِنَّهُمُ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لاَ يُقْبَلَ مِنْهُمْ أُولَئِكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِى الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

Tidak wahai binti Ash-Shiddiq (puteri Abu Bakr Ash-Shiddiq, pen.). Akan tetapi, mereka itu rajin puasa, shalat dan sedekah. Namun mereka khawatir amalan mereka tidak diterima. Mereka itu adalah orang-orang yang bersegera dan terdepan dalam kebaikan.” (HR. Tirmidzi, no. 3175; Ibnu Majah, no. 4198. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Karena Allah Ta’ala menyatakan,

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya Allah hanya menerima amalan dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)

Harus Jadi Lebih Baik Ba’da Ramadhan

Keadaan seseorang ba’da Ramadhan itu ada dua macam:

Lebih baik dari sebelum Ramadhan. Ia jadi orang yang kembali kepada Allah, semangat dalam kebaikan, semangat dalam ibadah, rutin menghadiri shalat Jumat dan jama’ah, terus istiqamah dan menjauhi maksiat, itu tanda amalannya diterima.Keadaannya sama dengan sebelum Ramadhan. Walaupun taruhlah Allah menerima amalannya di bulan Ramadhan, namun ia balik ke belakang lagi dengan cepat, ia kembali lagi bermaksiat, ia tinggalkan ibadah, ia terjang larangan Allah, ia lalaikan shalat, hingga senang kembali melakukan maksiat dengan pendengaran, penglihatan, anggota badan, perkataan, perbuatan dan hartanya; orang semacam ini sebenarnya semakin jauh dari Allah. Wal ‘iyadzu billah.

Perhatikan perkataan dari Ka’ab,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَ هُوَ يُحَدِّثُ نَفْسَهُ إِذَا أَفْطَرَ مِنْ رَمَضَانَ لَمْ يَعْصِ الله دَخَلَ الجَنَّةَ بِغَيْرِ مَسْأَلَةٍ وَ لاَ حِسَابٍ وَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَ هُوَ يُحَدِّثُ نَفْسَهُ إِذَا أَفْطَرَ عَصَى رَبَّهُ فَصِيَامُهُ عَلَيْهِ مَرْدُوْدٌ

“Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dan terbetik dalam hatinya, nantinya ba’da Ramadhan setelah tidak berpuasa lagi, ia bertekad tidak akan bermaksiat kepada Allah, maka ia akan masuk surga tanpa masalah, tanpa dihisab. Namun siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dan ia terbetik dalam hatinya ba’da Ramadhan setelah tidak berpuasa lagi, ia akan bermaksiat kepada Allah, maka puasanya tertolak.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 390)

Intinya, jangan jadikan ibadah hanya pada bulan Ramadhan saja. Di antara salaf, ada yang bernama Bisyr pernah menyatakan,

بِئْسَ القَوْمُ لاَ يَعْرِفُوْنَ اللهَ حَقًّا إِلاَّ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ إِنَّ الصَّالِحَ الَّذِي يَتَعَبَّدُ وَ يَجْتَهِدُ السَّنَةَ كُلَّهَا

“Sejelek-jelek kaum adalah yang mengenal Allah di bulan Ramadhan saja. Ingat, orang yang shalih yang sejati adalah yang beribadah dengan sungguh-sungguh sepanjang tahun.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 390)

Beribadahlah sampai mati sebagaimana disebutkan dalam ayat,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu kematian.” (QS. Al-Hijr: 99).

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah menyatakan bahwa Allah tidak menjadikan batasan waktu untuk beramal bagi seorang mukmin kecuali kematian. (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 392)

Dalam Kitab Tafsirnya (4: 666), Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan bahwa ayat di atas jadi dalil bahwa ibadah seperti shalat dan lainnya, wajib dijalankan oleh setiap orang selama akal masih ada. Apa pun keadaannya, ia tetap shalat.

Dalam hadits shahih dikeluarkan oleh Imam Bukhari dari ‘Imran bin Hushain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلِّ قَائِمًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ

Shalatlah dalam keadaan berdiri. Jika tidak mampu, shalatkan dalam keadaan duduk. Jika tidak mampu, shalatlah dengan tidur menyamping.” (HR. Bukhari, no. 1117)

Kewajiban Mengoreksi Diri

Kita punya kewajiban untuk mengoreksi diri dan mengoreksi amalan kita yang sudah kita lakukan. Apa manfaat muhasabah (mengoreksi diri)?

Pertama: Meringankan hisab pada hari kiamat

‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, itu akan memudahkan hisab kalian kelak. Timbanglah amal kalian sebelum ditimbang kelak. Ingatlah keadaan yang genting pada hari kiamat,

يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ

Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Rabbmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah).” (QS. Al-Haqqah: 18).” (Az-Zuhud li Ibnil Mubarak, hlm. 306. Lihat A’mal Al-Qulub, hlm. 371)

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah mengatakan, “Mukmin itu yang rajin menghisab dirinya dan ia mengetahui bahwa ia akan berada di hadapan Allah kelak. Sedangkan orang munafik adalah orang yang lalai terhadap dirinya sendiri (enggan mengoreksi diri, pen.). Semoga Allah merahmati seorang hamba yang terus mengoreksi dirinya sebelum datang malaikat maut menjemputnya.” (Tarikh Baghdad, 4:148. Lihat A’mal Al-Qulub, hlm. 372)

Kedua: Terus bisa berada dalam petunjuk

Sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Baidhawi rahimahullah dalam tafsirnya bahwa seseorang bisa terus berada dalam petunjuk jika rajin mengoreksi amalan-amalan yang telah ia lakukan. (Tafsir Al-Baidhawi, 1:131-132. Lihat A’mal Al-Qulub, hlm. 372)

Ketiga: Mengobati hati yang sakit

Karena hati yang sakit tidaklah mungkin hilang dan sembuh melainkan dengan muhasabah diri.

Keempat: Selalu menganggap diri penuh kekurangan dan tidak tertipu dengan amal yang telah dilakukan

Kelima: Membuat diri tidak takabbur (sombong)

Cobalah lihat apa yang dicontohkan oleh Muhammad bin Wasi’ rahimahullah ketika ia berkata,

لَوْ كَانَ لِلذُّنُوْبِ رِيْحٌ مَا قَدَرَ أَحَدٌ أَنْ يَجْلِسَ إِلَيَّ

“Andaikan dosa itu memiliki bau, tentu tidak ada dari seorang pun yang ingin duduk dekat-dekat denganku.” (Muhasabah An-Nafs, hlm. 37. Lihat A’mal Al-Qulub,hlm. 373)

Keenam: Seseorang akan memanfaatkan waktu dengan baik

Dalam Tabyin Kadzbi Al-Muftari (hlm. 263), Ibnu ‘Asakir pernah menceritakan tentang Al-Faqih Salim bin Ayyub Ar-Razi rahimahullah bahwa ia terbiasa mengoreksi dirinya dalam setiap nafasnya. Ia tidak pernah membiarkan waktu tanpa faedah. Kalau kita menemuinya pasti waktu Salim Ar-Razi diisi dengan menyalin, belajar atau membaca.

Cara Muhasabah

Pertama: Mengoreksi diri dalam hal wajib, apakah punya kekurangan ataukah tidak

Karena melaksanakan kewajiban itu hal pokok dalam agama ini dibandingkan dengan meninggalkan yang haram.

Kedua: Mengoreksi diri dalam hal yang haram, apakah masih dilakukan ataukah tidak

Contoh, jika masih berinteraksi dengan riba, maka ia berusaha berlepas diri darinya. Jika memang pernah mengambil hak orang lain, maka dikembalikan. Kalau pernah mengghibah orang lain, maka meminta maaf dan mendoakan orang tersebut dengan doa yang baik. Dalam perkara lainnya yang tidak mungkin ada koreksi (melainkan harus ditinggalkan, seperti minum minuman keras dan memandang wanita yang bukan mahram), maka diperintahkan untuk bertaubat, menyesal dan bertekad tidak mau mengulangi dosa itu lagi, ditambah dengan memperbanyak amalan kebaikan yang dapat menghapus kejelekan.

Allah Ta’ala berfirman,

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ

Dan dirikanlah shakat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Hud: 114)

Ketiga: Mengoreksi diri atas kelalaian yang telah dilakukan

Contoh sibuk dengan permainan dan menonton yang sia-sia.

Keempat: Mengoreksi diri dengan apa yang dilakukan oleh anggota badan, apa yang telah dilakukan oleh kaki, tangan, pendengaran, penglihatan dan lisan

Cara mengoreksinya adalah dengan menyibukkan anggota badan tadi dalam melakukan ketaatan.

Kelima: Mengoreksi diri dalam niat

Yaitu bagaimana niat kita dalam beramal, apakah lillah ataukah lighairillah (niat ikhlas karena Allah ataukah tidak). Karena niat itu biasa berubah, terombang-ambing. Karenanya hati itu disebut qalb, karena seringnya terombang-ambing.

Jauh dari Majelis Ilmu

Dari Hanzhalah Al-Usayyidiy–beliau adalah di antara juru tulis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam–, ia berkata, “Abu Bakr pernah menemuiku, lalu ia berkata padaku, “Bagaimana keadaanmu wahai Hanzhalah?” Aku menjawab, “Hanzhalah kini telah jadi munafik.” Abu Bakr berkata, “Subhanallah, apa yang engkau katakan?” Aku menjawab, “Kami jika berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami teringat neraka dan surga sampai-sampai kami seperti melihatnya di hadapan kami. Namun ketika kami keluar dari majelis Rasulshallallahu ‘alaihi wa sallam dan kami bergaul dengan istri dan anak-anak kami, sibuk dengan berbagai urusan, kami pun jadi banyak lupa.” Abu Bakr pun menjawab, “Kami pun begitu.”

Kemudian aku dan Abu Bakr pergi menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu aku berkata, “Wahai Rasulullah, jika kami berada di sisimu, kami akan selalu teringat pada neraka dan surga sampai-sampai seolah-olah surga dan neraka itu benar-benar nyata di depan kami. Namun jika kami meninggalkan majelismu, maka kami tersibukkan dengan istri, anak dan pekerjaan kami, sehingga kami pun banyak lupa.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda,

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ إِنْ لَوْ تَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِى وَفِى الذِّكْرِ لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفِى طُرُقِكُمْ وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ سَاعَةً وَسَاعَةً

Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya. Seandainya kalian mau kontinu dalam beramal sebagaimana keadaan kalian ketika berada di sisiku dan kalian terus mengingat-ingatnya, maka niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian di tempat tidurmu dan di jalan. Namun Hanzhalah, lakukanlah sesaat demi sesaat.” Beliau mengulanginya sampai tiga kali. (HR. Muslim, no. 2750)

Jadi Wali Allah Terdepan

Wali Allah adalah mereka yang beriman dan bertakwa kepada Allah. Pengertian wali ini berdasarkan ayat,

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63)

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS. Yunus: 62-63).

Secara bahasa wali berarti “al-qorib”, yaitu dekat. Sedangkan yang dimaksud wali Allah adalah orang beriman yang seakan-akan mereka dekat dengan Allah karena gemar melakukan ketaatan dan menjauhi maksiat. Allah sendiri telah menafsirkan wali Allah dengan pengertian, mereka adalah yang beriman dan bertakwa. Mereka beriman dalam hal-hal yang diimani dan mereka bertakwa dengan menjauhi maksiat terhadap Allah. Lihat penjelasan Imam Asy-Syaukani dalam Fath Al-Qadir, 2:640.

Ibnu Taimiyah dari ayat di atas mengatakan,

فَأَوْلِيَاءُ اللهِ هُمُ المُؤْمِنُوْنَ المُتَّقُوْنَ

“Wali Allah adalah mereka yang beriman dan bertakwa.” (Al-Furqan, hlm. 8)

Wali Allah itu bertingkat-tingkat. Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan, “Jika wali Allah itu adalah yang beriman dan bertakwa, maka derajat wali berarti tergantung pada keimanan dan ketakwaan. Yang sempurna iman dan takwa, tentu memiliki derajat wali yang lebih tinggi. Karenanya kita katakan bahwa manusia dilihat dari tingkatan kewalian itu berbeda-beda tergantung kualitas iman dan ketakwaan.” (Al-Furqan, hlm. 42)

Perlu diketahui bahwa wali Allah ada dua macam:

As-Saabiquun Al-Muqorrobun (wali Allah terdepan)Al-Abror Ash-habul yamin (wali Allah pertengahan).

As-saabiquun al-muqorrobun adalah hamba Allah yang selalu mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan sunnah di samping melakukan yang wajib serta dia meninggalkan yang haram sekaligus yang makruh.

Al-Abror ash-habul yamin adalah hamba Allah yang hanya mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan yang wajib dan meninggalkan yang haram, ia tidak membebani dirinya dengan amalan sunnah dan tidak menahan diri dari berlebihan dalam yang mubah.

Mereka inilah yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,

إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ (1) لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ (2) خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ (3) إِذَا رُجَّتِ الْأَرْضُ رَجًّا (4) وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا (5) فَكَانَتْ هَبَاءً مُنْبَثًّا (6) وَكُنْتُمْ أَزْوَاجًا ثَلَاثَةً (7) فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ (8) وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ (9) وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ (10) أُولَئِكَ الْمُقَرَّبُونَ (11) فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ (12) ثُلَّةٌ مِنَ الْأَوَّلِينَ (13) وَقَلِيلٌ مِنَ الْآَخِرِينَ (14)

Apabila terjadi hari kiamat, tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain), apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya, dan gunung-gunung dihancur luluhkan seluluh-luluhnya, maka jadilah ia debu yang beterbangan, dan kamu menjadi tiga golongan. Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan orang-orang yang beriman paling dahulu. Mereka itulah yang didekatkan kepada Allah. Berada dalam jannah kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian.” (QS. Al-Waqi’ah: 1-14) (Lihat Al-Furqan, hlm. 44)

Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad Alu Syaikh memberikan penjelasan menarik, “Tidak semua muslim disebut wali. Akan tetapi selama muslim itu masih memiliki iman, maka ia masih mendapatkan kewalian. Derajat kewalian tersebut bertingkat-tingkat. … Yang menjadi wali tentu tidak berbuat zalim pada dirinya sendiri. Yang jelas wali adalah orang beriman dan bertakwa, derajat paling rendah dari orang bertakwa adalah meninggalkan yang haram dan menjalankan yang wajib (walaupun masih menjalani makruh dan meninggalkan yang sunnah, pen.).” (Syarh Kitab Al-Furqan, hlm. 107)

Moga Allah beri taufik dan hidayah untuk terus istiqamah.

Referensi:

Al-Furqan Baina Awliya’ Ar-Rahman wa Awliya’ Asy-Syaithan. Cetakan kedua, Tahun 1431 H. Penerbit Maktabah Ar-Rusyd.A’mal Al-Qulub. Cetakan pertama, Tahun 1438 H. Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid. Penerbit Al-‘Ubaikan. Hlm. 361-385.Fath Al-Qadir. Cetakan Ketiga Tahun 1426 H. Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani. Tahqiq: Dr. ‘Abdurrahman ‘Umairah. Penerbit Dar Ibnu Hazm-Darul Wafa’.Kawkabah Al-Khuthab Al-Munifah min Mimbar Al-Ka’bah Asy-Syarifah.Cetakan pertama, tahun 1423 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Abdul ‘Aziz As-Sudais (Imam dan Khatib Al-Masjid Al-Haram). Penerbit Maktabah Imam Ad-Da’wah Al-‘Ilmiyyah.Lathaif Al-Ma’arif. Cetakan pertama, tahun 1428 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Penerbit Al-Maktab Al-Islami.Siyar A’lam An-Nubala. Cetakan kedua, tahun 1435 H. Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman Adz-Dzahabi. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.Syarh Kitab Al-Furqan Baina Baina Awliya’ Ar-Rahman wa Awliya’ Asy-Syaithan. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Syaikh Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad Alu Syaikh. Penerbit Maktabah Dar Al-Hijaz.Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.Tafsir As-Sa’di. Cetakan kedua, tahun 1433 H. Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. Penerbit Muassasah Ar-Risalah.

Diselesaikan 6 Syawal 1439 H di Pesantren Darush Sholihin Gunungkidul

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber : Rumaysho.Com

Read More

Jumat, 01 Juni 2018

Shalat, Puasa, dan Cinta Emak

01 Juni 0

Shalat, Puasa, dan Cinta Emak

 

Oleh: Elda Yulita

BANDARpost, EMAK memang perempuan biasa, gak pakai jilbab bahkan gak bisa baca Qur’an. Tapi galaknya melebihi bu Haji. Umur 5 tahun saya harus bisa sholat, latihannya menyiksa (untungnya saya sakit-sakitan jadi baru disuruh puasa 2 tahun kemudian). Saya mesti menghafalkan bacaannya seperti sholat sungguhan. Kalo gak hafal doa iftitah atau alfatihah, saya harus berdiri terus, baru boleh ruku’ kalo bacaan sudah benar.

Praktek sholat subuh saja, dimulai dari adik saya disuapi sampai makan selesai, saya baru mencapai sujud. Lalu adik yang belum bisa jalan itu menganggap saya kuda, naik kepunggung sambil tertawa-tawa. Jadilah saya sujud berurai air mata menahan berat badan dia dan penderitaan yang tak boleh makan sebelum selesai sholat.

Pas Ramadhan, emak lebih kejam lagi (anehnya saya gak pernah sakit di bulan itu). Cuma dua hari pertama saya boleh makan sore, sisanya mesti tunggu maghrib. Sahur gak sahur harus sampai maghrib sementara teman-teman saya puasa sampai jam 12.

Hingga suatu hari ada tetangga yang memberi makanan. Biarpun ditahan-tahan tetep kepengen, sampai sakit perut. Harus nangis-nangis  sambil masang wajah pucat baru emak memperbolehkan saya buka puasa. Lalu diam-diam saya mencicipi makanan tadi, malangnya ketahuan. Emak sambil menangis bilang: dua jam lagi El maghrib, kau buka cuma mau makan itu? Saya merasa hina.. hina sekali.

Saya gak benci sholat dan puasa tapi sungguh itu hal yang berat sekali, apalagi teman-teman saya gak melakukannya. Jadi saya mecari cara agar Emak rela membolehkan saya tidak sholat dan puasa. Saya tanya dia. Kira-kira begini bahasa Indonesianya.

Saya: ma, el sholatnya satu kali saja ya.

Emak: mana bisa, harus 5 kali

Saya: kenapa mesti sholat, kenapa mesti 5?

Emak: Allah sudah perintahkan begitu.

Saya: Tapi yang lain gak sholat, puasa Cuma setengah hari. Katanya anak kecil gak harus puasa & sholat.

Emak: iya  betul, belum baligh tak wajib puasa dan sholat. Pahalanya buat orang tuanya. (saya girang, menahan senyum). Tapi kau, coba kau pikir Allah sayang  kau kan?

Saya: iya

Emak: semua yang kau butuhkan Dia berikan?

Saya: iya

Emak: kalo kau tahu Allah sayang kau, apa kau tak ingin sedikitpun membalas sayang-Nya?

Saya: emmmm

Emak: iya iel tak wajib sholat dan puasa, pahalanya buat ama dan apa. Kalo tak rela mensedekahkan pahala buat ama dan apa, terserah lah.

Saya: emmmm

Jadi karena emak tahu otak saya agak mirip yahudi langsung di KO. Dia cuma menyampaikan hal-hal yang harus saya ketahui dan pikirkan lalu menutup perdebatan. Emmm baru pemanasan saya udah kalah debat ya.

Jadi begitulah cara menghadapi orang licik dan senang berdebat, sampaikan poin-poin pentingnya dan tutup pembicaraan. Jangan sampai terpancing emosi apalagi berkata-kata kasar. []

Sumber :Islampos 

Read More

Jumat, 25 Mei 2018

Sungguh Durhaka Anak yg Mendoakan Orangtuanya 5x sehari

25 Mei 0

Sungguh Durhaka Anak yg Mendoakan Orangtuanya 5x sehari

(Ustad Arifin Nugroho)

Saya pernah datang ke Kairo - Mesir.

Pada saat sholat Zhuhur ada kajian dari Syaikh yang mengisi kajian sambil berjualan buku.

Di akhir kajian, saya sempatkan utk membeli buku yang di jual oleh Syaikh tadi.

Judul bukunya "Melipat gandakan keuntungan dengan berbakti kepada orangtua."

Dalam satu bab di buku tersebut di bahas mengenai Adab Kepada Orangtua.

Dimana dikatakan bahwa ,
"Sungguh durhaka seorang anak yang hanya mendoakan kedua orangtuanya hanya 5 kali dalam satu hari."

Saya bingung, kenapa kita sudah mendo'akan orangtua sehari 5 kali, kok masih di bilang anak durhaka ?

Saya coba balik lagi ke masjid tempat saya membeli buku tersebut, saya tanyakan kepada pengurus kajian di masjid itu, di mana saya bisa menemui Syaikh yang kemarin memberi kajian di masjid ini.

Dan setelah saya dapatkan nomor ponselnya, saya hubungi dan kami janjian untuk bertemu di sebuah masjid yang kebetulan beliau sedang mengisi kajian juga.

Selesai kajian, saya bertemu dengan beliau, dan saya bertanya, kenapa kok seorang anak yang sudah mendo'akan kedua orangtuanya 5 kali sehari, masih di katakan anak yang durhaka?

Syaikh itu kemudian meminta kepada saya untuk membacakan do'a untuk kedua orangtua.

Dan saya bacakan do'a yang biasa saya baca setelah sholat.

"Rabighfirli waliwali dayya"

"Stop.", kata si Syaikh. 
"Ulangi lagi".

Rabighfirli waliwali dayya"
"Stop, ulangi lagi."

"Rabighfirli waliwali dayya"
"Stop, ulangi lagi".

Terus saya ulangi sampai sepuluh kali.

Kemudian si Syaikh bertanya kepada saya, "Apakah kamu capek?"
"Tidak, Syaikh"
"Apakah kamu sampai berkeringat?"
"Tidak, Syaikh"
"Apakah kamu sampai mengeluarkan uang membaca do'a seperti yang kamu baca tadi?"

Kembali saya jawab tidak

"Kamu gak perlu mengeluarkan uang, kamu gak perlu mengeluarkan keringat, kamu gak perlu mengeluarkan tenaga yang besar hanya untuk membacakan do'a ampunan kepada kedua orangtuamu."

"Tapi kenapa kamu hanya bisa memintakan ampunan buat orangtuamu sehari semalam cuma 5 kali?"

"Padahal sejak kamu masih berada dalam perut ibumu, berapa banyak keringatnya yang sudah ibumu keluarkan karena beratnya menanggung kamu yang berada di perutnya?"

"Betapa sakitnya ibumu saat melahirkan kamu, berapa besar biaya yang sudah dikeluarkan kedua orangtuamu untuk membesarkan kamu?"

"Dan sebagai balasannya, kamu hanya bisa mendo'akan kedua orangtua mu cuma 5 kali dalam sehari semalam?"

"Padahal satu kali saat kamu membacakan do'a untuk kedua orangtuamu, Rabighfirli waliwali dayya, saat itu juga satu dosa dari orang tuamu dihapuskan ALLAH."

"Dan ada sebuah kisah, dimana ada seorang orangtua yang saat dia dimakamkan penuh dengan dosa, tiba-tiba, saat orangtua tersebut sedang kesusahan di alam kuburnya, ALLAH berikan keringanan dan ALLAH berikan kemuliaan."

"Sampai2 si ahlul kubur bingung, kenapa dia di angkat derajatnya seperti ini?"

"Kemudian jawab malaikat, "Ini berkat do'a anak anak mu".

_Masya Allah,,,_

Sekarang, apakah kita masih berat untuk membacakan do'a untuk kedua orangtua kita sehari lebih dari 50 kali?

Renungkanlah

Sumber : Viral di medsos

Read More

Senin, 07 Mei 2018

Akibat Mengabaikan Amal Sunnah Yaumiyah

07 Mei 0

Akibat Mengabaikan Amal Sunnah Yaumiyah

BANDARpost, Jika kita melihat pada perjalanan hidup para sahabat ra, maka akan kita lihat bagaimana mereka senantiasa menjaga terhadap hal-hal yang sunnah.

Bahkan berhati-hati terhadap hal yang mubah, karena cinta mereka yang begitu tinggi kepada Allah SWT dan karena takut terjerumus pada hal-hal yang dimurkai Allah.

Kita membaca seorang sahabat yang mulia Abu Salamah ra, yang memiliki kebiasaan setiap pulang dari majlis Rasulullah SAW di malam hari, senantiasa membangunkan istrinya untuk bersegera menceritakan oleh-oleh berupa cahaya wahyu al-Qur’an yang baru didapatnya.

Kita juga melihat bagaimana shahabat Umar RA. menginfakkan kebunnya yang disayanginya di Madinah hanya karena tertinggal takbiratul-ihram dalam shalat berjama’ah, dll.

Sebab-Sebab Terjadinya Pengabaian

1. Terkotori oleh kemaksiatan

Kemaksiatan berapapun kecilnya adalah berbahaya, bukankah Nabi SAW bersabda: “Apabila seorang hamba berbuat dosa, maka diberikan noda hitam dalam hatinya.” Maka janganlah melihat kecilnya sebuah maksiat, tapi lihat kepada siapa maksiat itu diarahkan?!Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa makna hajrul-qur’an (meninggalkan al-Qur’an) dalam surat al-Furqan bukan hanya berarti tidak membaca, melainkan juga tidak mau menghafal & mengamalkan al-Qur’an. Maka saat ditimpa musibah berat, jangan sedih, mungkin sedemikian banyaklah dosa
kita.Tapi kita tak perlu putus asa, karena jika bertaubat insya Allah akan dihapus dosa tersebut oleh Allah SWT, sebagaimana kata para ulama : La Kaba’ir ma’al Istighfar, wala Shagha’ir ma’al Istimrar.

2. Berlebih-lebihan dalam hal yang mubah

Memang mubah adalah boleh, tapi jika berlebihan maka dapat merusak amal, minimal menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga.Dalam Kitab at-Tauhid, Imam Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa pintu masuk syetan yang terakhir adalah pintu ini, setelah pintu murtad, pintu syirik, pintu bid’ah, pintu kufur, pintu maksiat dan pintu makruh.

3. Tidak sadar akan nilai nikmat Allah

Dalam Al Qur’an surat Ibrahim ayat 34 [1] disebutkan tentang demikian banyaknya limpahan nikmat-Nya pada diri kita. Juga surat QS al-Kautsar [2]. Maka nikmat RABB-mu yang mana lagi yang akan kamu dustakan (dengan tidak bersyukur/beribadah)?Sampai-sampai kita masuk jannah-pun karena nikmat-Nya dan bukan karena amal kita (HR Bukhari Muslim).

4. Lalai terhadap kebutuhan kita terhadap amal-amal tersebut.

Di antara manfaat istighfar adalah menambah kekuatan fisik, rizki, dsb [3].Jika ingin diingat-Nya maka kita dulu harus ingat pada-Nya (Fadzkuruni adzkurkum…).Fenomena yang ada di antaranya ialah banyak menyia-nyiakan waktu, menunda-nunda atau bahkan sampai tak tahu apa yang akan dikerjakan lagi.

5. Lemahnya pemahaman yang benar tentang hakikat pahala yang berlipatganda.

Di antara amal yang paling dicintai Allah adalah yang kontinyu walau sedikit.Nabi SAW, jika ada waktu istirahat maka istirahat beliau SAW adalah melakukan shalat (Arihna ya Bilal bish Shalat…).

6. Melupakan kematian & apa yang menanti setelahnya.

Allah mengingatkan kita untuk senantiasa mempersiapkan bekal untuk setelah mati [4].Kata Ali ra: “Shalatlah kalian seperti shalatnya seorang yang akan meninggalkan dunia.”Pesan Abubakar pada Aisyah ra: “… dan jika aku sudah meninggal, maka kafanilah aku dengan kain yang paling murah, karena ia hanya akan menjadi wadah nanah & darah…”

7. Mengira amalnya sudah cukup

Dicela oleh Allah SWT.Nabi SAW saat turun surat Hud, Waqi’ah, An Naba’ & Takwir sampai beruban rambutnya.

8. Terlalu banyak tugas & pekerjaan

Maka harus tawazun, ingat kisah Salman & Abu Dzar ra.Nabi SAW membagi waktunya dalam 3 bagian: 1/3 untuk Rabb-nya, 1/3 untuk keluarganya & 1/3 untuk ummatnya.

9. Ditunda-tunda & dinanti-nanti

Sabda nabi SAW: “Persiapkanlah yang 5 sebelum datang yang 5: Masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu dan masa hidupmu sebelum masa matimu.”Orang yang kuat menurut Umar ra adalah orang bersegera dalam setiap amal.

10. Menyaksikan sebagian panutan dalam kondisi pengabaian

Imam Ghazali menyebutkan bahwa salah satu dosa kecil yang bisa menjadi dosa besar adalah dosa kecil yang dilakukan oleh ulama, karena dapat mengakibatkan ditiru orang lain.Oleh karenanya maka Nabi SAW demikian menekankan disiplin pada keluarganya (Fathimah ra, Ali ra, Hasan & Husein ra) sebelum orang lain.

Sumber: cyberdakwahnet

Read More

Sabtu, 21 April 2018

Ini Dia yang Bikin Setan Minggat

21 April 0

Ini Dia yang Bikin Setan Minggat

Oleh : Andi Ardianto, Peminat Pendidikan

BANDARpost, BASMALAH merupakan kalimat yang sangat ringkas namun memiliki makna yang sangat dalam. Bahkan setiap perbuatan kita yang diawali dengan basmalah akan membuatnya berpahala meski itu perkara dunia. Kalau mau makan baca basmalah, makan kita jadi ibadah. Kalau mau berpakaian baca basmalah maka itu juga jadi pahala. Pokoknya apapun kegiatan yang diaawalai dengan basmalah maka kegitan itu dapat pahala. Namun, sayangnya kita tak jarang melupakan kalimat pendek yang berpahala ini.

Dengan basmalah itu artinya kita berharap Allah meridhoi apa yang kita lakukan. Kelihatannya si kecil tapi ternyata manfaatnya besar. Ada sebuah hikayat tentang keutamaan baca basmalah. Begini ceritanya. Suatu ketika ada dua setan bertemu. Kedua setan ini berbeda penampilannya. Satunya ganteng, gemuk, rambut rapi, dan pakaiannya bagus. Yang satu kebalikannya, kurus, rambut acak-acakan, bajunya juga jelek, selain itu ia juga bau.

Setan gemuk heran sama setan kurus terus dia nanya, “Bro badanmu ko jelek banget. Tuh lihat udah kurus, ga pernah sisiran, bajumu juga kayak setahun ga ganti, dan lu bau banget. Kenapa bisa gituu bro?”. Dengan sedih setan kurus berkata, “Bagaimana aku tidak gini lha wong manusia yang saya goda aja kalau mau makan baca basmalah, mau minum baca basmalah, mau tidur, sisiran, ganti baju semuanya pakai basmalah. Gimana mungkin aku bisa ikut menikmati seperti yang dia nikmati?

“Hahaha..” Setan gemuk tadi tertawa seolah menghina.

“Kasian banget lo bro. Untung orang yang aku goda tidak kenal gitu-gituan, apa tadi namanya, basmalah? ”

“Kalau dia kalau mau makan yang tinggal makan aja. Ga pernah tuh nyebut nama Allah. sama juga kalau ganti baju, sisiran, tidur, pokoknya semua aktivitasnya ga kenal basmalah-basmalahan. Makanya aku bisa seenaknya menikmati semua yang dia nikmati. ”

“Hahaha..” setan gemuk kembali tertawa merasa puas.

Dari hikayat di atas dapat kita ambil pelajaran berharga nih. Ternyata basmalah itu hebat, bisa mengusir setan yang juga mau ikut menikmati apa yang akan kita nikmati. Oleh karena itu, mari mulai dari sekarang kita biasakan membaca basmalah dalam setiap aktivitas yang kita jalani. Karena bukan hanya dapat pahala tapi juga dapat mengusir setan. Hebat bukan? []


Sumber :  Islampos.

Read More

Selasa, 10 April 2018

Meski Dibaca Berulang Kali, Kisah Ini Masih Terus Membuat Banyak Orang Meneteskan Air Mata

10 April 0

Meski Dibaca Berulang Kali, Kisah Ini Masih Terus Membuat Banyak Orang Meneteskan Air Mata

BANDARpost, Dalam sebuah perjalanan, Ibrahim bin Adham rahimahullah menyaksikan pemandangan aneh. Seorang laki-laki yang tidak memiliki tangan dan kaki berada di pinggir jalan. Sesekali, orang-orang yang lewat di sana menyuapkan makanan kepada laki-laki tersebut.

“Alhamdulillah atas nikmat-nikmat yang agung dan karunia yang besar,” demikian kalimat itu terdengar oleh Ibrahim bin Adham.

Ia tertarik, lantas menghampiri laki-laki tersebut. Ia perhatikan laki-laki yang ternyata tak hanya tidak memiliki tangan dan kaki, namun juga terkena kusta dan buta.

Setelah mengucap salam, Ibrahim bin Adham kemudian bertanya.

“Apa yang tadi engkau katakan?”

“Aku bersyukur dengan mengatakan Alhamdulillah atas nikmat-nikmat yang agung dan karunia yang besar.”

“Apa yang terjadi dengan tangan dan kakimu?”

“Terpotong”

“Apa yang terjadi dengan kulitmu?”

“Kena kusta”

“Di mana penglihatanmu?”

“Aku buta”

“Di mana rumahmu?”

“Di pinggir jalan seperti yang kau lihat ini”

“Bagaimana kamu makan?”

“Lewat tangan-tangan manusia yang Allah kirimkan sebagai nikmatNya”

Sampai di sini Ibrahim bin Adham terheran. Laki-laki tersebut mendapatkan ujian yang bertumpuk. Tidak bisa jalan, tidak bisa beraktifitas normal, bahkan tidak bisa melihat. Tapi ia justru banyak bersyukur. Nikmat apa yang ia syukuri?

Ibrahim bin Adham kembali bertanya.

“Lalu di mana nikmat-nikmat yang agung dan karunia yang besar itu wahai Saudaraku?”

“Ya Ibrahim, bukankah Allah masih memberikan aku lisan untuk berdzikir dan hati untuk bersyukur?”

Jawaban itu laksana petir di siang hari. Sungguh mengejutkan. Namun juga sungguh menakjubkan.

“Ya Ibrahim, bukankah Allah masih memberikan aku lisan untuk berdzikir dan hati untuk bersyukur? Lalu nikmat yang mana lagi yang lebih agung daripada ini?”

Allaahu akbar. Rupanya ada orang yang seperti ini. Mampu bersyukur dengan syukur yang sempurna. Bukan sekedar level syukur biasa atas nikmat sehat dan rezeki dunia berupa uang atau harta. Namun ia bersyukur karena dikaruniai lisan yang berzikir dan hati yang bersyukur.

Bersyukur atas nikmat Allah seperti ini juga melahirkan hubbullah dan mahabbatullah.

“Jika engkau memikirkan nikmat-nikmat agung dan banyak yang diberikan Allah kepadamu maka hal itu akan menimbulkan yang namanya cinta kepada Allah,” kata Habib Ali Aljufri saat menceritakan kisah Ibrahim bin Adham itu. Sebab tabiat manusia, ia mencintai siapa yang berbuat baik kepadanya.

Maka yang perlu kita tanamkan adalah kesadaran akan nikmat-nikmatNya yang sebenarnya sangat banyak tak terhingga. Maka Allah pun mengingatkan dalam Surat Ibrahim ayat 34: “Jika engkau menghitung nikmat Allah, tidaklah engkau bisa menghitungnya.”

Namun sering kali pikiran kita dibatasi oleh perspektif materialisme. Bahwa yang namanya nikmat itu hanya berupa harta, uang, kekuasaan dan sejenisnya. Maka kita pun baru bersyukur saat mendapatkan laba banyak, kenaikan gaji, jabatan yang lebih tinggi, atau harta benda baru.

Sedangkan kesehatan, kadang kita lupa bahwa itu adalah nikmat dan kita pun lupa mensyukurinya. Saat sakit, baru terasa. Nikmat bernafas tanpa membayar dan tanpa usaha keras, baru disadari saat harus dibantu dengan alat pernafasan.

Apalagi nikmat iman dan kesehatan ruhiyah yang sebenarnya merupakan nikmat terbesar. Namun tak banyak orang yang mampu mensyukurinya. Padahal segalanya menjadi sia-sia saat iman hilang dan hati rusak.

Mensyukuri nikmat iman dan kesehatan ruhiyah inilah sebenarnya level syukur yang paling tinggi. Maka Ibrahim bin Adham pun terkagum dengan alasan laki-laki tanpa tangan dan kaki serta buta itu: “Ya Ibrahim, bukankah Allah masih memberikan aku lisan untuk berdzikir dan hati untuk bersyukur? Lalu nikmat yang mana lagi yang lebih agung daripada ini?”

Sumber: bersamadakwah

Read More

Jumat, 09 Maret 2018

Benarkah Kita Kader Dakwah?

09 Maret 0

Benarkah Kita Kader Dakwah?

BANDARpost, Kader dakwah itu memiliki kepahaman yang utuh. Paham akan falsafah dasar perjuangan, paham akan nilai-nilai yang diperjuangkan, paham akan cita-cita yang hendak dicapai, paham akan jalan yang harus dilalui. Kader dakwah memiliki pemahaman yang komprehensif. Paham akan tahapan-tahapan untuk merealisasikan tujuan, paham akan konsekuensi setiap tahapan, paham akan logika tantangan yang menyertai setiap tahapan, paham bahwa di setiap tahapan dakwah memiliki tingkat resiko yang berlainan. Kepahaman kader dakwah terus berkembang.

Benarkah kita kader dakwah?

Kader dakwah itu memiliki keikhlasan yang tinggi. Ikhlas artinya bekerja hanya untuk Allah semata, bukan untuk kesenangan diri sendiri. Sangat banyak godaan di sepanjang perjalanan dakwah, baik berupa harta, kekuasaan dan godaan syahwat terhadap pasangan jenis. Hanya keikhlasan yang akan membuat para kader bisa bersikap dengan tepat menghadapi segala bentuk godaan dan dinamika dakwah. Sangat banyak peristiwa di sepanjang perjalanan dakwah yang menggoda para kader untuk meninggalkan jalan perjuangan. Ikhlas adalah penjaga keberlanjutan dakwah.

Benarkah kita kader dakwah?

Kader dakwah itu memiliki amal yang berkesinambungan. Amal dalam dakwah bukanlah jenis amal yang setengah-setengah, bukan jenis amal sporadis, spontan dan tanpa perencanaan. Sejak dari perbaikan diri dan keluarga, hingga upaya perbaikan masyarakat, bangsa, negara bahkan dunia. Amal dalam dakwah memiliki tahapan yang jelas, memiliki tujuan yang pasti, memiliki orientasi yang hakiki. Kader dakwah tidak hanya beramal di satu marhalah dan meninggalkan marhalah lainnya. Kader dakwah selalu mengikuti perkembangan mihwar dalam dakwah, karena itulah amal yang harus dilalui untuk meretas peradaban.

Benarkah kita kader dakwah?

Kader dakwah itu memiliki etos jihad yang abadi. Jihad dalam bentuk kesungguhan, keseriusan, dan kedisiplinan dalam menggapai visi dakwah yang hakiki. Kesungguhan membela hak-hak umat, kesungguhan mendidik masyarakat, keseriusan mengusahakan kesejahteraan masyarakat, kedisiplinan membersamai dan menyelesaikan persoalan kehidupan yang semakin kompleks. Kader dakwah harus memberikan kesungguhan dalam menjalankan semua agenda dakwah, hingga menghasilkan produktivitas yang paripurna, di lahan apapun mereka bekerja. Itulah makna jihad dalam konteks perjalanan aktivitas dakwah.

Benarkah kita kader dakwah?

Kader dakwah itu memiliki pengorbanan yang tak terhingga nilainya. Dakwah tidak mungkin akan bisa dijalankan tanpa pengorbanan. Sejak dari pengorbanan harta, waktu, tenaga, pikiran, fasilitas, hingga pengorbanan jiwa. Rasa lelah, rasa jenuh, rasa letih selalu mendera jiwa raga, kesenangan diri telah dikorbankan demi tetap berjalannya roda dakwah. Aktivitas dijalani sejak berpagi-pagi hingga malam hari. Kadang harus bermalam hingga beberapa lamanya, kadang harus berjalan pada jarak yang tak terukur jauhnya, kadang harus memberikan kontribusi harta pada kondisi diri yang belum mapan dari segi ekonomi. Pengorbanan tanpa jeda, itulah ciri kader dakwah yang setia.

Benarkah kita kader dakwah?

Kader dakwah itu memiliki ketaatan kepada prinsip, keputusan organisasi, dan kepada pemimpin. Prinsip-prinsip dalam dakwah harus dilaksanakan dengan sepenuh ketaatan. Taat kepada pondasi manhaj adalah bagian penting yang akan menghantarkan dakwah pada tujuannya yang mulia. Taat kepada keputusan organisasi merupakan syarat agar kegiatan dakwah selalu terbingkai dalam sistem amal jama’i. Taat kepada pemimpin merupakan tuntutan agar pergerakan dakwah berjalan secara efektif pada upaya pencapaian tujuan. Ketaatan bukan hanya terjadi dalam hal-hal yang sesuai dengan pendapat pribadi, namun tetap taat terhadap keputusan walaupun bertentangan dengan pendapatnya sendiri.
Benarkah kita kader dakwah?
Kader dakwah itu memiliki keteguhan tiada henti. Kader dakwah harus selalu tegar di jalan dakwah, karena perjalanan amatlah panjang dengan berbagai gangguan dan tantangan yang menyertainya. Teramat banyak aktivis dakwah semasa, dimana mereka memiliki semangat yang menyala pada suatu ketika, namun padam seiring berjalannya usia. Ada yang tahan tatkala mendapat ujian kekurangan harta, namun menjadi gugur saat berada dalam keberlimpahan harta dunia. Ada yang tegar saat dakwah dilakukan di jalanan, namun tidak tahan saat berada di pucuk kekuasaan. Kader dakwah harus berada di puncak kemampuan untuk selalu bertahan.

Benarkah kita kader dakwah?

Kader dakwah itu memiliki kemurnian dan kebersihan dalam orientasi aktivitasnya. Sangat banyak faktor yang mengotori kebersihan orientasi dakwah. Ada kekotoran cara mencapai tujuan. Ada kekotoran dalam usaha mendapatkan harta. Ada kekotoran dalam langkah menggapai kemenangan. Kader dakwah harus selalu menjaga kemurnian orientasinya, tidak berpaling dari kebenaran, tidak terjebak dalam kekotoran. Karena dakwah memiliki visi yang bersih, sehingga harus dicapai dengan langkah dan usaha yang bersih pula.

Benarkah kita kader dakwah?

Kader dakwah itu memiliki solidaritas, persaudaraan dan kebersamaan yang tinggi. Ukhuwah adalah sebuah tuntutan dalam menjalankan agenda-agenda dakwah. Semakin besar tantangan yang dihadapi dalam perjalanan dakwah, harus semakin kuat pula ikatan ukhuwah di antara pelakunya. Kader dakwah saling mencintai satu dengan lainnya, saling mendukung, saling menguatkan, saling meringankan beban, saling membantu keperluan, saling berbagi dan saling mencukupi. Kader dakwah tidak mengobarkan dendam, iri dan benci. Kader dakwah selalu membawa cinta, dan menyuburkan dakwah dengan sentuhan cinta.

Benarkah kita kader dakwah?

Kader dakwah itu memiliki tingkat kepercayaan yang tak tertandingi. Berjalan pada rentang waktu yang sangat panjang, dengan tantangan yang semakin kuat menghadang, menghajatkan tingkat kepercayaan prima antara satu dengan yang lainnya. Berbagai isu, berbagai fitnah, berbagai tuduhan tak akan menggoyahkan kepercayaan kader dakwah kepada para pemimpin dan kepada sesama kader dakwah. Berbagai caci maki, berbagai lontaran benci, berbagai pelampiasan kesumat, tak akan mengkerdilkan kepercayaan kader terhadap langkah dakwah yang telah dijalaninya.

Jadi, benarkah kita kader dakwah ?

Ust. Cahyadi Takariawan


Sumber : Ngelmu.co

Read More