BANDAR post: PENCERAHAN

Hot

Tampilkan postingan dengan label PENCERAHAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENCERAHAN. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Desember 2019

Renungan Aa Gym: Karena Tidak Ikhlas…

16 Desember 0
Renungan Aa Gym: Karena Tidak Ikhlas…

BANDARpost – SAUDARAKU, salah satu sebab yang membuat hidup kita terasa berat adalah keikhlasan. Bagi orang yang tidak ikhlas, pekerjaan kecil pun menjadi terasa berat.
Seperti sekadar memindahkan cangkang permen yang tergeletak sembarangan ke dalam tempat sampah. Ini pekerjaan ringan, namun jika tidak ikhlas maka berat rasanya. Orang yang tidak ikhlas akan berharap-harap ada orang lain melihatnya ketika dia memindahkan cangkang permen itu, sehingga ia pun terlihat sebagai orang baik. Namun, ketika tenyata tidak ada orang yang melihatnya, ia merasa rugi dan menyesal telah melakukan hal tersebut.

Betapa berat hidup ini rasanya bagi orang yang tidak ikhlas. Ke mana-mana yang dicari adalah penilaian makhluk. Amal yang dilakukan berharap mendapatkan imbalan. Kebaikan yang dilakukan berharap balas jasa. Sedekah yang dikeluarkan berharap sanjungan. Ketika yang diharapkan itu tidak ada, maka hati pun resah gelisah jauh dari rasa bahagia.
Selain membuat hidup ini terasa berat, ketidakikhlasan juga mendatangkan dosa karena tidak ikhlas atau riya (ingin amal dilihat orang lain) adalah salah satu ciri kemunafikan. Allah SWT berfirman, Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (QS. an-Nisaa [4]: 142)
Riya sungguh hal yang sangat merugikan bagi kita. Membuat hidup ini terasa sempit, dan amal perbuatan menjadi sia-sia tidak bernilai. Sebesar apa pun amal kita jika dilakukan dengan tidak ikhlas, mencari penghargaan makhluk, maka tidak ada catatan kebaikan baginya.

Sumber: 
Read More

Kamis, 17 Mei 2018

Kematian, Ini 3 Hal yang Mengikuti Mayat

17 Mei 0

Kematian, Ini 3 Hal yang Mengikuti Mayat

BANDARpost, Kematian bagi sebagian orang bisa saja sangat menakutkan. Namun siap atau tidak, suka atau tidak, yang namanya kematian pasti akan datang menjemput setiap makhluk yang bernyawa. Sebagaimana di dalam potongan ayat 185 surat Ali Imran, Allah berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Tiap-tiap jiwa (yang bernyawa) pasti akan merasakan mati …” (QS. Ali Imran : 185)

Dalam menyikapi kematian, Rasulullah Shallahu ‘alaihi wassalam menjelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, bahwasannya yang mengikuti mayat itu ada tiga, yang dua kembali dan yang satu tetap bersamanya.

Dua yang kembali, yang pertama adalah keluarga. Ketika orang meninggal dunia, maka keluarga, saudara, tetangga, teman dan sahabat akan mengantar kepergiannya sampai di pemakaman.

Namun setelah jenazah dimasukkan ke liang lahat, semua orang akan kembali ke rumahnya masing-masing. Tak ada satupun yang akan mengikutinya hingga ke dalam kubur.

Betapa pun seorang suami mencintai istrinya, namun ketika istrinya meninggal, maka suami tidak akan menemaninya dalam kubur.

Dan di dalam kubur, setiap manusia akan sibuk dengan urusannya masing-masing. Sekalipun misalnya jenazah dimakamkan di areal pemakaman keluarga.

Maka jenazah satu dan yang lainnya tidak akan saling menyapa, dan mereka sibuk dengan urusannya masing-masing.

Dua yang kembali, yang kedua adalah harta. Ketika seseorang meninggal, maka ia akan meninggalkan seluruh hartanya. Rumah, mobil, perhiasan, tabungan dan lain-lain tidak akan ada yang menemaninya di liang lahat.

Satu-satunya harta yang ia bawa hanyalah beberapa lembar kain putih dengan panjang 2-3 meter. Sekalipun si mayit semasa hidupnya mungkin juragan kain, atau bahkan pemilik pabrik tekstil.

Namun ketika seorang muslim meninggal, maka ia hanya akan membawa 3 lembar kain putih untuk laki-laki, dan 5 lembar untuk perempuan.

Semua harta dan kekayaan yang kita miliki sesungguhnya bukanlah milik kita. Setelah seseorang meninggal, maka rumah, mobil, dan segala hartanya akan menjadi hak ahli waris.

Dan harta yang benar-benar ia miliki adalah harta yang telah ia sedekahkan selama masih hidup.

Zakat, infaq, shadaqah, harta yang kita keluarkan untuk membantu sesama, harta untuk berjuang di jalan Allah dan lain sebagainya, maka itulah sesungguhnya harta milik kita.

Dan apa yang telah kita sedekahkan, insya Allah akan memudahkan perjalanan kita di alam kubur kelak. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallahu ‘alaihi wassalam,

“Sesungguhnya sedekah dapat memadamkan panasnya kubur bagi orang yang memberikan sedekah, dan sesungguhnya orang mukmin akan bernaung pada hari kiamat nanti di bawah naungan sedekahnya,” (HR. Tabrani).

Satu hal yang terakhir adalah satu tetap bersama mayat, yaitu amal. Ketika seseorang meninggal dunia dan dimakamkan, maka amal perbuatan dan ibadahnyalah yang akan bersamanya, menemani kehidupannya di alam barzakh.

Amal baik maupun amal buruk yang pernah dia kerjakan semasa hidup, itulah yang akan menemaninya di dalam kubur.

Jamaah yang dimuliakan Allah, berbicara kematian kaitannya dengan amal, maka sesungguhnya keadaan manusia di alam kubur itu ada dua.

Keadaan pertama adalah bagi orang yang banyak melakukan amal shalih, maka kuburnya akan dilapangkan sejauh mata memandang, kemudian datang kepadanya seseorang yang berwajah tampan dengan baju yang bagus dan aroma yang harum.

Orang itu berkata, ‘Berbahagialah dengan kemudahan yang diberikan padamu. Inilah hari yang dijanjikan padamu.’

Mayit itu bertanya, ‘Siapa kamu? Wajahmu tampak bagus.’

Dijawab, ‘Aku adalah amal shalihmu. Engkau selalu bersegera mentaati Allah dan enggan bermaksiat kepada-Nya. Maka Allah mengganjarmu dengan kebaikan.’

Sementara itu, bagi orang yang semasa hidupnya bergelimangan amal buruk, maka kuburnya akan menyempit hingga meremukkan tulang-tulangnya.

Pintu neraka dibuka sehingga dia akan merasakan panas yang luar biasa. Lalu datanglah seseorang dengan wajah dan pakaian yang buruk, serta aroma tubuh yang busuk menyengat.

Ia berkata, ‘Berbahagialah dengan kejelekanmu. Inilah hari yang dijanjikan. Engkau enggan taat kepada Allah, tetapi sangat bersemangat dalam bermaksiat. Maka Allah mengganjarmu dengan kejelekan.’

Mayit itu bertanya, ‘Siapa kamu? Wajahmu amat buruk,’

Tamu itu menjawab, ‘Akulah amalmu yang buruk.’

Sumber: islampos.com

Read More

Minggu, 13 Mei 2018

4 Cara Bersyukur pada Allah SWT

13 Mei 0

4 Cara Bersyukur pada Allah SWT

 

10Berita, IMAM Al-Ghazali menjelaskan bahwa cara bersyukur kepada Allah SWT terdiri dari empat komponen, yaitu:

1. Syukur dengan Hati.

Syukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang kita peroleh, baik besar, kecil, banyak maupun sedikit semata-mata karena anugerah dan kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Segala nikmat yang ada pada kamu (berasal) dari Allah,” (QS. An-Nahl: 53)

Syukur dengan hati dapat mengantar seseorang untuk menerima anugerah dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu dan keberatan, betapa pun kecilnya nikmat tersebut. Syukur ini akan melahirkan betapa besarnya kemurahan dan kasih sayang Allah sehingga terucap kalimat tsana’ (pujian) kepada-Nya.

2. Syukur dengan Lisan.

Ketika hati seseorang sangat yakin bahwa segala nikmat yang ia peroleh bersumber dari Allah, maka spontan ia akan mengucapkan “Alhamdulillah” (segala puji bagi Allah). Karenanya, apabila ia memperoleh nikmat dari seseorang, lisannya tetap memuji Allah. Sebab ia yakin dan sadar bahwa orang tersebut hanyalah perantara yang Allah kehendaki untuk “menyampaikan” nikmat itu kepadanya.

“Al” pada kalimat “Alhamdulillah” berfungsi sebagi “istighraq” yang mengandung arti keseluruhan. Sehingga kata alhamdulillah mengandung arti bahwa yang paling berhak menerima pujian adalah Allah S.W.T, bahkan seluruh pujian harus tertuju dan bermuara kepada-Nya. Oleh karena itu, kita harus mengembalikan segala pujian kepada Allah.

Pada saat kita memuji seseorang karena kebaikannya, hakikat pujian tersebut harus ditujukan kepada Allah S.W.T.
Sebab, Allah adalah Pemilik Segala Kebaikan.

3. Syukur dengan Perbuatan.

Syukur dengan perbuatan mengandung arti bahwa segala nikmat dan kebaikan yang kita terima harus dipergunakan di jalan yang diridhoi-Nya. Misalnya untuk beribadah kepada Allah, membantu orang lain dari kesulitan, dan perbuatan baik lainnya. Nikmat Allah harus kita pergunakan secara proporsional dan tidak berlebihan untuk berbuat kebaikan.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan bahwa Allah sangat senang melihat nikmat yang diberikan kepada hamba-Nya itu dipergunakan dengan sebaik-baiknya.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah senang melihat atsar (bekas/wujud) nikmat-Nya pada hamba-Nya,” (HR. Tirmidzi dari Abdullah bin Amr).

Maksud dari hadits diatas adalah bahwa Allah menyukai hamba yang menampakkan dan mengakui segala nikmat yang dianugerahkan kepadanya. Misalnya: Orang yang kaya hendaknya membagi hartanya untuk zakat, sedekah dan sejenisnya. Orang yang berilmu membagi ilmunya dengan mengajarkannya kepada sesama manusia, memberi nasihat, dsb.

Maksud membagi diatas bukanlah untuk pamer, namun sebagai wujud syukur yang didasaari karena-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur),” (QS. Adh-Dhuha: 11).

4. Menjaga Nikmat dari Kerusakan.

Ketika nikmat dan karunia didapatkan, cobalah untuk dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Setelah itu, usahakan untuk menjaga nikmat itu dari kerusakan. Misalnya: Ketika kita dianugerahi nikmat kesehatan, kewajiban kita adalah menjaga tubuh untuk tetap sehat dan bugar agar terhindar dari sakit. Demikian pula dengan halnya dengan nikmat iman dan Islam, kita wajib menjaganya dari “kepunahan” yang disebabkan pengingkaran, pemurtadan dan lemahnya iman.

Untuk itu, kita harus senantiasa memupuk iman dan Islam kita dengan shalat, membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis-majelis taklim, berdzikir dan berdoa. Kita pun harus membentengi diri dari perbuatan yang merusak iman seperti munafik, ingkar dan kemungkaran.

Intinya setiap nikmat yang Allah berikan harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Allah S.W.T menjanjikan akan menambah nikmat jika kita pandai bersyukur, seperti pada firmannya: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-KU), sungguh adzab-Ku sangat pedih,” (QS. Ibrahim: 7). []

Sumber: Rumah Keluarga Indonesia ,  Islampos.

Read More

Selasa, 17 April 2018

Hati-hati Istri, Inilah 11 Sifat yang Tidak Disukai Suami Darimu

17 April 0

Hati-hati Istri, Inilah 11 Sifat yang Tidak Disukai Suami Darimu

BANDARpost, Keluarga yang harmonis, tergantung dari kedua belah pihak pasangan suami istri yang membawa biduk pernikahan itu bermuara dan melaju kemana.

Salah satu hal yang membuat hubungan suami istri terlihat harmonis dan istimewa adalah masing-masing pihak mampu menahan diri dari emosi, pengertian, mengalah dan membuat suasana rumah tenang dan damai.

Hal-hal tersebut tidak tercipta dengan sendirinya, perlu perjuangan dan pengorbanan dari pasangan untuk menuju keluarga sakinah mawadah warohmah.

Untuk menuju hal itu, para istri sebaiknya mengenal dulu beberapa sifat dari istri yang sebenarnya tidak disukai suami.

Maka cermati artikel di bawah ini, agar kesalahan para istri dalam memperlakukan suami tidak menjadi duri dalam daging pada pernikahan Anda!

1. Suka Menggunjing Suami
Ada istri yang berlaku demikian? Bukan hanya ada, namun jumlahnya cukup signifikan. Saat bertemu dengan tetangga atau teman, jika tidak ada bahan omongan yang menarik, seringkali para istri lupa mereka mulai mengeluhkan bahkan menggunjingkan perilaku suaminya masing-masing.

Padahal hal tersebut sebaiknya ditutupi istri jika itu merupakan aib. Karena pada dasarnya suami istri itu ibarat pakaian, saling menutupi kelemahan satu sama lain di hadapan orang lain.

هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ

“… mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka …” ( QS. al-Baqarah : 187 ).

2. Keras Kepala dan Bersifat Egoistis
Sebagai istri selayaknya menurut dan patuh pada kepala keluarga dalam bagian yang positif. Allah menurunkan lelaki memang ia diharapkan menjadi imam bagi keluarganya, dan di segani oleh istri dan keluarganya.

Maka dengan itu istri yang memiliki sifat keras kepala dan egoistis, selalu mau menang sendiri, dan tidak mematuhi apa yang disarankan atau perintahkan suami, ia akan tidak disukai suami.

3. Gagu Meminta Maaf
Salah satu hal yang mengganggu keharmonisan keluarga adalah saat istri merasa menang sendiri. Jika ia bersalah, maka akan terlihat gagu, bahkan sama sekali tidak mau meminta maaf, padahal sebagai ibu ia menjadi cerminan anak-anaknya dalam bertindak.

4. Tidak Becus Menata Rumah
Wanita yang pandai menata rumah hingga terlihat rapi dan sedap dipandang adalah dambaan suami. Karena rumah adalah surga dunia tempat kepala keluarga kembali setelah seharian lelah bekerja.

Jika melihat rumah berantakan tidak terurus, maka suami akan tidak menyukainya.

5. Menyela Pembicaraan Suami
Salah satu sifat wanita adalah banyak bicara dan selalu merasa paling tahu senediri. Saat ia enggan menjadi pendengar yang baik, maka ia akan mendominasi pembicaraan, bahkan berani menyela percakapan suami, saat kurang penting, dihadapan orang lain.

Suami kurang senang jika ia kurang diperlakukan dengan hormat seperti ini.

6. Emosi
Wanita memang terlihat lebih emosian dibanding pria, karena secara kodrati psikis wanita demikian adanya. Mudah marah atau bersedih, bahkan menangis saat melewati masa-masa sulit atau kondisi yanag tidak menguntungkannya.

Menghadapi kenakalan anak-anak, hutang yang menumpuk, keadaan perekonomian keluarga yang morat-marit dan seribu satu permasalahan lainnya membuat wanita cepat tersulut emosinya.

Rasulullah menasehati umatnya menjadi seseorang penyabar dan tidak marah. Pun, suami juga tidak menyukai wanita yang lebih mengedepankan emosi.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Engkau jangan marah!” (HR al-Bukhâri).

7. Membanding-bandingkan Keadaan Ekonomi Dengan yang Lain
Suami yang membanting tulang untuk keperluan rumahtangga, sebaiknya jangan disepelekan. Hargailah upayanya, doakan agar ia selalu sehat dan dapat lebih baik lagi dalam menafkahi keluarga dan satu hal lagi bantu sebisanya mencari dan mencukupi perekeonomian keluarga.

Jangan melakukan sebaliknya, istri malah membanding-bandingkan keadaan ekonominya dengan orang lain, membuat suami jengah dan merasa tidak dihargai usahanya.

8. Suka Menyuruh-nyuruh Suami, Padahal Mampu Dikerjakan Sendiri
Pernahkah istri berbuat demikian? Tentu kerap. terkadang jika memperoleh suami yang begitu mudah disuruh-suruh istri, maka dikhawatirkan akan ‘dijajah’ istri untuk melakukan banyak hal, yang terkadang ia sendiri bisa mengerjakannya.

Atas nama sayang, suami tidak banyak protes tapi dalam hatinya ia kurang suka melakukan hal demikian. Jika hanya sekedar membantu, tidaklah mengapa.

Namun jika sampai melakukan banyak hal yang kurang penting dan bisa dikerjakan oleh istri sendiri yang tidak sedang repot, maka hal itu membuat suami tidak menyukainya.

9. Menuduh Berselingkuh
Lelaki jika sudah dituduh hal yang buruk, semisal telah berselingkuh pada seorang wanita lain, padahal sebenarnya ia tidak melakukannya, maka ia akan menjadi marah besar.

Cek ricek wahai wanita jika akan melontarkan tuduhan saat mendapatkan kabar yang tidak akurat mengenai suami Anda. Karena pada dasarnya, pertaruhannya adalah keharmonisan rumahtangga Anda!

10. Tidak Setia
Menjadi istri yang setia dan menjadi panutan keluarga adalah idaman suami. Namun jika ia tidak bisa menjaga diri dan berbuat tidak setia, maka suami akan benar-benar tidak menyukainya.

Wanita yang bisa menjaga diri dari perbuatan zina, akan mendapat reward Allah berupa surga! maka, jadilah istri setia yang mematuhi suami.

“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)

11. Boros dan Menghambur-hamburkan Harta Suami
Era globalisasi ini membuat para istri harus menahan godaan satu hal lagi lainnya, adalah godaan dalam belanja kebutuhan non pokok.

Apapun sekarang bisa dilihat dari internet dan media masa dengan mudah, bahkan belanjapun menjadi hal sangat mudah dilakukan tanpa harus beranjak kemana-mana. Hal ini yang jika tidak hati-hati membuat keuangan keluarga menjadi membengkak.

Istri yang memboroskan uang suami adalah istri yang sama sekalai tidak bijak dan tidak disukai sifat seperti ini oleh suaminya.

Islam sendiri melarang pemborosan tersebut, karena ini merupakan saudara syetan,

وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا () إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“… dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan …” (QS. al-Isro’ [17]: 26-27)

Demikian, semoga bermanfaat. Yuk jadi istri yang jadi idaman suami.

Sumber : Islamidia

Read More

Jumat, 16 Maret 2018

Ust. Abdul Somad UNGKAP 3 Syarat Jadi Pemimpin, Apa Saja?

16 Maret 0

Ust. Abdul Somad UNGKAP 3 Syarat Jadi Pemimpin, Apa Saja?


BANDARpost, Ustaz Abdul Somad melakukan safari dakwah ke Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, Rabu 14 Maret 2018 Ustaz jebolan Al Azhar Mesir itu membahas soal syarat kepemimpinan dalam Islam.

“Pemimpin haruslah Islam agar peduli terhadap generasi Islam. Kalau tak Islam, bagaimana pula mau peduli terhadap generasi Islam. Dan Islam wajib punya kekuasaan agar mampu menjadi pemimpin,” kata ustaz Somad saat memberi tausyiah di Pondok Pesantren Musthafawiyah.

Kemudian, syarat kedua, kata ustad01z Abdul Somad, pemimpin harus sederhana. Tidak bermewahan walau memiliki harta banyak.

“Hartanya lebih suka disumbang buat masjid dan anak yatim serta janda tua,” kata ustaz kelahiran Asahan tersebut.

Dengan ciri khasnya, ustaz Somad melanjutkan isi ceramahnya.

“Kemudian yang ketiga, syarat kepemimpinan dalam Islam yakni punya pengetahuan. Punya kepedulian terhadap masjid karena sesungguhnya masjid juga adalah ujung tombak pengetahuan Islam,” jelasnya.

Kemudian, pemimpin itu harus adil. Kalau sudah adil, rakyat makmur. “Makanya dalam pembukaan UUD kita ada kata adil dulu baru diikuti kata makmur,” imbuhnya.

Dalam tahun politik seperti saat ini, ustaz Somad mengimbau ummat Islam harus andil dan ambil bagian dalam menentukan kepemimpinan.

“Bapak Ibu Saudara ku sekalian. Mencoblos di bilik suara bukan sekadar mencucuk gambar calon pemimpin yang akan kita pilih. Tapi kita sudah bersaksi bahwa yang kita pilih itu adalah orang-orang yang mampu memperjuangkan Islam,” katanya.

Usai tausyiah di Ponpes Musthafawiyah, ustaz Somad melanjutkan safari dakwah untuk peringatan hari jadi ke-19 Pemkab Madina.

Peringatan dihelat di Komplek Pertapakan Kantor Bupati Madina Paya Loting. Setelah itu, rombongan ustaz Somad melanjutkan Tausyiah ke Kecamatan Siabu Madina dan bertolak ke Kota Padangsidimpuan mengisi tabligh akbar di Masjid Al Abrar pada malam harinya.

Sumber :Portal Islam 

Read More

Kamis, 08 Maret 2018

Ibadah yang Paling Dicintai Allah

08 Maret 0

Ibadah yang Paling Dicintai Allah


Foto: goodfon.com

BANDARpost, DIRIWAYATKAN dari Abu Hurairah ra : Rasulullah Saw pernah bersabda, “Perbuatan yang engkau lakukan tidak akan menyelamatkan engkau dari api neraka.”

Mereka berkata, “Bahkan engkau sendiri ya Rasulullah?”

Nabi Muhammad Saw bersabda,  “Bahkan aku sendiri, kecuali Allah melindungiku dengan kasih dan rahmatNya. Oleh karena itu lakukanlah perbuatan baik sepatut mungkin, setulus mungkin, sedapat mungkin dan beribadahlah kepada Allah pada pagi dan sore hari, pada sebagian dari malam hari dan bersikaplah al-qashd (mengambil pertengahan dan melaksanakannnya secara tetap) karena dengan cara itulah kamu akan mencapai (surga)”.

Diriwayatkan dari Aisyah ra : seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad Saw, “Apakah amal (ibadah) yang paling dicintai Allah?”

Nabi Muhammad Saw bersabda, “Amal (ibadah) yang dilakukan secara tetap meskipun sedikit.”

Diriwayatkan dari Abu Hurairah : seorang Arab Badui menemui Nabi Muhammad Saw dan berkata, “Katakan kepadaku sebuah jenis perbuatan (amal) yang apabila ku kerjakan akan membawaku ke surga.”

Nabi Muhammad Saw bersabda, “Beribadahlah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan apa pun, mengerjakan shalat, membayar zakat yang diwajibkan (mafrudhah), puasa di bulan Ramadhan”.

Orang badui itu berkata, “Demi Dia yang menggenggam hidupku, aku tidak akan mengerjakan lebih dari ini.”

Ketika orang badui itu telah pergi, Nabi Muhammad Saw bersabda, “Siapa pun yang ingin melihat penghuni surga, maka lihatlah orang itu.” []

Sumber :Islampos 

Read More

Sabtu, 03 Maret 2018

Doa Sudah, Ikhtiar Sudah, tapi Rezeki Masih Seret?

03 Maret 0

Doa Sudah, Ikhtiar Sudah, tapi Rezeki Masih Seret?


Foto: Daily Star

BANDARpost, Assalaamu alaikum warahmatullaahi wabarkaatuh. Ustadz, wirid apa yang kubaca agar aku keluar dari banyak masalah dan kesulitan rezeki setelah terus bersabar, ikhtiar, doa, berbaik sangka, optimistis, dan tawakal?

Wassalamu’alaikum warahmatullaahi wabarkaatuh. Perbanyak istigfar. Coba sahabatku buka surah Nuh ayat 10 -13, dengan banyak istigfar, Allah bukakan “biamwaalin” rezeki yang melimpah.

Rasulullah bersabda, “Barang siapa membiasakan istigfar, maka Allah mudahkan saat sulit, Allah tunjukkan jalan keluar dari masalahnya, dan Allah beri rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka,” (HR Ibnu Majah dan Abu Dawud).

Dosa itu membuat masalah, gelisah, dan sial, “Kemalangan kemalangan kalian karena dosa-dosa kalian” (QS Yasin 19), kalaupun sukses karena dosa itu “istidraaj” kesenangan sesaat dan semu, kemudian akhirnya bala juga (QS Hud 15-16).

Dengan istigar, Allah angkat dosa. Dengan terangkat dosa, terangkatlah masalah, gelisah, dan kesialan. Saatnya bagi sahabatku untuk selalu beristigfar saat berdiri, duduk, berbaring, di rumah, di kendaraan, di kantor, di pasar, dimana saja dan setiap selesai shalat Fardhu untuk tidak buru buru beranjak, beristigfar lebih dulu, dan terutama beristigfar di keheningan malam.

Seperti dalam firman-Nya:

“Hamba-hamba Allah yang beriman itu sedikit sekali rehatnya di waktu malam karena banyaknya mohon ampunan Allah,” (QS Azh Zhaariyaat 17-18).

Rasulullah bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar dan bertaubat kepada Allah lebih dari 70 kali dalam sehari,” (HR Bukhari).

Sahabat sholehku, Arifin yang banyak dosa ini berazam minimal sehari 1000 X, dan bukan seribu selesai tetapi terus dan terus Istigfar sehingga ketenangan dan energi taat terus bersama kita.

“Do it right now, you find it insya Allah sahabatku. Aamiin”. []

Dijawab oleh Ustaz Arifin Ilham,
Sumber: Islampos

Read More

7 Amal Penghapus Dosa

03 Maret 0

7 Amal Penghapus Dosa


Foto: Aldi/Islampos

BANDARpost, Manusia pasti tidak luput dari dosa. Baik itu kecil maupun besar, banyak ataupun sedikit. Bagaimana menghapusnya?

Berikut ini adalah tujuh amalan yang dapat dilakukan untuk menghapus dosa, yang kami kumpulkan dari berbagai sumber:

1. Taubat. Begitu pentingnya taubat karena merupakan gerbang segala ampunan. Taubat adalah wujud pengakuan hamba atas dosanya, dan jembatan pengakuan Allah bagi ampunan-Nya. Taubatlah yang menjadi kunci kebaikan untuk menghapus dosa dan kesalahan seorang hamba.

2. Sedekah. Dalam sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh Thabrani, Rasulullah SAW bersabda,” “…sedekah itu mematikan (melebur) kesalahan dan takwa itu membunuh kesalahan seperti air memadamkan api.”

3. Jihad. Bersumber dari hadis yang diriwayatkan oleh Thabrani, Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, “Orang yang mati syahid akan diampuni dosanya pada percikan darah yang pertama, dan akan dikawinkan dengan dua bidadari dan akan memberi syafaat tujuh puluh dari anggota keluarganya…”

4. Wudhu. Amalan ini pun termasuk amalan yang dapat meleburkan dosa sesuai hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dan Nasa’I, Rasulullah saw bersabda, “Sesiapa yang berwudhu seperti wudhuku ini, maka dosa-dosanya yang terdahulu akan diampuni. Sedangkan shalatnya, jalannya menuju masjid adalah amalan tambahan,”

5. Shalat. Amalan ini merupakan penebus dosa dan kesalahan seorang hamba. Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Muslim dan Tirmidzi bahwa Rasulullah saw menegaskan, “Shalat lima waktu, shalat Jum’at menuju Jum’at berikutnya adalah pelebur dosa di antara mereka, selama dosa-dosa besar tidak dilanggar.”

6. Puasa. Baik puasa wajib di bulan Ramadhan ataupun puasa sunnah, jika dilakukan maka dapat melebur dosa.

7. Haji. Diriwayatkan dari Imam Bukhori dan Imam Muslim, Rasulullah saw bersabda, “Sesiapa yang melaksanakan haji, lalu tidak berbicara kotor dan tidak fasik, dia akan kembali (diampuni) dari dosanya sebagai mana ia dilahirkan ibunya.”  []

Sumber: InspiraData, Islam pos

Read More

Jumat, 23 Februari 2018

Bertobat dengan Mengikat Diri

23 Februari 0

Bertobat dengan Mengikat Diri

Pertobatan yang sungguh-sungguh dan disertai penyesalan pasti diterima Allah SWT.

BANDARpost ,  JAKARTA -- Kisah yang berikut ini akan menggambarkan kepada kita tentang keseriusan generasi sahabat untuk bertobat. Mereka sadar betul akan sanksi yang diberikan Allah SWT, jika berbuat kesalahan dan tidak segera disertai dengan penyesalan yang sungguh-sungguh.

Seperti yang pernah dicontohkan Abu Lubabah. Sahabat kelahiran Madinah tersebut dikenal memiliki pekerti yang luhur juga pemaaf. Meski demikian, sosok yang termasuk kelompok awal pemeluk Islam itu merupakan pejuang tangguh di medan perang.

Suami Khansa binti Khandam al-Anshariyah ini kerap terlibat di berbagai peperangan bersama Rasulullah SAW hingga peristiwa itu terjadi, Abu Lubabah, menurut sebuah riwayat, urung ikut dalam Perang Tabuk.

Hal ini menjadi pukulan berat baginya. Kondisi ini membuatnya harus membayar kesalahannya itu dengan mengikatkan diri lalu tidak makan atau minum selama tujuh hari berturut-turut. Ia nyaris membahayakan keselamatan nyawanya.

Riwayat lain menyebutkan, penyebab munculnya rasa bersalah yang besar dalam diri sosok yang pernah dipercaya menjaga Madinah ketika Perang Badar meletus itu, muncul ketika peristiwa pengepungan Bani Quraizhah selama 25 malam.

Dalam penyerbuan ke perbentengan Yahudi Bani Quraizhah, Abu Lubabah ikut bersama Rasul. Urusan pemerintahan Madinah selama penyerbuan tersebut dipercayakan kepada Abdullah Ibn Ummi Maktum. Pengepungan benteng Bani Quraizhah berlangsung dalam kurun waktu tersebut secara estafet. Langkah ini membuat mereka terdesak. Persediaan logistik Bani Quraizhah menipis. Kondisi meleka terimpit.

Upaya diplomasi pun akhirnya ditempuh. Bani Quraizhah mengutus delegasi menghadap ke Rasul dan meminta kepada pemimpin tertinggi umat Islam itu agar mengirimkan Abu Lubabah bin Mudzir. Abu Lubabah terpilih lantaran ia dianggap sebagai kongsi dekat mereka. Ia akhirnya berangkat atas perintah Rasul.

Sebelumnya, Rasulullah meminta pendapat mereka agar yang akan memberikan keputusan adalah Sa'ad bin Mu'adz. Begitu anak-anak dan istri-istri mereka melihat Abu Lubabah datang, mereka menangis meraung-raung, memohon belas kasihannya. Sudah tentu, Abu Lubabah sebagai manusia tidak bisa menyembunyikan rasa iba dan harunya kepada mereka.

"Kami sudah mengatakan bahwa penduduk Madinah pada umumnya berhati lembut dan berjiwa pemaaf. Kasih sayangnya kepada sesamanya sangat besar," kata mereka.

Tentu saja Abu Lubabah, sebagai manusia, terpengaruh dengan ucapan ini. Mereka bertanya, "Wahai Abu Lubabah, bagaimana pendapatmu, apakah kami akan tunduk kepada putusan Sa'ad bin Mu'adz?"

Abu Lubabah lalu mengisyaratkan kepada mereka dengan tangannya yang diletakkan ke lehernya bahwa mereka akan disembelih. Maka, ia menyuruh mereka agar tidak mau menerima.

Abu Lubabah menyadari kesalahannya. "Demi Allah, kedua kakiku belum beranjak dari tempatku, melainkan telah mengetahui bahwa aku telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya."

Ia kemudian pergi ke masjid dan mengikatkan tubuhnya pada salah satu tiang. "Demi Allah, aku tidak akan makan dan minum hingga mati atau Allah mengampuni dosaku itu," ujarnya lirih.

Tujuh hari lamanya ia tidak makan dan minum, sehingga tak sadarkan diri, kemudian Allah mengampuninya. Lalu, ada yang menyampaikan berita itu kepadanya, "Wahai Abu Lubabah, Allah telah mengampuni dosamu."

Ia berkata, "Tidak. Aku tidak akan membuka ikatanku sebelum Rasulullah datang membukanya."

Tak lama setelah itu, Rasulullah pun datang membukanya. Abu Lubabah berkata kepada beliau, "Kiranya akan sempurna taubatku, kalau aku meninggalkan kampung halaman kaumku, tempatku melakukan dosa. Dan, aku akan menyumbangkan seluruh hartaku."

Rasulullah SAW menjawab, "Kau hanya dibenarkan menyumbang sepertiganya saja." Atas sikapnya itu, wajar bila Abu Lubabah termasuk dalam kategori penduduk Madinah yang berakhlak mulia, seperti tergambar dalam surah al-Hasyar ayat 9.

“Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. " (QS al-Hasyr: 9).

Sumber :Republika.co.id 

Read More

Kamis, 22 Februari 2018

Kikis Budaya Boros

22 Februari 0

Kikis Budaya Boros

Perlu digeliatkan kampanye menjauhi hidup boros.

BANDARpost ,  JAKARTA -- Syekh Dr Abdullah bin Ibrahim ath-Thariqi melalui bukunya yang berjudul Musykilat as-Saraf fi al-Mujtama’ al-Muslim wa ‘Ilajuha fi Dhau’ al-Islam melontarkan gagasan media yang bisa dijadikan sebagai sarana untuk mengikis boros. Di sisi keagamaan, ia mengusulkan optimalisasi dakwah melalui berbagai forum, seperti masjid. Optimalisasi peran masjid untuk berdakwah “perang” terhadap gaya hidup boros sangat diperlukan.

Di rumah ibadah inilah Muslim minimal akan mengunjunginya lima kali sehari untuk shalat lima waktu. Maka, beruntunglah mereka yang sadar betul akan fungsi vital masjid. “Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian.” (QS at-Taubah [9]: 81).

Oleh sebab itu, kikis budaya boros dari jalur pendidikan, baik formal ataupun nonformal. Pendidikan nonformal bisa diawali dengan memberikan contoh terbaik dalam keluarga.

Bagaimanapun, tiap manusia pada hakikatnya tercipta pada fitrahnya yang lurus. Maka, peran orang tua sangat menentukan pembentukan karakter si buah hati. Di level nonformal, lingkungan terdekat ikut pula memengaruhi watak seseorang. Karenanya, mesti menciptakan lingkungan yang kondusif dan terhindar dari kebiasaan boros.

Tak kalah penting, kata Syekh ath-Thariqi, yaitu memaksimalkan potensi media. Media kini berperan penting dalam upaya mencerdaskan masyarakat. Ada media elektronik audio visual ataupun media cetak. Kehadiran jejaring sosial dirasa akan sangat membantu penyebaran dakwah “perang” melawan hedonisme.

Dan, paling utama dari sekian media itu ialah bagaimana menumbuhkan kesadaran siapa pun agar menjauhi pola hidup boros. Itu, antara lain, bisa ditempuh dengan memahami apa hakikat harta dan kekayaan yang dimiliki. “Kesemuanya itu adalah titipan yang kelak akan dipertangggungjawabkan,” tulis Syekh ath-Thariqi. 

Sumber :Republika.co.id 

Read More

Selasa, 20 Februari 2018

Tobat Sarana Kesuksesan

20 Februari 0

Tobat Sarana Kesuksesan

Contoh nyata tobat sarana kesuksesan adalah Nabi Yunus.

BANDARpost ,  OLEH Moch Hisyam

Setiap insan mendambakan apa yang menjadi citacitanya dapat tercapai. Untuk itu, ia mengerahkan segenap potensi yang dimilikinya, baik berbentuk materi, tenaga, maupun pikiran. Tujuannya agar citacitanya tercapai. Namun, setelah segala upaya dilakukan, tidak jarang cita-cita yang didambakannya tak kunjung tercapai, bahkan kegagalanlah yang diraihnya.

Penyebabnya bisa karena jalan yang ditempuhnya salah, terlalu percaya terhadap kemampuan diri sehingga melupakan Allah SWT, bisa juga karena tidak bersabar meniti tangga kesuksesan. Kegagalan ini terkadang membuat kita berputus asa.

Padahal, berputus asa merupakan perbuatan yang dilarang. Allah SWT berfirman, "Katakanlah, 'Hai hambahamba- Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'" (QS Az-zumat [39]: 53).

Lantas, apa yang harus kita lakukan saat upaya kita meraih cita-cita diadang kegagalan? Bersegeralah bertobat kepada Allah SWT. Mengingat kembali apa yang telah kita lakukan, menyesali perbuatan salah yang pernah kita lakukan, bertekad memperbaikinya disertai memohon ampunan Allah SWT. Sebab, tobat merupakan sarana yang disediakan Allah SWT untuk menggapai citacita bagi orang-orang yang mengalami kegagalan dalam hidupnya.

Penjelasannya, ketika kita bertobat akan menjadikan diri kita sadar atas kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan dan menyadari bahwa kita adalah makhluk lemah yang tidak memiliki kemampuan apa-apa bila tidak ada pertolongan dan perlindungan Allah SWT.

Kesadaran ini akan menjadikan kita memperbaiki diri dan selalu berdoa serta bergantung pada Allah SWT. Selain itu, ketika bertobat akan menjadikan diri kita rendah diri di hadapan Allah SWT dan rendah hati terhadap sesama. Hal inilah yang akan menjadikan kita mendapatkan pertolongan Allah SWT dan disukai serta dibantu sesama karena manusia sealalu memiliki perhatian dan ingin membantu orang-orang yang rendah hati.

Contoh nyata tobat sebagai sarana meraih kesuksesan dapat kita lihat dari kisah Nabi Yunus ketika beliau merasa gagal dan putus asa atas dakwah yang dilakukannya. Kisah ini tercantum dalam Alquran.

Allah berfirman: "Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul, (ingatlah) ketika ia lari ke kapal yang penuh muatan, kemudian ia ikut berundi, lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Maka ia ditelan ikan besar dalam keadaan tercela. Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedangkan ia dalam keadaan sakit.

Dan Kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu. Dan Kami utus dia kepada 100 ribu orang atau lebih. Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu." (QS ash-Shaffat [37]: 139-148).

Untuk itu, bila kita mengalami kegagalan dalam meniti cita-cita, janganlah kita berputus asa. Namun, hendaknya kita bersegera bertobat karena ia sarana yang disediakan Allah SWT untuk meraih kesuksesan yang tertunda. Allahu'alam.

Sumber : Republika.co.id

Read More

Jumat, 16 Februari 2018

Kesempurnaan Hanya Milik Allah​

16 Februari 0

Kesempurnaan Hanya Milik Allah​

# Tidak ada ulama yang selalu jitu dalam fatwa-fatwanya

#Tidak ada pembalap yang tidak pernah tergelincir

# Tidak ada koki yang tidak pernah gagal dalam meracik makanan

#Tidak ada Sang Juara tanpa pernah kalah dan gagal

#Tidak ada suami yang selalu menjadi Pelindung dan Pengayom bagi istrinya

#Tidak ada istri yang selalu jadi ratu cantik di rumahnya

#Tidak ada manusia hidupnya tanpa kurang, aib dan cela 

Al Fudhail bin 'Iyadh Rahimahullah berkata:

من طلب أخا بلا عيب، بقي بلا أخ.

Siapa yang mencari saudara tanpa aib maka dia tidak akan pernah punya saudara selamanya. 

(Durar min Aqwaal Aimmah As Salaf)

Sumber : MAJELIS IMAN ISLAM

Read More

Ikhlas, Kunci Ketenangan dalam Hidup

16 Februari 0

Ikhlas, Kunci Ketenangan dalam Hidup

Jika dia dalam kondisi ikhlas level tinggi itu maka jiwanya tenang.

BANDARpost , JAKARTA -- Iklhlas bisa menjadi pengantar jiwa menjadi sehat. Ahli Psikologi Islam Mohamad Soleh mengatakan hal itu selaras dengan quran Surat Al-Fajr ayat 27 yang berbunyi 'Wahai Jiwa yang Tenang'.

Di situ Allah memanggil umat yang jiwa-jiwa-nya tenang dengan maksud ketenangan jiwa didapati jika hati ikhlas mengahadapi apapun di dunia ini.  "Seseorang akan powerful empowering, jika dia dalam kondisi ikhlas level tinggi itu maka jiwanya tenang, hatinya tenang, pikirannya poitif, dan apapun yang terjadi dia ridho dengan kondisinya sehingga mudah dapat petunjuk Allah," ujar Soleh ketika dihubungi Republika.co.id, Rabu (14/2)

Menurut penulis buku Smart Empowerment Technique (SET) ini, orang  sehat jika jiwanya tenang dalam artian di sini adalah keridhoan diri. Sebab, semua adalah milik Allah.

"Bagaimana ciri orang ikhlas level tinggi? yaitu tenang dan kembali ke tuhan dengan cara meridhoi kondisi kita saat ini, menerima apa adanya, kalau diri kita sendiri ridho, bagaimana Allah, pasti ridho, karna Aku adalah prasangka hambaku," kata dia.

Soleh mengaskan jika manusia berkeinginan sehat mental dan ijwa, manusia harus berserah diri sesuai dengan definisi Islam itu sendiri yaitu berserah diri. Hal itu, adalah ikhlas level tinggi.

Contoh kasus ia menyontohkan para calon kepala daerah yang mesti ikhlas sebagian assetnya disodahkohkan untuk kepentingan kampanye-nya. Jika tujuannya baik dan ikhlas karena Allah dan ingin berniat mengabdi untuk negara dengan memakmurkan rakyat, maka kata dia Insyallah Allah akan meridhoi.

"Kalau mau ikut pilkada atau pemilihan pemda, kita harus ikhlas dengan apa yang kita keluarkan, ikhlasin jangan pernah berharap balik modal. Kalau balik modal hancur sudah," ujar soleh. 

Sumber : Republika.co.id

Read More

Senin, 12 Februari 2018

Dosa-dosa Wanita yang Tidak Disadari Setiap Harinya

12 Februari 0

Dosa-dosa Wanita yang Tidak Disadari Setiap Harinya


BANDARpost, Dalam urusan berpakaian seorang muslimah tidak boleh membuka aurat, atau memakai pakaian tipis, ketat, dan pendek. Rasulullah bersabda,

“Ada dua penghuni Neraka yang belum aku lihat. Kaum yg memukul manusia dgn cambuk seperti ekor sapi. Dan wanita yang berpakaian tapi telanjang, mereka menebar fitnah & berjalan lenggak-lenggok. Kepala mereka seakan punuk unta yg condong. Mereka tidak akan masuk surga & tidak akan mencium aromanya. Padahal, aroma surga dapat tercium dari jarak yg sangat jauh.” (HR. MUSLIM)

Dalam urusan penampilan, seorang wanita tidak boleh berhias untuk selain suaminya, atau keluar masuk salon demi penampilan, menyambung rambut, & juga mencukur alis. Rasulullah bersabda,

“Terlaknatlah wanita yg menyambung dan minta dismbungkan rambutnya, wanita yg mncukur & minta dicukur alisnya, wanita yg menato dan minta ditato”. (HR. Abu Dawud, di-Shahih-kan oleh Al-Albany)

Rasulullah jg melarang para wanita memakai wewangian saat keluar rumah & melewati kaum laki-laki shg tercium wanginya. Beliau bersabda,

“Wanita yg memakai parfum, lalu melewati suatu kaum dgn tujuan agar mereka mencium harumnya. Maka ia adalah wanita pezina”. (HR. An-Nasa’i dan dihasankan oleh Al-Albani)

Dosa lain yg sering diremehkan oleh para muslimah yaitu berkawan akrab dgn lelaki, berbincang akrab dgnnya, baik lgsung atau melalui sosial media. Jalan-jalan berdua, berkendara berdua, makan berdua, hingga berduaan di suatu tempat dengannya. Rasulullah bersabda,

“Tidaklah seorang lelaki berduaan dengan wanita, melainkan yang ketiganya adalah setan”. (HR. At-Tirmidzi di-shahih-kan oleh Al-Albani)

Saat seorng muslimah jg menghindari berjabat tangan dgn selain mahramnya. Apalagi sampai cipika cipiki. Rasulullah bersabda,

“Sungguh, ditusuknya kepala salah seorg diantara kalian dgn jarum besi lebih baik baginya, drpada mnyentuh wanita yg bukan mahramnya”. (HR. Ath-Thabrani, di-hasan-kan oleh Al-Albani)

Sumber: Komunitas Nekad Hijrah

Read More

Jumat, 09 Februari 2018

Amalkan 4 Cara Ini Pada Hari Jum’at, Niscaya Rezekimu Datang Mendadak dan Berlimpah Ruah

09 Februari 0

Amalkan 4 Cara Ini Pada Hari Jum’at, Niscaya Rezekimu Datang Mendadak dan Berlimpah Ruah


BANDARpost, Rezeki memang tdk hanya berupa materi dan uang saja. Tapi juga bisa dalam bentuk lain yang mampu mendatangkan kebahagiaan. Namun umumnya manusia bekerja setiap hari untuk mendapatkan uang.

Jumlah rezeki masing-masing orang berbeda setiap bulannya. Para pekerja biasanya sdh memiliki takaran berapa jumlah materi yg akan didapatkan setiap bulan. Pendapatan ini lah yang kemudian digunakan utk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Namun tahukah anda bahwa ternyata ada rezeki yg datangnya dadakan dan tdk disangka-sangka? Caranya adalah dgn melakukan amalan-amalan yg mudah dilakukan berikut ini. Apa saja? Berikut 4 cara menjemput rezeki agar datang mendadak.

1. Bersedekah.

Bersedekah adalah memberikan sebagian yg kita miliki kepada orang lain. Allah SWT menjanjikan ganti yang pasti kepada mereka yg bersedekah utk orang lain. Baik sedekah materi maupun sedekah dalam bentuk lain. Allah menjelaskan hal ini dalam Alquran Surat Al-Baqarah ayat 261 yang artinya:

“Perumpamaan (nafkah yg dikeluarkan oleh) orang-orang yg menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dan sebutir benih yg menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir berisi seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.” (Al-Baqarah:261)

Jadi, meski bersedekah pada awalnya dpt mengurangi harta yg kita miliki, namun selanjutnya, Allah SWT akan mengganti dengan berlipat ganda. Akan tetapi, dalam bersedekah sebaiknya kita berharap ganti untuk akhirat dibanding mengharap balasan di dunia. Terlebih jika saat bersedekah kita hanya berharap balasan harta, dan bukan ridha dari Allah SWT.

2. Perbanyak Syukur.

Bersyukur merupakan cara utk mendapatkan lebih. Matematika Allah SWT sangat berbeda dengan matematika yg digunakan manusia. Lihat saja, bagaimana Allah sangat mudah memberikan lebih kepada mereka yg bersyukur. Ada saja jalan rezeki bagi mereka yg tidak mengeluh, meski dalam kondisi yang terbatas dan kekurangan.

Bukankah hal ini juga sudah dijanjikan dalam Allah SWT dalam Alquran, bahwa siapa yg bersyukur maka Allah akan menambahkan nikmat-Nya. Namun mereka yg mendustakan, maka akan mendapat azab yg pedih.

“(Ingatlah) ketika Rabbmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat”. QS. Ibrahim: 7.

3. Membaca Surat Al Waqiah.

Surah Al Waqiah juga dikenal sebagai surat pendatang kekayaan. Surat ke-56 ini berisi kandungan iman dan tauhid, bukti kekuasaan Allah SWT serta  adanya hari kebangkitan.

“Ajarkanlah Surat Al Waqiah kepada isteri-isterimu. Kerana sesungguhnya ia adalah surah Kekayaan.” (Hadis riwayat Ibnu Ady)

4. Banyak Beristigfar.

Istigfar juga menjadi salah satu amalan penjemput rezeki. Terkadang dosa-dosa yg kita lakukan akan menutup pintu rezeki dalam diri. Sehingga meski sudah berusaha semaksimal mungkin, namun tetap saja rezeki yang diinginkan tidak kunjung didapatkan.

Istigfar merupakan dzikir yang maknanya memohon ampun atas dosa-dosa yang pernah kita perbuat. Imam Al-Hasan Al-Bashri juga menganjurkan agar manusia beristighfar jika mengalami  kegersangan, kefakiran, sedikitnya keturunan dan kekeringan kebun-kebun. Jadi perbanyaklah istigfar jika rezeki tidak kunjung hadir.

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepadaNya. (Jika kamu mengerjakan yg demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yg baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yg telah ditentukan, dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yg mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari Kiamat”. (Hud : 3)

Semoga dgn amalan-amalan ini, Allah SWT akan mendatangkan rezeki secara mendadak kepada hamba-hambaNya.

Sumber :Islamidia 

Read More

Sadari Postinganmu Bisa Membawa Pahala atau Dosa

09 Februari 0

Sadari Postinganmu Bisa Membawa Pahala atau Dosa



BANDARpost, Sering mengirim postingan di sosial media? Baik berupa facebook, instagram, twitter, dan lainnya? Apa yang biasanya Sahabat Ummi posting?

Ada yang memosting foto masakannya dan berbagi resep, ada yang memosting cerita tentang anaknya, ada yang memosting foto selfienya, apapun itu... tahukah bahwa postingan kita bisa membawa pahala atau dosa bagi diri kita?

Apa contohnya postingan membawa dosa? Misalnya mengeluhkan soal pasangan hidup, apalagi kalau sampai membongkar aib pasangan, ini sangat berpotensi membawa dosa untuk diri kita.

Contoh lain adalah postingan selfie yang mengumbar syahwat. Meskipun tertutup hijab, tapi kalau foto selfie kita sengaja memamerkan kecantikan atau dengan gaya mengumbar, potensi membawa dosa juga lho.

Selanjutnya adalah postingan yang memfitnah orang lain, atau menyebar hoax. Aduuh bahaya ya Sahabat Ummi, saat ini berita hoax ataupun nyata harus dikonfirmasi dulu kebenarannya, jangan asal share atau diposting sebelum kita tahu kebenarannya.

Bahkan postingan berisi ayat quran pun bisa lho berpotensi membawa dosa, kok bisa? Yaa... kalau kita mempostingnya dengan niat mempertunjukkan kepintaran kita atau memperlihatkan keshalehan diri kita. Naudzubillah min dzalik. 

Kalau memang mau posting seperti ini bisa dengan akun tanpa nama pribadi, lebih aman karena terhindar dari risiko ujub. Atau kalaupun pakai akun pribadi, pastikan niatnya lurus untuk memberi tausiyah bukan untuk pamer keshalehan atau menggunakan ayat dan hadits untuk menambah followers. 

Lalu, postingan seperti apa sih yang bisa membawa pahala? Yaa tentu saja semua postingan yang memberi inspirasi untuk berbuat baik, dan diposting dengan niatan yang lurus tentunya.

Pertanyaannya, sudahkah kita membuat postingan yang bermanfaat di sosmed? Atau psotingan kita kebanyakan hanyalah memperkeruh suasana saja? Yuk sama-sama introspeksi.

Sumber :Ummi Online 

Read More

Bahaya Mengatakan Saya Tidak Punya Uang

09 Februari 0

Bahaya Mengatakan Saya Tidak Punya Uang



BANDARpost, Kata-kata terlihat sepele tapi sebenarnya sungguh memiliki power besar. Banyak sekali kejadian di mana kata-kata yang kita ucapkan menjadi kenyataan. Bagaimana bisa demikian? 

Dalam ilmu Psikologi kita dikenalkan dengan adanya kekuatan alam bawah sadar, nah... kata-kata yang kita ucapkan bisa menempel di alam bawah sadar ini, sehingga jika terus kita ucapkan berulang-ulang berubah menjadi sesuatu yang diyakini dan lama kelamaan bisa mewujud nyata. 

Ketika kita mengatakan pada anak dan istri berulang-ulang, "Bapak tidak punya uang." Bukankah efeknya bisa sangat mengerikan? 

Lebih baik ganti kata-kata negatif tersebut menjadi doa, "Doakan yaa Bapak dapat uang dan rezeki melimpah besok..." 

Sekalipun memang kondisinya benar-benar tidak punya uang, biasakan untuk tidak mengucapkannya apalagi sampai berulang-ulang. Kita akan semakin meyakini kondisi tidak punya uang tersebut adalah kebenaran, dan itu sebabnya kita benar-benar sering berada dalam kondisi tidak punya uang. 

Yuk pilah pilih kata yang mengandung doa daripada mengandung hal negatif dan pesimistis. Semoga artikel singkat ini bermanfaat. 

Sumber : Ummi Online

Read More

Rabu, 07 Februari 2018

Malas Beribadah? Ini Obatnya

07 Februari 0

Malas Beribadah? Ini Obatnya


BANDARpost, Asy-Syaikh al-Munawar Abdul Kabir bin Abdullah Bahmid pernah bertanya: “Apakah obat bagi orang yang merasa berat untuk melakukan kebaikan dan cenderung memperturutkan hawa nafsu, meskipun ia mencintai kebaikan serta para pelakunya dan membenci kejahatan serta para pelakunya?”

Al-Quthb al-Imam al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad Ra. Menjawab: “Malas beribadah dan cenderung memperturutkan hawa nafsu dapat disebabkan oleh 4 hal:

Kebodohan, mengatasinya dengan mencari ilmu yang bermanfaat.Lemah iman, mengobatinya dengan bertafakkur mengenai kekuasaan Allah di langit dan bumi serta tekun beramal saleh.Panjang angan-angan, mengobatinya dengan mengingat mati dan menyadari bahwa kematian dapat datang setiap saat.Makan sesuatu yang syubhat, cara mengatasinya dengan bersikap wara’ (menjaga diri dari kesyubhatan) dan sedikit makan.

Siapapun yang berhasil menghilangkan penyakit-penyakit tersebut dengan cara di atas, maka ia tidak akan mudah merasa bosan dalam beribadah dan beramal saleh di setiap waktu. Dan ia tidak akan memperturutkan hawa nafsu serta tidak terlalu mengejar kenikmatan duniawi.

Janganlah mengharapkan kenikmatan ibadah pada tahap awal perjuangan, sebab hal itu tidak mungkin dapat dicapai sebelum seseorang benar-benar bermujahadah. Begitulah sunnatullah:

وَ لَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللهِ تَبْدِيْلاً

“Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan perubahan pada sunnatullah.” (QS. al-Ahzab ayat 62).

Tahap awal perjuangan adalah menjauhi hal-hal yang diharamkan syariat, mengendalikan hawa nafsu dan memaksanya untuk taat kepada Allah. Semua ini akan terasa berat dan sulit.

Apabila Allah Swt. telah mengakui kesungguhan hatinya, ketulusan niatnya untuk menyucikan jiwa, dan kelurusan budinya, maka saat itulah Allah akan melindungi orang itu dan meliputinya dengan luthf-Nya yang tersembunyi.

Sehingga dalam beribadah dan beramal, ia dapat merasakan kenikmatan dan kelezatan yang tiada tara, kenikmatan yang tidak akan membuatnya lalai lagi dari Allah.

Sebaliknya, ia akan merasakan kepedihan yang dalam ketika bermaksiat; ia tidak akan tergoda dan tertipu oleh nafsunya. Allah mewahyukan:

ذلِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشآءُ

“Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki.”  (QS. al-Jumu‘ah ayat 4).

وَ الَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَناَ

“Dan orang-orang yang berjihad (untuk mencari keridhaan Kami), benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. al-Ankabut ayat 69).

وَ تَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنَى عَلَى بَنِيْ إِسْرَآئِيْلَ بِمَا صَبَرُوْا

“Dan telah sempurnalah kalimat Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka.”  (QS. al-A’raf ayat 137).

وَعَدَ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِيْ اْلأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kalian dan mengerjakan amal-amal saleh, bahwa Ia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa.” (QS. an-Nur ayat 55).

Sumber: muslimedianews.com

Read More

Sabtu, 03 Februari 2018

Memahami Ngalap Berkah

03 Februari 0

Memahami Ngalap Berkah



BANDARpost, Barokah atau berkah selalu diinginkan oleh setiap orang. Namun sebagian kalangan salah kaprah dalam memahami makna berkah sehingga hal-hal keliru pun dilakukan untuk meraihnya. Coba kita saksikan bagaimana sebagian orang ngalap berkah dari kotoran sapi. Ini suatu yang tidak logis, namun nyata terjadi. Inilah barangkali karena salah paham dalam memahami makna keberkahan dan cara meraihnya. Sudah sepatutnya kita bisa mendalami hal ini.

Makna Barokah

Dalam bahasa Arab, barokah bermakna tetapnya sesuatu, dan bisa juga bermakna bertambah atau berkembangnya sesuatu. Tabriik adalah mendoakan seseorang agar mendapatkan keberkahan. Sedangkan tabarruk adalah istilah untuk meraup berkah atau “ngalap berkah”.

Adapun makna barokah dalam Al Qur’an dan As Sunnah adalah langgengnya kebaikan, kadang pula bermakna bertambahnya kebaikan dan bahkan bisa bermakna kedua-duanya. Sebagaimana do’a keberkahan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sering kita baca saat tasyahud mengandung dua makna di atas.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Maksud dari ucapan do’a “keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad karena engkau telah memberi keberkahan kepada keluarga Ibrahim, do’a keberkahan ini mengandung arti pemberian kebaikan karena apa yang telah diberi pada keluarga Ibrahim. Maksud keberkahan tersebut adalah langgengnya kebaikan dan berlipat-lipatnya atau bertambahnya kebaikan. Inilah hakikat barokah”. (Jalaul Afham fii Fadhlish Sholah ‘ala Muhammad Khoiril Anam, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Darul ‘Urubah Kuwait, cetakan kedua, 1407, hlm. 308)

Seluruh Kebaikan Berasal dari Allah

Allah Ta’ala berfirman,

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS. Ali Imron: 26).

Berbagai Keberkahan yang Halal

Setelah kita mengerti dengan penjelasan di atas, maka untuk meraih barokah sudah dijelaskan oleh syari’at Islam yang mulia ini. Sehingga jika seseorang mencari berkah namun di luar apa yang telah dituntunkan oleh Islam, maka ia berarti telah menempuh jalan yang keliru. Karena ingatlah sekali lagi bahwa datangnya barokah atau kebaikan hanyalah dari Allah.

Perlu diketahui bahwa keberkahan yang halal bisa ada dalam hal diniyah dan hal duniawiyah, atau salah satu dari keduanya. Contoh yang mencakup keberkahan diniyah dan duniawiyah sekaligus adalah keberkahan pada Al Qur’an Al Karim, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum.  Keberkahan seperti ini juga terdapat pada majelis orang shalih, keberkahan bulan Ramadhan, keberkahan makan sahur. Keberkahan pada hal diniyah saja semisal pada tiga masjid yang mulia yaitu masjidil harom, masjid nabawi, dan masjidil aqsho. Sedangkan keberkahan pada hal duniawiyah seperti keberkahan pada air hujan, pada tumbuhnya berbagai tumbuhan, keberkahan pada susu dan hewan ternak. Lihat At-Tabarruk, hlm. 44.

Ada satu catatan yang perlu diperhatikan. Keberkahan yang halal di atas kadang diketahui karena ada dalil tegas yang menunjukkannya, kadang pula dilihat dari dampak, di sisi lain juga dilihat dari kebaikan yang amat banyak yang diperoleh. Namun untuk keberkahan dalam hal duniawiyah bisa diperoleh jika digunakan dalam ketaatan pada Allah. Jika digunakan bukan pada ketaatan, itu bukanlah nikmat, namun hanyalah musibah. Lihat At-Tabarruk, hlm. 44.

Contoh Ngalap Berkah yang Halal

Kami contohkan misalnya keberkahan orang shalih, yaitu orang yang shalih secara lahir dan batin, selalu menunaikan hak-hak Allah. Di antara keberkahan orang shalih adalah karena keistiqomahan agamanya. Karena istiqomahnya ini, dia akan memperoleh keberkahan di dunia yaitu tidak akan sesat dan keberkahan di akhirat yaitu tidak akan sengsara. Allah Ta’ala berfirman,

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى

Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thoha: 123).

Keberkahan orang shalih pun terdapat pada usaha yang mereka lakukan. Mereka begitu giat menyebarkan ilmu agama di tengah-tengah masyarakat sehingga banyak orang pun mendapat manfaat. Itulah keberkahan yang dimaksudkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut orang-orang shalih yang berilmu sebagai pewaris para nabi. “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Abu Daud, no. 3641; At Tirmidzi no. 2682 dan Ibnu Majah no. 223. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Keberkahan juga bisa diperoleh jika seseorang berlaku jujur dalam jual beli. Dari Hakim bin Hizam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Orang yang bertransaksi jual beli masing-masing memilki hak khiyar (membatalkan atau melanjutkan transaksi) selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur dan terbuka, maka keduanya akan mendapatkan keberkahan dalam jual beli, tapi jika keduanya berdusta dan tidak terbuka, maka keberkahan jual beli antara keduanya akan hilang”. (HR. Bukhari, no. 2079 dan Muslim, no. 1532)

Ketika seseorang mencari harta dengan tidak diliputi rasa tamak, maka keberkahan pun akan mudah datang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan pada Hakim bin Hizam, “Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu hijau lagi manis. Barangsiapa yang mencarinya untuk kedermawanan dirinya (tidak tamak dan tidak mengemis), maka harta itu akan memberkahinya. Namun barangsiapa yang mencarinya untuk keserakahan, maka harta itu tidak akan memberkahinya, seperti orang yang makan namun tidak kenyang. Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.” (HR. Bukhari no. 1472)

Yang dimaksud dengan kedermawanan dirinya, jika dilihat dari sisi orang yang mengambil harta berarti ia tidak mengambilnya dengan tamak dan tidak meminta-minta. Sedangkan jika dilihat dari orang yang memberikan harta, maksudnya adalah ia mengeluarkan harta tersebut dengan hati yang lapang. Lihat Fath Al-Bari, 3:336.

Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Qona’ah dan selalu merasa cukup dengan harta yang dicari akan senantiasa mendatangkan keberkahan. Sedangkan mencari harta dengan ketamakan, maka seperti itu tidak mendatangkan keberkahan dan keberkahan pun akan sirna.” Lihat Syarh Bukhari li Ibni Batthol, 6:48.

Begitu pula keberkahan dapat diperoleh dengan berpagi-pagi dalam mencari rizki. Dari sahabat Shokhr Al Ghomidiy, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim peleton pasukan, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirimnya pada pagi hari. Sahabat Shokhr sendiri adalah seorang pedagang. Dia biasa membawa barang dagangannya ketika pagi hari. Karena hal itu dia menjadi kaya dan banyak harta. (HR. Abu Daud, no. 2606; Tirmidzi, no. 1212; Ibnu Majah, no. 2236. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Ngalap Berkah dari Selain Nabi

Yang kita temukan pada dalil adalah ngalap berkah dari para sahabat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits berikut menunjukkan bagaimanakah para sahabat ngalap berkah dari bekas wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Abu Juhaifah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar menemui kami dalam keadaan cuaca yang begitu panas. Beliau didatangkan air untuk berwudhu, lantas beliau berwudhu dengannya. Ketika itu orang-orang mengambil bekas wudhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mereka mengusap-ngusapnya. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat Zhuhur dan ‘Ashar masing-masing dua raka’at. Saat itu di tangan beliau ada tongkat.” (HR. Bukhari no. 187 dan Muslim no. 503).

Imam Asy Syatibi rahimahullah yang wafat tahun 790 H berkata, “Para sahabat radhiyallahu ‘anhum sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak didapati ngalap berkah tersebut ada pada mereka dilakukan oleh orang-orang setelahnya. Padahal ada Abu Bakr Ash Shiddiq adalah khalifah sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula Umar, Utsman dan Ali, kemudian ada lagi sahabat lainnya yang memiliki keutamaan, ternyata tidak didapatkan satu riwayat pun dari mereka dengan jalan yang shahih dan ma’ruf yang menunjukkan bahwa mereka mengambil berkah dari lainnya sebagaimana ngalap berkah pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para sahabat hanyalah cukup mencontoh perbuatan, perkataan dan jalan hidup beliau sepeninggalnya. Jadi ini sama saja dikatakan sebagai ijma’ (kesepakatan para sahabat) bahwa ngalap berkah terhadap zat sebagaimana para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan pada nabinya tidak dibolehkan lagi setelah itu.” (Al I’tisham, 2: 8-9).

Hukum Ngalap Berkah

Syirik akbar (besar) seperti yang dilakukan oleh orang-orang musyrik yaitu dengan berkeyakinan pohon, batu atau kubur sebagai perantara pada Allah di mana ia menjadikan ilah (sesembahan) tandingan bagi Allah.Syirik ashgor (kecil) jika dengan menabur debu dan mengusap badan sebagai sebab untuk dapat berkah dan tidak punya keyakinan seperti yang pertama. Jadi ngalap berkah itu cuma jadi sebab saja. Inilah yang jadi keyakinan rata-rata oleh pemakai jimat yang menjadikannya cuma sebagai sebab saja. Hukum kedua ini tidak ada ibadah kepada selain Allah, hanya saja di dalamnya ada keyakinan pada sebab yang tidak benar yang tidak ditetapkan oleh syari’at.

Lihat pembahasan Syaikh Shalih Alu Syaikh dalam At Tamhid, hlm. 155.

Semoga mendapatkan taufik dan hidayah.

Disusun di

Perpus Rumaysho, 16 Jumadal Ula, Jumat sore

Oleh:

Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber : Rumaysho.Com

Read More

5 Manfaat Luar Biasa yang Akan Anda Peroleh Jika Melafalkan “La Ilaha Illallah”

03 Februari 0

5 Manfaat Luar Biasa yang Akan Anda Peroleh Jika Melafalkan “La Ilaha Illallah”


BANDARpost, La ilaha illallah bagi umat Islam tidak hanya berfungsi sebagai kalimat tauhid. Memang benar, kalimat ini menjadi salah satua rukun Islam.

Dengan kata lain, keislaman seseorang tidak bisa dianggap sah, tanpa melafalkan kalimat ini. Kalimat ini selain bukti keislaman, juga bagian dari ikrar keimanan.

Selain berhubungan dengan akidah, kalimat ini ternyata mempunyai banyak manfaat. Manfaatnya pun tidak hanya sesuatu yang didapat di dunia, tetapi juga manfaat-manfaat di akhirat nanti.

Inilah yang mungkin menjadi dasar para ulama mentradisikan hal-hal yang berhubungan dengan kalimat ini. Maka, muncullah istilah tahlilan, yang pada intinya membiasakan memperbanyak melafalkan kalimat ini.

Apa saja manfaat bisa didapat saat melafalkan kalimat ini? Berikut 5 di antaranya:

1. Bisa Memperbarui Iman
Bukan hanya aplikasi Android saja yang butuh upgrade, tapi iman juga butuh di-upgrade, lho. Bagaimana caranya? Caranya gampang banget kok. Nggak perlu pake kuota. Cukup mengucapkan kalimat tauhid “la ilaha illallah”.

Ini sebagaimana sabda Rasulullah Saw., “Perbaruilah imanmu.” Ada yang bertanya, “Bagaimana cara memperbarui iman, ya Rasulullah?” Perbanyaklah membaca La ilaha illallah,” jawab Nabi (HR Ahmad dan Hakim).

2. Api Neraka Haram Menyentuh Tubuh
Pernah kena luka bakar? Ingat tidak bagaimana panasnya? Tentu rasa panas itu tidak sebanding dengan panasnya api neraka.

Lalu, adakah amalan yang bisa menjauhkan kita dari api neraka. Tentunya ada dong. Perhatikan sabda Rasulullah Saw. berikut:

Dari Ali bin Abi Thalib berkata, Nabi Saw. bersabda, “Jibril pernah bicara (padaku) bahwa Allah berfirman, ‘La ilaha illallah adalah benteng-Ku. Barangsiapa yang memasukinya, maka akan aman dari siksaan-Ku,’” (HR Ibnu Asakir).

3. Bisa Membinasakan Iblis
Iblis adalah makhluk Allah yang diciptakan dari api yang tugasnya menjerumuskan anak-cucu Adam ke neraka-Nya yang sangat panas. Lalu, bagaimana caranya agar kita terhindar dari godaan iblis dan bisa membinasakannya?

Perhatikan hadis Nabi dari Abu Bakar r.a. berikut. “Ucapkan selalu la ilaha illallah dan istigfar. Usahakan kamu membaca keduanya sebanyak mungkin. Ilis pernah sesumbar,

‘Aku telah merusak manusia dengan beberapa dosa yang dijalankan, dan mereka membinasakan aku dengan bacaan la Ilaha Illallah dan istigfar.’”

4. Menjadi Zikir yang Paling Utama
Sudah diketahui umat iIlam pada umumnya bahwa membaca la Ilaha Illallah merupakan zikir yang paling utama. Apa yang diyakini tersebut termaktub dalam sabda Rasulullah Saw. berikut: “Zikir yang paling utama adalah membaca la ilaha illallah.”

5. Dijamin Masuk Surga
Masuk surga merupakan cita-cita semua manusia. Bagaimana tidak, di surga kita sudah dijanjikan berbagai kenikmatan yang tiada duanya dan tidak kita dapatkan di dunia ini. Rasulullah Saw. bersabda,

“Siapa yang akhir hidupnya mengucap la ilaha illah, maka dia dijamin masuk surga,” (HR Abu Daud dan Ahmad).

Sepertinya sangat mudah sekali ya menggapai pahala-pahala besar dan surga Allah dengan hal-hal yang kecil seperti hanya mengucap la ilaha illallah.

Tapi perlu diingat, kita tidak bisa langsung bisa menikmati surga Allah dengan hanya membaca tahlil saja.

Tapi juga harus menjalankan perintah-perintah yang diwajibkan Allah Swt., seperti salat, puasa, zakat, haji, sedekah, dan masih banyak amalan-amalan lainnya. Semoga kita semua termasuk hamba yang selalui diberi petunjuk oleh Allah Swt.

Sumber: datdut.com, islamidia.com

Read More