BANDAR post: OPINI

Hot

Tampilkan postingan dengan label OPINI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OPINI. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Juli 2020

"Ayo Kita Tes Trisila-Ekasila Itu Makar atau Bukan"

03 Juli 0
"Ayo Kita Tes Trisila-Ekasila Itu Makar atau Bukan"





 Penulis: Asyari Usman (wartawan senior)

Sejauh ini, kepolisian masih belum bertindak. Mereka belum turun tangan mengusut dugaan makar terkait keinginan PDIP untuk memeras Pancasila menjadi Trisila dan Ekasila. Pihak-pihak yang menentang RUU HIP berkali-kali mendesak agar Polisi melakukan pengusutan.

Baik. Boleh jadi kepolisian tidak bertindak karena merasa gagasan Trisila-Ekasila itu bukan perbuatan makar. Atau, bisa juga karena terduga makar “terlalu besar” untuk diurus oleh Pak Polisi. Wallahu a’lam.

Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya.

Sekarang, mari kita tes. Sekadar ujicoba untuk memastikan Trisila-Ekasila itu makar atau bukan. Caranya sangat mudah. Dan bisa dilakukan secara terbuka oleh siapa saja. Tidak perlu sembunyi-sembunyi.

Begini. Kita minta salah satau “fraksi kanan” di DPR, apakah itu PKS, PKB, PAN, atau PPP, membuat dan mengajukan RUU untuk mengubah Pancasila. Khususnya, sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Sebut saja RUU itu berjudul “Solidasi Sila Ketuhanan” (SSK). Singkatnya, RUU SSK.

Yang diubah tidak banyak-banyak. Dan tidak ruwet. Yaitu, mengubah sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi “Katakanlah, Allah Itu Maha Esa”. Ini diambil dari ayat pertama surah al-Ikhlas: “Qul Hua Allahu Ahad”.

Itu saja yang diusulkan untuk diubah. Boleh dikatakan, tidak ada perubahan makna yang berarti dari “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Dalam RUU SSK ini, partai pengusul (inisiator) tentunya membuat uraian tambahan sebanyak puluhan halaman. Yang menjelaskan perlunya penguatan atau solidasi dasar negara. Jelaskan di dalam RUU SSK bahwa usul mengubah redaksi Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi “Katakanlah, Allah Itu Maha Esa” (KAIME) akan meningkatkan kekuatan batin manusia Indonesia.

Jelaskan bahwa KAIME akan menjadi sumber ketakwaan yang sesungguhnya. Sedangkan ketakwaan yang sesungguhnya akan menjadikan manusia Indonesia semakin sadar tentang perlunya kebersamaan. Pemahaman KAIME (Qul Hua Allahu Ahad) dengan baik akan menumbuhkan sifat dan watak sosial yang kuat. Yang akhirnya akan menumbuhkan keadilan sosial yang terbaik di dunia.

Pokoknya, siapkan narasi yang penjang-lebar dan mendalam bahwa KAIME bukan gagasan manusia. Melainkan wahyu Tuhan. Kalau Trisila dan Ekasila ‘kan cuma pikiran manusia. Sebutlah pikiran Bung Karno. Sedangkan “Qual Hua Allahu Ahad” adalah firman Yang Maha Agung.

Siapkan RUU SSK dengan 40 pasal, misalnya. Ajukan ke Badan Legislasi (Baleg) untuk dimasukkan ke dalam program legislasi nasional (prolegnas). Kemudian diusulkan pula pembentukan panitia kerja (panja) yang diketuai oleh salah seorang anggota DPR dari parpol pengusul.

Setelah itu kita lihat ada atau tidak orang yang akan meneriakkan makar terhadap RUU SSK. Kalau ada yang mengatakan usul pengubahan KMYE menjadi KAIME sebagai perbuatan makar, berarti memeras Pancasila menjadi Trisila-Ekasila pun adalah perbuatan makar.

Sebaliknya, kalau KAIME tidak diteriakkan sebagai perbuatan makar, berarti Trisila-Ekasila bukan rencana makar terhadap dasar negara. Dan dengan demikian RUU SSK dengan usul KAIME-nya bisa dilanjutkan juga.

Persoalannya, apakah orang akan senyap saja kalau Ketuhanan Yang Maha Esa diubah menjadi “Katakanlah, Allah Itu Maha Esa”? Kelihatannya tak mungkin itu terjadi.

Jadi, silakan salah satu parpol menyusun RUU SSK yang mengandung usul pengubahan KYME menjadi “Katakanlah, Allah Itu Maha Esa”.

Makar atau bukan? (*)

Sumber: konten Islam

Read More

Senin, 30 Desember 2019

KONG KALIKONG PERAMPOKAN DUIT JIWASRAYA

30 Desember 0
KONG KALIKONG PERAMPOKAN DUIT JIWASRAYA



Oleh: Naniek S Deyang
(Wartawan senior, Aktivis)

Bicara Jiwasraya, setiap hari sebetulnya saya seperti menelan ludah pahit. Praktek pembelian saham gorengan untuk alasan investasi, sebetulnya bukan hanya terjadi pada Jiwasraya. Tapi di lembaga-lembaga dimana rakyat mengumpulkan dananya, seperti Dana Pensiun milik perusahaan-perusahaan BUMN, Jamsostek (sekarang namanya BPJS Ketenagakerjaan), dll juga terjadi.

Kasus seperti Jiwasraya ini sebetulnya sudah lama terjadi. Hanya yang sekarang ini besarnya duit yang amblas kelewatan (Rp 13,7 Triliun).

Coba tengok dulu jaman Orba ada Menaker yang meraibkan duit Jamsostek hingga 700 miliar...eh menterinya melenggang aman-aman saja.

Di kasus lain pencolengan dana Jamsostek juga terjadi dan buntutnya Dirut Jamsostek yang dipenjara, karena dianggap tidak prudent(hati-hati) naruh duit untuk berinvestasi.

Di era Pak Jokowi yang pertama ada pengusaha Edward Soeryadjaya yang sekarang divonis 12,5 tahun penjara. Dan sekarang dia ditahan di Kejaksaan (tapi sering alasan sakit jadi bisa di RS). Edward dinyatakan bersalah karena melakukan kong kalikong dengan direksi pengelola Dana Pensiun Pertamina. Dimana uang milik Dana Pensiun Pertamina sebesar 600 miliar lebih ini raib setelah diinvestasikan untuk membeli saham perusahaan milik Edward yang ternyata harga sahamnya naik karena "digoreng".

Ini kasus kejahatan ekonomi agak berat teorinya ya teman-teman, gimana saya cara nulisnya ya. Ini musti dijelaskan satu per satu dari awal. Padahal Anda juga akan capai bacanya. Kalau dah gini bawaannya pengin punya channel youtube aja biar tinggal ngomong.😁😁

Begini ya, perusahaan-perusahaan pengelola duit rakyat seperti Dana Pensiun milik perusahaan BUMN, Asuransi (BUMN), Jamsostek (BPJS Ketenagakerjaan), itu setiap hari sudah di-mapping sama konglomerat atau para Taipan untuk dikeruk duitnya dengan alat perusahaannya yang go public di pasar modal.

Para Taipan ini melobi oknum pejabat OJK (Otoritas Jasa Keuangan), oknum pejabat Kementerian BUMN, dan oknum pejabat Kementerian Keuangan, agar duit-duit rakyat yang ada di lembaga pengelola dana pensiun, perusahaan asuransi negara/BUMN, diberikan izin membeli saham-saham perusahaan mereka (milik para Taipan) yang go public, sebagai bentuk investasi.

Para Taipan kemudian mendekati partai-partai penguasa untuk mem-back up keputusan oknum OJK, Kementerian BUMN, dan Kementerian Keuangan. Dengan janji setoran dong..

Langkah berikutnya Taipan akan mendekati para direksi pengelola Dana Pensiun BUMN, Perusahaan Asuransi, BPJS Ketenagakerjaan dll pokoknya perusahan BUMN yang ada duit rakyat ngumpul.

Dengan janji return tinggi (sambil direksi disogok tentunya), para direksi tadi kemudian setuju mengatur portofolio uang yang mereka kelola untuk diinvestasi di saham perusahan-perusahaan para Taipan yang dibuat kinclong laporan keuangannya padahal ancurrrrrr.

Setelah barisan bawah semua aman, maka para cecunguk setan belang pengatur pencolengan duit rakyat tadi menghadap atau mengompori Menteri BUMN, agar diizinkan perusahan-perusahaan pengelola dana di bawah Kementerian BUMN tersebut melakukan investasi dengan pembelian saham di perusahaan para Taipan, dengan iming-iming returnnya akan luar biasa, karena perusaahan para Taipan itu termasuk yang sehat di lantai bursa dan harga sahamnya naik terus (padahal kenaikkan juga direkayasa atau istilahnya digoreng).

Nah demikian singkatnya bagaimana duit-duit Dana Pensiun, Perusahan Asuransi ( BUMN), dll pada raib, termasuk dana Asuransi Jiwasraya.

Jadi Pak Jokowi cq Jaksa Agung kalau mau serius nangani kasus Jiwasraya, tinggal periksa para direksi Jiwasraya, para Taipan yang sahamnya dibeli dengan duit Jiwasraya, oknum OJK, oknum pejabat Kementerian BUMN, dan mohon maaf ya Menterinya BUMN-nya pada saat investasi terjadi perlu juga diperiksa.

Sekedar info MASTERMIND dari modus penggarongan duit rakyat itu biasanya oknum pejabat, dan biasanya tidak akan tersentuh hukum karena dilindungi Partai dan para Tokoh. Karena si Mastermind inilah yang akan mengatur pembagian hasil duit rampokan.

Masalahnya kalau menyangkut ada tokoh dan partai yang terlibat, mampu nggak aparat hukum menegakkan keadilannya?

(Sumber: fb)
Read More

Sabtu, 25 Mei 2019

Takut dengan Media Sosial

25 Mei 0
Takut dengan Media Sosial



Takut dengan Media Sosial

Kata Anies Baswedan, saya tak takut apa yang ditulis netizen di sosial media. Saya lebih takut apa yang ditulis para sejarawan di kemudian hari. Sebab, apa yang ditulis netizen di sosial media, sepekan dua pekan akan hilang, tapi apa yang ditulis para sejarawan di kemudian hari akan abadi.

Tapi, barusan, berhari-hari sosial media dibunuh, karena ada yang ketakutan atas apa yang ditulis para netizen. Ternyata ada pula pemimpin yang seperti itu. Berlagak sangat milenial, tapi ketakutan atas apa yang ditulis para netizen di sosial media. Para sejarawan akan mencatat ini sebagai hari-hari kelabu bagi demokrasi di Indonesia.

Apa pemimpin itu sudah pula menyewa para sejarawan untuk menulis sejarah yang baik-baik saja tentang hari itu? Entahlah. Itulah hari-hari yang hebat bagi demokrasi di Indonesia. Media sosial dibunuh, tapi tak ada perlawanan. Yang ada, malah beramai-ramai tepuk tangan. Ajaib.

(Erizal Sastra)
Read More

Senin, 01 April 2019

Skenario Allah Selalu Indah, Game Over Mas Jok

01 April 0
Skenario Allah Selalu Indah, Game Over Mas Jok




 Oleh M. Nigara (Penulis adalah Wartawan senior, Mantan Wasekjen PWI)

BANDARpostGAME OVER. Begitu selalu di layar video games setiap kita kalah dalam permain apa pun di komputer, internet, atau jenis permainan lainnya. Intinya game over artinya lagi, kita kalah.

Ini bukan soal debat ke-4, Sabtu (30/3) malam di hotel Shangrilla itu yang menurut banyak pakar menunjukkan kelas keduanya berbeda jauh. Dan, tidak sedikit pakar yang menyatakan Jokowi game over. Tapi ini soal kisah dramatis di Stadion Delta Sidoarjo, Jawa Timur.

Berulang kali, kubu 01 menyatakan Jatim adalah milik mereka, kecuali Madura. Tapi, Ahad (31/3) Prabowo dan Sandiaga Uno, paslon dengan nomer urut 02, membuktikan hal sebaliknya. Kampanye Akbar di markas besar klub kebanggaan kota Lobster, Deltras FC, bukan hanya dipadati oleh selitar 200 ribu orang, tapi ada adegan dramatis.

Selain markas Deltras, Sidoarjo adalah teritorial NU. Artinya daerah yang seharusnya memberikan dukungan pada paslon lain. Tapi, Ahad itu Prabowo dan Sandi bukan hanya diterima, tapi juga didoakan dan disantuni.

Disantuni? Ya, saya sengaja tidak menggunakan istilah disumbang, tapi disantuni. Bagi saya jika disumbang, batasannya hanya diberikan. Tapi, jika disantuni, itu bermakna diberkahi, didoakan, dan diharapkan.

Prabowo dan Sandi sama sekali tak menduga itu akan terjadi. Bagi keduanya diberi sumbangan bukan hal baru. Sejak keduanya berkeliling, banyak sekali orang yang secara ikhlas memberikan sumbangan. Ini saja sudah bisa kita jadikan bukti bahwa rakyat terpanggil untuk menyongsong perubahan. Tapi, di Stadion Deltras, orang berlomba-lomba mengeluarkan uang dari dompetnya dan ditaruh di kopiah Prabowo dan Sandiaga Uno. Ini bukan soal jumlah nominal, tapi keterpanggilan melukiskan keikhlasan. Keikhlasan menunjukkan harapan. Harapan selalu bermuara pada perubahan.

Jujur, begitu saya menerima video adegan-adegan itu dari sahabat saya Taufik Soekasah, mantan Sesmen Mensesneg di era SBY terakhir, air mata saya meluncur melintasi pipi. "Seratus ribu rupiah," kata Prabowo sambil berjalan ke arah Sandi setelah menerima uang dari seorang peserta yang ada di kanan panggung. Tidak jelas siapa orangnya karena kamera yang merekamnya dari hp atau akrab disebut video amatir. Maklum, kecuali tvone, mefia main stream ogah meliput paslon 02. Mengapa begitu, saya tak mau mengungkapkannya, biar mereka semua bersaksi di akhirat nanti.

"Alhamdulillah," sambut Sandi sambil mengangkat uang berwarna merah itu tinggi-tinggi. Tak lama, Prabowo dan Sandi terpaksa membuka kopiah mereka untuk menerima lembaran-lembaran rupiah dari para mereka yang ada di sekitar kiri-kanan panggung. Dan, Sandi pun menerima amplop berwarna coklat agak tebal, massa pun bersorak gembira.

Beda

Adegan ini sungguh dramatis, sungguh mengharu-biru. Adegan seperti ini belum pernah terlihat di kubu 01. Mungkin mereka juga tidak membutuhkan sumbangan dari rakyat, konon kabarnya dana yang mereka siapkan sudah ada dan jumlahnya juga sangat besar. Selain itu, maaf nih, rakyat atau pendukungnya juga tidak mau memberi tapi menerima. Fakta ini terlihat dari beberapa adegan rebutan makanan, juga uang transport. Di Dumai misalnya, lagi-lagi video amatir menunjukkan di medsos, bahwa orang yang datang ke kampanye bukan orang setempat, tapi orang yang didatangkan dari daerah lain.

Sang wartawan amatir itu menjunjukkan deretan bus-bus mewah di kiri-kanan jalan. "Ini bukan orang Dumai, pendukung saja diimpor, apa lagi pangan," katanya sambil terus bergerak di atas sepeda motornya. "Lihat, mereka membawa nasi bungkus," katanya lagi.

Nah, di kubu 02, barisan bis jarang sekali terjadi. Sebaliknya, barisan mobil pribadi dan sepeda motor luar biasa banyaknya. Tidak ada juga orang yang datang menjinjing plastik-plastik berisi nasi bungkus. Dari sana kita bisa memprediksikan bahwa yang datang ke acara Prabowo-Sandi bukan orang-orang bayaran. Mereka datang karena keikhlasan dan keterpanggilan. Mereka tidak diberi tapi memberi.

Masih mau membantah? Terserah. Mengapa semua itu terjadi? Semua tentu karena skenario Allah yang selalu indah. Rakyat terpanggil dengan ikhlas, adalah bukti bahwa Allah yang Maha membolak-balikan hati manusia, telah menetapkan mereka untuk meraih perubahan. Dan berkali-kali kita diberi tanda bahwa perubahan itu pasti terjadi. Dari ucapan yang tidak sesuai dengan fakta hingga saling bertabrakan pernyataan di antara mereka. Semua adalah skenario Allah.

Jadi, tidak bermkasud takabur, demi Allah saya mohon ampunan-Mu ya Rabb. Mas Jok, maaf juga ya, tampaknya the games is over.

Seperti dalam debat, petahana meminta kita tetap mampu menjaga persatuan dan persahabatan. Dan seperti mas Jok bilang, para elit hendaknya bisa memberi contoh yang baik, apa pun hasilnya. Begitulah yang kita harapkan, meski perubahan untuk menuju Indonesia yang Adil dan Makmur insyaa Allah akan menjadi kenyataan 17 April mendatang. Aamiin.

sumber: teropongsenayan
Read More

Dr. Tony Rosyid: Jaga Pilpres Dari Tangan-tangan Yang Tak Siap Kalah

01 April 0
Dr. Tony Rosyid: Jaga Pilpres Dari Tangan-tangan Yang Tak Siap Kalah


BANDARpost – PRABOWO menang! Begitulah banyak yang sudah mulai berani membuat kesimpulan.
Ada dua indikator yang mereka gunakan. Pertama, tak ada yang bisa melawan kekuatan rakyat.
Jokowi sedang berhadap-hadapan dengan rakyatnya sendiri. Rakyat yang kecewa atas tata kelola pemerintahannya yang tak sesuai janji dan ekspektasi.
Kekecewaan itu yang membuat rakyat melimpahkan harapannya kepada Prabowo. Satu-satunya rival Jokowi di pilpres 2019.


Kampanye Prabowo selalu berlimpah massa. Kehadiran mereka digerakkan oleh harapan yang besar terhadap perubahan.
Bagi mereka, Jokowi bukan lagi tempat yang tepat bagi rakyat menggantungkan harapan. Bodongnya janji politik, ketidakadilan hukum, rusaknya ekonomi, banjirnya pekerja asing, liberalnya impor yang mengakibatkan terancamnya kedaulatan pangan adalah sejumlah faktor mengapa banyak pemilih kemudian berpaling. Satu-satunya tempat berpaling adalah Prabowo.
Rakyat menghukum Jokowi. Kampanye Jokowi sepi, kecuali dihadiri oleh massa PDIP dan mereka yang digerakkan melalui kekuatan logistik. Selain  pengerahan massa dari aparat dan aparatur negara yang terintimidasi.



Sumber: 
Read More

Minggu, 31 Maret 2019

Debat Keempat: Salam Perpisahan Jokowi by Hersubeno Arief

31 Maret 0
Debat Keempat: Salam Perpisahan Jokowi by Hersubeno Arief



BANDARpost,  “Pak Prabowo, saya itu senang naik sepeda. Dan sering ketika naik sepeda rantainya putus. Tapi percayalah kepada saya Pak Prabowo, bahwa rantai persahabatan kita tidak akan pernah putus!”

Pernyataan penutup (closing statement) Jokowi pada debat keempat Sabtu malam (30/3) sungguh sangat mengejutkan. Tak terduga! Prabowo sempat terperangah, namun sejurus kemudian dia mengangkat tangan sambil mengepalkan tinjunya.

Bukan hanya Prabowo yang terperangah. Di bawah panggung para punggawa Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf juga tampak terkejut. Ekspresi wajah mereka yang tertangkap kamera sangat beragam.

Ketua TKN Erick Thohir mengelus-elus dagunya. Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) Moeldoko wajahnya membeku. Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri terlihat termangu, tanpa ekspresi. Aura kekalahan sangat terasa menjalar di wajah-wajah anggota TKN yang hadir di arena debat.

Di depan layar televisi lebih dari seratus juta penonton juga terkejut. Mereka tidak menduga Jokowi akan mengucapkan kalimat itu.

Tidak pada tempatnya Jokowi mengucapkan hal itu pada closing statement. Ibarat sebuah pertandingan sepakbola, pernyataan penutup adalah tanda waktu pertandingan secara normal akan berakhir. Injury time. Waktu-waktu krusial yang sangat menentukan hidup mati sebuah tim.

Sepanjang lima babak debat, Jokowi terus tertekan. Prabowo tampil percaya diri. Gol-gol berhasil dilesakkan. Kalau dibuat skor moderat saja posisinya 5-0. Kalah telak. Seharusnya Jokowi total football menyerang. Berusaha dengan cara apapun untuk membalikkan posisi, atau setidaknya mengurangi defisit gol.

Namun yang terjadi malah sebaliknya. Jokowi mengibarkan bendera putih. Dia menyampaikan sebuah kalimat yang tidak bisa diartikan lain kecuali sebagai ucapan perpisahan ( farewell statement ), sekaligus “menitipkan” diri kepada Prabowo.

Jika kita cermat mengamati, Jokowi tidak sedang terpeleset lidah. Kalimat itu sudah dipersiapkan secara tertulis. Dari gerakan matanya terlihat Jokowi membaca teks yang sudah disiapkan.

Jokowi bahkan hanya memanfaatkan waktu selama 1 menit 50 detik dari total 4 menit waktu yang disediakan. Ketika Retno Pinasti moderator debat mengingatkan masih ada waktu yang tersisa, Jokowi menolak dan langsung duduk.

Ketika mendapat giliran menyampaikan kata penutup, Prabowo sejenak seperti orang kebingungan. Dia tak menduga Jokowi akan menyampaikan kalimat seperti itu. Prabowo kemudian mencoba menetralisir sikapnya yang menekan Jokowi tanpa henti sepanjang debat.

Prabowo menyambut pernyataan Jokowi yang akan tetap menjaga persahabatan. Dia juga sejenak terbawa langgam Jokowi. “Saya ini separuh Banyumas, separo Minahasa. Kalau Bapak kan orang Solo. Halus. Banyumas ini Bataknya orang Jawa,“ ujarnya.

Ketika menyadari, Prabowo langsung tertawa sambil mengangkat tangannya. “clossing statement kok jadi begini?” Ucapan Prabowo itu disambut tawa meriah dari hadirin.

Emotional breakdown

Ada apa dengan Jokowi? Mengapa dia seperti seorang prajurit kalah perang. Menyerah sebelum pertempuran berakhir. Mengapa dia sangat cepat mengibarkan bendera putih?

Naik sepeda adalah metafora sebuah perjalanan. Dan dalam perjalanan terkadang kita harus terhenti. Baik karena takdir, maupun karena……… rantai putus……….

Kendati disampaikan secara simbolis, namun pesan Jokowi sangat jelas. Terang benderang. Cetho welo-welo, kata orang Jawa. Tidak perlu ada penafsiran lain.

Sejak memasuki arena panggung debat, penampilan Jokowi sudah tidak meyakinkan. Dia seperti orang yang mengalami emotional breakdown, nervous breakdown.

Tampilannya seperti seorang petinju yang terpaksa naik ring. Dia sudah kalah sebelum bertanding. Padahal dia juara bertahan yang harus mempertahankan sabuk juaranya.

Secara psikologis emotional breakdown dikategorikan sebagai situasi penuh stres yang bisa membuat seseorang tak mampu berfungsi secara normal. Biasanya disebabkan oleh stres dan rasa cemas saat seseorang merasa kewalahan ketika menghadapi sebuah situasi yang tidak bisa dia kendalikan.

Tanda-tanda itu terlihat dari ekspresi fisik, maupun ucapannya. Tepat sepekan sebelumnya di Stadion Kridosono Yogya (23/3) Jokowi menyatakan akan melawan para penentangnya setelah 4.5 tahun difitnah dan berdiam diri. “Tetapi hari ini di Yogya saya sampaikan, saya akan lawan! Ingat sekali lagi, akan saya lawan!,” ujarnya dengan suara meninggi.

Teriakan Jokowi terdengar seperti orang yang tak berdaya dan putus asa. Padahal Jokowi adalah seorang inkumben. Seorang presiden yang tengah menjabat dan sangat berkuasa.

Pekan pertama kampanye terbuka tanda-tanda Jokowi akan mengalami kekalahan semakin nyata. Seperti sudah diprediksi, Jokowi apalagi Ma’ruf Amin sangat kesulitan mengerahkan massa pendukung. Mereka terpaksa melakukan mobilisasi agar kampanye terlihat meriah. Ma’ruf malah memilih berkunjung ke pondok pesantren, atau mengumpulkan para santri dalam kampanye terbuka.

Sebaliknya kampanye Prabowo-Sandi di berbagai kota —termasuk di kota-kota— yang semula menjadi basis Jokowi sangat membahana. Situasi di lapangan membuktikan Prabowo berhasil merebut kantong-kantong suara Jokowi.

Pada Pilpres 2014 Prabowo hanya menang di 10 provinsi. Sementara Jokowi menang di 24 provinsi, termasuk pemilih di luar negeri. Selesih suara keduanya sebesar 8.4 juta. Prabowo hanya menang di Aceh, Sumatera Barat, Riau, Sumsel, Jabar, Banten, NTB, Kalsel, Gorontalo, Maluku Utara.

Beberapa survei menunjukkan hampir seluruh provinsi di Sumatera sudah jatuh ke tangan Prabowo. Yang tersisa hanya Lampung.

Di pulau Jawa daerah penting seperti DKI Jakarta juga sudah jatuh ke tangan Prabowo. Yogyakarta, dan Jawa Timur sudah mulai berimbang. Tinggal Jawa Tengah posisi Jokowi masih perkasa, namun mulai goyah.

Di Indonesia Timur posisi Jokowi juga mulai goyah. Daerah terkuat seperti Sulsel dipastikan jatuh ke tangan Prabowo. Jokowi masih berhasil mempertahankan kantong suara di wilayah non muslim seperti NTT, Bali, Papua, Papua Barat, dan Sulawesi Utara.

Namun melihat arus besar yang sedang bergerak, ada kemungkinan terjadi migrasi suara besar-besaran di kawasan ini. Apalagi dalam debat tadi malam Prabowo berhasil secara cerdik mematahkan isu Islam radikal dan khilafah. Sebuah isu yang sengaja dimanfaatkan oleh kubu Jokowi untuk menakut-nakuti pemilih non muslim dan Islam sekuler.

Pendukung Prabowo-Sandi juga kian militan. Mereka tidak hanya bersemangat menghadiri kampanye terbuka, tapi juga rela memberikan sumbangan dalam jumlah besar untuk kemenangan Prabowo.

Sebaliknya Jokowi terancam ditinggalkan para pendukungnya. Ada yang memutuskan tidak memilih (Golput), namun ada juga yang menyeberang ke kubu Prabowo menjadi “muallaf” politik. Mereka kecewa, dan merasa tertipu karena salah memilih presiden.

Dalam dua hari terakhir sebuah surat terbuka yang ditulis oleh Linda Christanty berjudul “ Selamat Tinggal Pak Jokowi” viral di media sosial. Linda sastrawan dan wartawan yang banyak mendapat penghargaan dari dalam dan luar negeri, pada Pilpres 2014 merupakan pendukung berat Jokowi.

Banyak figur terkenal seperti Linda yang menyesal dan memutuskan meninggalkan Jokowi. “ Saya juga muallaf politik mas. Dulu kesana, malah ikut konser Salam Dua Jari. Sekarang nyesel,” ujar presenter top Arie Untung.

Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah ( 2006-2010) Izzul Muslimin termasuk salah satu tokoh yang memutuskan hijrah dan menjadi muallaf politik. Dia saat ini sangat aktif mendukung Prabowo dan menggalang dukungan di kalangan warga Muhammadiyah. Di mendirikan gerakan Aliansi Pencerah Indonesia (API).

Pada Pilpres 2014 Izzul membentuk Relawan Matahari mendukung pasangan Jokowi-Jusuf Kalla. “Kalau 2014 saya salah memilih itu namanya orang yang tertipu. Tapi kalau 2019 masih tetap memilih orang yang sama itu namanya orang bodoh,” ujar mantan politisi Partai Hanura itu.

Gabungan antara sulitnya mengerahkan massa pendukung, dan banyaknya pemilih golput, maupun migrasi ke kubu Prabowo membuat Jokowi sangat tertekan. Emotional breakdown, dalam stadium sedang menuju berat.

Menyaksikan perdebatan keempat yang menunjukkan superioritas Prabowo dan tanda-tanda Jokowi sudah mengibarkan bendera putih, dipastikan akan membuat mental pasukan pendukungnya kian tertekan.

Arus besar migrasi pendukung besar-besaran diperkirakan sedang terjadi pasca debat tadi malam. Arus itu akan menjadi gelombang besar yang menggerus elektabilitas Jokowi.

Masih ada waktu tersisa selama dua pekan bagi Jokowi untuk mengumpulkan dan memulihkan kembali mental pasukannya. Yang juga lebih penting adalah mental dirinya sendiri.

Pada tanggal 8 April Jokowi-Ma’ruf akan menggelar kampanye akbar di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta. Sementara tanggal 13 April group band Slank akan menggelar konser besar “Salam Satu Jari.”

Melihat antusiasme pendukungnya dua perhelatan besar itu juga dibayangi kegagalan. Apalagi sehari sebelumnya Prabowo juga akan menggelar kampanye terbuka di tempat yang sama.

Hampir dipastikan kampanye itu akan meledak dan menjadi ajang unjuk kekuatan para pendukung Prabowo. Sudah banyak pendukung dari luar daerah yang menyiapkan diri, jauh-jauh hari menabung agar dapat hadir pada acara super spesial itu

Konser Slank juga dipastikan banyak kehilangan tim inti dari kalangan artis. Jay Subiyakto penata artistik Konser Salam Satu Jari (2014) sudah menyatakan tidak akan terlibat.

Slank juga dibayang-bayangi stigma buruk dan kegagalan karena terlibat dalam Apel Kebangsaan yang digelar oleh Pemprov Jateng (17/3). Apel itu menjadi skandal karena menggunakan APBD sebesar Rp 18 miliar.

Di dunia maya netizen menggemakan tagar #SlankMakanDuitRakyat. Beberapa pendukungnya juga kedapatan mabok di siang bolong.

Apakah Jokowi bisa membalikkan situasi seperti pada Pilpres 2014? Dalam situasi ini kita perlu mengingat kembali petuah panglima perang paling top dari Perancis Jenderal Napoleon Bonaparte : A leader is a dealer in hope.

Seorang pemimpin adalah penjual harapan. Melihat Jokowi seperti orang yang sudah kehilangan harapan, lantas apa lagi yang bisa dia “jual” kepada para pendukungnya.

Apakah ini waktu yang tepat bagi kita untuk mengucapkan: Selamat tinggal Pak Jokowi. Selamat berpisah. So long. end
Portal Islam
Sumber: 
Read More

Sabtu, 30 Maret 2019

Hersubeno Arief: Kepentingan Bisnis dan Politik Cina, di Balik Pilpres 2019

30 Maret 0
Hersubeno Arief: Kepentingan Bisnis dan Politik Cina, di Balik Pilpres 2019


BANDARpost – Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan memastikan tahap pertama proyek One Belt One Road China (OBOR) akan ditandatangani bulan April 2019. Ada 28 proyek yang akan ditawarkan. Nilainya mencapai US$ 91,1 miliar setara Rp1.296 triliun.
Salah satu proyek yang ditawarkan adalah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Jonggol. Benar Anda tidak salah baca. Jonggol yang dimaksud adalah sebuah kawasan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Jika terealisir daerah yang berdekatan dengan kawasan wisata Puncak itu akan menjadi enclave baru komunitas pekerja Cina di Indonesia. Mirip Morowali di Sulawesi Tenggara.


Pilihan waktu penandatangannya pada bulan April menunjukkan ada sesuatu yang sangat penting, mendesak, sekaligus darurat. Sulit menghapus kecurigaan Jalur Sutera Modern ini sebagai proyek kejar tayang. Harus beres sebelum pilpres 17 April 2019.



Sumber: Eramuslm
Read More

Rabu, 27 Maret 2019

Hersubeno Arief: Kisah Para ‘Muallaf’ Politik, Tobatnya Para Pendukung Jokowi

27 Maret 0
Hersubeno Arief: Kisah Para ‘Muallaf’ Politik, Tobatnya Para Pendukung Jokowi

BANDARpost – “Saya sekarang sudah tobat. Taubatan nasuha,” kata mantan anggota Komisi III DPR Djoko Edhi Abdurrahman ketika bertemu di suatu rumah makan di kawasan Menteng, Senin malam (25/3).
Wajahnya terlihat serius. Kedua tangannya diangkat. Bagi yang tidak terlalu kenal dirinya, sulit membedakan kapan dia serius, kapan sedang bercanda? Dari penekanan kata-katanya, Djoked —begitu dia biasa dipanggil— kali ini sangat serius.


Mantan wartawan harian Jawa Pos itu sedang bicara posisi politiknya pada Pilpres 2019. Pernah menjadi pendukung garis keras ( die hard) Jokowi, Djoked memastikan mengalihkan dukungannya kepada Prabowo.
Fenomena orang-orang seperti Djoked ini sangat banyak. Namun kalau melihat status medsos dan pernyataannya di berbagai media, dia termasuk kelompok orang yang paling awal tercerahkan. Segera insyaf dan melakukan pertobatan.


Sumber: 
Read More

Lieus: Pak Jokowi Berubah, Sifat Aslinya Kelihatan

27 Maret 0
Lieus: Pak Jokowi Berubah, Sifat Aslinya Kelihatan




BANDARpost - Koordinator Forum Rakyat Lieus Sungkharisma heran dengan pernyataan calon presiden Joko Widodo ketika menyampaikan pidato politik di Stadion Kridosono, Yogyakarta, Sabtu (23/3). Dalam pidatonya ketika itu, Jokowi menyebut, siap melawan dan tidak akan diam terhadap serangan yang diterimanya selama 4,5 tahun.

"Pertanyaannya, siapa yang mau dia lawan? Rakyatnya sendiri?” kata Lieus Sungkharisma kepada, Selasa (26/3).

Saat ini, kata Lieus, Jokowi banyak berubah jika dibandingkan ketika menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Kala menjabat gubernur, Jokowi memiliki pribadi yang baik dan santun.

"Kini Pak Jokowi sudah berubah 180 derajat. Pernyataannya di Yogyakarta itu tanpa sadar telah menunjukkan sifat aslinya. Menunjukkan jati diri dia yang sebenarnya,” ujar Lieus.
Dia menilai, pernyataan Jokowi di Yogyakarta tidak bijaksana. Calon presiden sekaligus menjabat sebagai kepala negara, tidak patut mengeluarkan pernyataan seperti itu.

"Jika memang dia merasa difitnah, ya buktikan saja fitnah itu tidak benar. Sikap itu justru semakin menunjukkan Pak Jokowi bukan seorang negarawan," ungkap Koordinator Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (KomTak) ini.

Jokowi, dalam dugaan Lieus, belum siap secara mental dan intelektual memimpin Indonesia. Sebab, Jokowi terkesan terbawa perasaan ketika menerima sebuah kritik.

"Jadi, yang diutamakan itu, mestinya beliau mendengar curhatan rakyat. Dengar bagaimana para petani, pedagang, buruh, tukang becak, dan sopir ojek hidup dalam tekanan. Sebab, subsidi dicabut dan harga-harga kebutuhan yang melambung tinggi. Bukan sebaliknya, malah rakyat yang disuruh mendengar curhatan," pungkas dia.

Sebelumnya, capres petahana Jokowi menegaskan, tak tinggal diam atas hujatan yang datang bertubi-tubi selama kurang lebih 4,5 tahun.

"Saya sebetulnya sudah diam 4,5 tahun, difitnah-fitnah saya diam, dihujat saya diam. Tetapi hari ini di Yogyakarta saya sampaikan. Saya akan lawan. Ingat sekali lagi, akan saya lawan. Bukan untuk diri saya, tetapi ini untuk negara," kata Jokowi dalam pidato politiknya di Stadion Kridosono, Yogyakarta, Sabtu (23/3).

sumber: jpnn

Read More

Selasa, 26 Maret 2019

Polisi Mulai Netral, Benarkah?

26 Maret 0
Polisi Mulai Netral, Benarkah?


BANDARpost, Tugasmu mengayomi…Tugasmu mengayomi…
Pak Polisi…Pak Polisi…
Jangan ikut kompetisi…

Itulah syair yang sekarang dinyanyikan dimana-mana. Viral dan semakin banyak yang antusias menyanyikannya. Dari anak muda millenial, hingga para ustaz dan politisi.

Syair ini seperti bentuk kritik kepada aparat kepolisian yang dikesankan tidak netral dalam pilpres 2019. Dengan syair lagu ini rakyat mengingatkan, sekaligus berharap agar polisi tetap berada pada posisi netral. Demokrasi ini akan berjalan dengan baik jika dikawal oleh aparat hukum yang netral. Tidak hanya polisi, tapi juga TNI. Tuntutan yang sama juga ditujukan kepada ASN, KPU dan Bawaslu.

Syair nyanyian itu kabarnya dipicu kemunculannya oleh gambar foto sejumlah orang yang “diduga” berseragam polisi ikut acungkan satu jari. Bahkan ada orang yang “diduga” berseragam polisi, lagi-lagi dalam video yang viral, mengawal pembagian sembako oleh kubu salah satu Paslon.

Bahaya! Demokrasi tak akan berjalan baik jika aparat yang seharusnya jadi wasit ikut serta dalam kompetisi. Tugasmu mengayomi pak polisi, tegur syair nyanyian itu.

Kabarnya, sepekan ini polisi mulai bergeser ke tengah. Tidak lagi berada di kubu Paslon tertentu. Hal ini karena kerasnya kritik dan protes rakyat. Polisi dari rakyat dan digaji rakyat, sudah seharusnya bekerja untuk rakyat, bukan untuk presiden yang sekarang lagi nyapres. Ini baru cocok!

Lagian, tanda-tanda Jokowi akan kalah potensinya makin besar. Gelombang perlawanan rakyat makin membesar. Elektabilitas Jokowi terus anjlok. Terakhir LIPI merilis bahwa elektabilitas Jokowi-Ma’ruf tinggal 40,3 persen. Gak jauh dengan hasil surveinya Eep Syaefullah Fatah, CEO PolMark. Dalam survei PolMark, Jokowi 40,4 persen. Hanya saja, PolMark tak melakukan survei lagi untuk menghitung kenaikan elektabilitas Prabowo-Sandi mendekati hari pencoblosan. Di survei LIPI, elektabilitas Prabowo-Sandi 45,4 persen.

Bagaimana survei Indobarometer? Lupakan! Meskipun sudah mulai melipir dengan kasih angka untuk Jokowi 50,2 persen. Supaya tak terlalu berat bebannya nanti kalau Jokowi kalah. Biarlah beban itu hanya ditanggung LSI Denny JA dan SMRC Syaeful Muzani yang terus melambungkan elektabilitas Jokowi. Harap maklum, pemilu itu masa panen raya.

Para pendukung Jokowi juga pelan-pelan mulai meninggalkannya. Rugi besar bagi Polri jika nekat belain dan kampanye untuk petahana. Karena itu, langkah Tito sangat tepat. Dengan netral, Tito telah selamatkan institusi Polri dari image buruk di mata rakyat selama ini. Jangan hanya karena pilpres, reputasi kepolisian yang luar biasa banyak jadi tertutup.

Dalam posisi netral, kalau nanti Jokowi kalah, Polri tak harus ikut menanggung beban kekalahan itu. Terutama ketika berhadapan dengan eforia rakyat yang merayakan kemenangan. Rakyat di kota-kota besar di seluruh Indonesia berencana akan merayakan kemenangan itu. Pesta kambing guling dan sejenisnya sedang dipersiapkan rakyat menyambut kemenangan mereka atas Jokowi.

Dalam situasi kali ini, apa yang dilakukan Kapolri adalah langkah smart, cermat, cepat dan tepat. Tabik Pak Kapolri. Anda hebat!

Sikap netral Polri ditunjukkan dengan mengirimkan telegram kepada seluruh jajaran kepolisian agar netral. Tak boleh ikut salam satu atau dua jari, tak boleh pula bantu memasang gambar paslon tertentu, apalagi ikutan mengawal bagi-bagi sembako. Ini instruksi Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Keren habis!

Polri juga membatalkan acara Millenial Road Safety Festival (MRSF) yang rencananya akan diadakan tanggal 31 Maret nanti. Acara ini diundur sampai selesai pilpres 17 April. Alasannya? Khawatir disusupi kampanye pilpres. Tentu, publik tahu siapa yang berpotensi untuk berkampanye disitu. Sekali lagi, keren Pak Tito. Langkah yang patut diacungkan sepuluh jari.

Tinggal sekarang rakyat mesti bersama-sama polisi amankan pemilu, awasi agar jujur dan adil. Rakyat dan polisi bahu membahu untuk menghalau semua bentuk kecurangan. Bantu dan dorong polisi untuk bersikap tegas kepada para pelaku kecurangan. Tempel terus petugas kepolisian, dan pastikan mereka menjalankan instruksi Kapolri. Bila perlu, buat tim kecil di setiap TPS yang terdiri dari rakyat, polisi, TNI dan Bawaslu. Ada kecurangan, tangkap! Lalu serahkan kepada polisi untuk memprosesnya. Ayo Pak Polisi, rakyat bersamamu!

Jakarta, 26/3/2019

Penulis: Tony Rosyid


Sumber: portal Islam
Read More

Jumat, 22 Maret 2019

PUSHAMI: Wiranto Bisa Jadi Teroris di Mata Rakyat

22 Maret 0
PUSHAMI: Wiranto Bisa Jadi Teroris di Mata Rakyat


BANDARpost, JAKARTA -- Direktur Kajian Strategis dan Kebijakan Publik Pusat Hak Asasi Muslim (PUSHAMI) Jaka Setiawan, menilai wacana Menko Polhukam, Wiranto yang akan menjerat penyebar hoaks dengan UU Terorisme adalah pernyataan yang panik dan tidak memahami persoalan.

"Pernyataan itu menunjukkan dia gagal paham tentang Undang-Undang Terorisme. Sehingga, tidak lagi melihat perbedaan antara terorisme dengan hoaks. Mungkin karena dia berbicara berpihak pada salah satu paslonya. Padahal, dia harus meminta aparat penegak hukum agar menindak pelaku hoaks itu sesuai dengan aturan hukum yang berlaku," kata Jaka di Jakarta, Jumat (22/3).

"Jadi, kalau dia ingin menerapkan UU Terorisme Nomor 5 Tahun 2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, saya kira yang sedang melakukan terorisme itu justru Wiranto. Artinya, Wiranto sebenarnya sedang melakukan teror kepada masyarakat," sambungnya. 

Jaka menjelaskan, dari segi substansinya, UU Antiterorisme tidak bisa digunakan untuk membasmi hoaks. Menurutnya, definisi tentang teror adalah kekerasan atau ancaman kekerasan yang menyebabkan ketakutan masal dan bisa menimbulkan korban yang massal, mengancam objek vital strategis, dengan motif ideologi, politik, dan keamanan. 

"Nah, jadi justru kalau dia mengatakan itu (hoaks harus diberantas dengan UU Terorisme), ini pembisiknya buat Wiranto malu. Ancaman kekerasan itu justru keluar dari mulut Wiranto," kata Jaka. 

Jaka menegaskan, tidak ada satu pasal pun yang mengatur tentang hoaks di UU Terorisme. Karenanya, ia menilai pernyataan Wiranto sangat berlebihan dan gagal paham. 

"Jadi, tolong Wiranto dan pembantu-pembantunya baca UU Antiterorisme, jangan asal-asalan mengelola negara. Nanti bisa-bisa dia yang disebut teroris di mata rakyat Indonesia," pungkasnya. 

Salam
Jaka Setiawan
Direktur Kajian Strategis dan Kebijakan Publik Pusat Hak Asasi Muslim (PUSHAMI) 


Sumber: konten islam
Read More

Ini Lima Alasan Mengapa Jokowi Tidak Layak Dipilih Kembali Versi Rizal Ramli

22 Maret 0
Ini Lima Alasan Mengapa Jokowi Tidak Layak Dipilih Kembali Versi Rizal Ramli


BANDARpost, Eks Menko Maritim era Presiden Joko Widodo, Dr. Rizal Ramli menguraikan alasan mengapa calon petahana Joko Widodo untuk tidak perlu dipilih pada Pilpres 2019.

Menurut mantan penasihat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini, ada lima alasan yang melatarbelakangi mengapa Jokowi tidak perlu dicoblos pada 17 April nanti.

Pertama soal jaminan kesehatan. BPJS adalah ide yang bagus, gerakan buruh bersama Rizal Ramli, Prof. Thabrani, dan sejumlah tokoh lainnya perjuangkan ide BPJS sejak tahun 2010-2011.
Lomba Foto SelfiePilpres2019

"Sayangnya program tersebut under- funded dan iuran perusahaan sangat rendah. Hari ini BPJS mengalami kesulitan keuangan. Dokter dan tenaga medis telat digaji. Tagihan apotek dan rumah sakit kelas menengah, belum dibayar. Solusi pemerintahan Pak Widodo parsial, bagakan tensoplas. Pemerintah yang baru akan menyelesaikan masalah BPJS kurang dari 200 hari," tulis Rizal dalam keterangannya kepada redaksi, Jumat (22/3/2019).

Kedua soal pendidikan, berdasarkan PISA index, yang mengukur kemampuan literasi, matematika, dan sains anak-anak usia di bawah 15 tahun, Indonesia menduduki peringkat ke-62 dari 72 negara. Berdasarkan QS World University Rankings, dari 500 besar Dunia hanya 3 perguruan tinggi Indonesia yang masuk, yaitu UI (277), ITB (331), dan UGM (402). Kualitas pendidikan tinggi masih rendah karena feodalisme dan birokratisasi.

"Pemilihan rektor harus dikembalikan ke Senat Guru Besar lagi agar tidak terjadi campur tangan politik dan permainan uang. Penyelesaian masalah pendidikan tidak bisa hanya dengan bagi-bagi kartu. Kualitas pendidikan yang rendah hanya bisa diperbaiki dengan penyederhanaan kurikulum pendidikan menengah ke bawah, penghapusan Ujian Nasional (UN), strategi kompetisi nasional dan regional (dengan alokasi minimal Rp 20 triliun), perbaikan kualitas guru, dan UU Land Grant serta bebas pajak universitas," jelasnya.

Ketiga lapangan kerja, bila ekonomi mandek di 5 persen selama 4 tahun terakhir, jangan mimpi lapangan kerja bertambah. Pemerintah baru harus mampu naikkan ekonomi hingga 8 persen. "Berdasarkan track record, pemerintahan Jokowi tidak punya kemampuan dan sulit dipercaya bisa naikkan ekonomi ke 8 perseb. Karena kebijakan makroekonominya super konservatif," urainya.

Keempat soal kebudayaan. Kebudayaan Indonesia terunggul di Asia Tenggara. Kebudayaan Indonesia lebih hebat dan bervariasi dibanding negara-negara ASEAN. Negara-negara dengan kebudayaan yang unggul bisa membuat produk-produk yang dihasilkan bernilai tambah tinggi, seperti Jepang dan Korea Selatan.

Memang, lanjut Rizal, pemerintahan Jokowi sudah membuat Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), sayangnya hanya menjadi “event organizer untuk yang kuasa. Dan justru banyak mengampanyekan kebudayaan Korea Selatan di Indonesia.

"Di pemerintahan baru, Bekraf harus menjadi ujung tombak sosialisasi kebudayaan Indonesia di luar negeri dan memacu kenaikan nilai tambah seni dan budaya dalam produk-produk Indonesia," kata Rizal.

Terakhir soal kartu-kartu, rencana bagi-bagi kartu pemerintahan Widodo adalah solusi recehan yang tidak menyelesaikan masalah secara komprehensif. Bagaikan jualan permen lolypop, hanya pemanis yang menggiurkan, tetapi tidak mampu menyelesaikan kemunduran kita dalam pendidikan, kesehatan, lapangan kerja. Apalagi sumber pembiayaannya tidak jelas. Tax ratio Indonesia terendah,

"Masa mau pinjam untuk pesta bagi-bagi kartu. Kami khawatir pesta kartu ini hanya permen lolypop untuk memenangkan Pak Joko Widodo kembali. Tragis betul nasib Bangsa Indonesia," demikian Rizal. [RMOL]


Sumber: rmol
Read More

Kamis, 21 Maret 2019

Wartawan Senior: Aroma Kemenangan Itu Sudah di Depan Mata

21 Maret 0
Wartawan Senior: Aroma Kemenangan Itu Sudah di Depan Mata


BANDARpost "Aroma kemenangan sudah tercium sangat dekat. Ya, kemenangan sudah di depan mata!" tukas Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto, Jumat (15/3) malam di Ballroom, hotel Sultan. "Terus rapatkan barisan, terus jaga dan waspada!" lanjut mantan Danjen Kopasus yang paling dicintai para purnawirawan pasukan Baret Merah.

Prabowo dalam acara pemantapan untuk para Jurkamnas itu melanjutkan: "Banyak relawan kita di daerah-daerah mengadu pada saya, mereka diancam oleh oknum-oknum aparat, saya katakan tinggal 31 hari lagi, jangan takut!" pekik Prabowo yang disambut takbir oleh sekitar 1500 peserta yang hadir.

Masih kata Presiden Pencak Silat Dunia itu, saatnya kita terus bergerak. "Dan jangan takut dengan ancaman-ancaman itu. Bergerak kita mati, diam kita mati juga. Karena dalam hidup, mati adalah kepastian!".

Penegasan Prabowo ini penting agar seluruh lapisan masyarakat yang punya akal sehat dan menginginkan perubahan, terus bahu-membahu. Penegasan Prabowo ini bukan tanpa alasan. Penegasan Prabowo adalah fakta yang nyata di depan mata.

Ghirah

Seorang sahabat, wartawan senior dari Bangil, Sefdin, begitu biasa saya sapa, Selasa (19/3) siang di sebuah restoran Manado, menegaskan. "Tahun 2014, suasana seperti ini ada pada Jokowi. Tapi sekarang, ghirah (semangat/panggilan jiwa) umat ada pada Prabowo-Sandi!" tukasnya saat diskusi kecil dengan sesama sahabat sambil makan siang atas undangan Haryo Juniarto, lawyer yang dulu pernah memimpin BOPI.

Hebatnya, ghirah itu makin lama semakin tinggi akibat beragam tekanan dari pihak-pihak yang seharusnya netral. "Makin banyak tekanan, makin menjadi backfire (bumerang) bagi petahana," lanjut Sefdin.

Rakyat saat ini memang sudah tidak bisa dibohongi lagi. Bahkan apa pun upaya petahana untuk 'menyerang' melalui hasil survei, orang malah tertawa. Mana mungkin hasil survei dipercaya wong fakta lapangan meski ditutup oleh media-media main stream dari medsos terpampang jelas mana yang tumplek-blek sambutannya dan mana yang sunyi senyap. Dari sana rakyat yang rata-rata sudah cerdas, pasti bisa melihat data sesungguhnya.

"Ayo kita all-out sahabat! Waktu kurang dari sebulan lagi!" tulis sahabat saya sejak remaja yang alhamdulillah tak pernah putus hingga hari ini. "Jangan kendor, jangan teledor. Terus rapatkan barisan, cermat, jangan lepas pengawasan!" katanya lagi yang pernah menjadi pejabat kelas menengah di Pemda DKI, tapi dulu ia sangat berperan dalam hal-hal semacan ini.

Semangat yang sama diperlihatkan oleh sahabat saya yang ikut dalam diskusi itu. Ada Wailan Walalangi (mantan peraih medali emas Asian Games cabang tenis), Eddy Lahengko (wartawan senior), Dr. Arsyad Ahmadin (dosen dan pegiat olahraga nasional yang saat ini nyaleg di Gerindra untuk DPR RI), Sadik Al-Gadri (putra pejuang Hamid Al-Gadri), dan Ismail (anak muda yang energik).

Sekali lagi semangat yang menyala di antara kami juga bukan tanpa alasan. Jika boleh menggunakan istilah Rocky Gerung, kami adalah sekumpulan orang yang punya akal sehat, tidak asal mendukung. Kami bukan sekumpulan orang dungu yang secara membabi-buta mendukung tokohnya yang sudah nyata-nyata gemar berbohong. Bahkan untuk satu penjelasan saja sang tokoh lagi-lagi berbohong: "Waktu itu umur saya 4 tahun, bla...bla...bla. Ya waktu itu umur saya 10 tahun!". Bukan hanya itu, banyak lagi lainnya. Tapi di mata para pendukungnya sang tokoh dianggap tepat dipuja seperti tanpa ada kesalahan sedikit pun.

Jadi, sekali lagi, aroma kemenangan sudah di depan mata: Ayoooo rapatkan barisan untuk menyambutnya! Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!

Penulis: M. Niagara


Sumber: 
Read More

Selasa, 19 Maret 2019

Dr. Tony Rosyid: 2019, Wis Wayahe Ganti Presiden

19 Maret 0
Dr. Tony Rosyid: 2019, Wis Wayahe Ganti Presiden

BANDARpost – “Wis Wayahe”. Kalimat ini bergema di Pesantren Al-Anwar Sarang saat Prabowo sowan ke K.H. Maemoen Zubair September tahun lalu. Hampir semua santri dari lantai satu hingga lantai tiga menggemakan suara “Wis Wayahe”… Bercampur gema shalawat dari lidah ribuan santri. Suara ini mengiringi perjalanan Prabowo dari “ndalem” K.H. Maemoen Zubair ke “ndalem” K.H. Najih Maemoen Zubair, sang putra yang terang-terangan mendukung dan mengkampanyekan Prabowo for presiden.
Santri berani teriakkan “Wis Wayahe”, tentu setelah para santri yakin Sang Kiyai mendukung penuh Prabowo jadi presiden. Dukungan ini dibaca para santri dari isi ceramah dan doa Mbah Moen. Terang dan jelas. Doakan Prabowo jadi presiden. Publik bisa melihatnya di YouTube.

Ceramah dan doanya natural. Tanpa diminta, apalagi diintervensi. Tak ada ralat doa. Tak ada selfie di kamar. Sebab, yang di kamar hanya ada K.H. Maemoen Zubair dan Prabowo. Tak ada kamera dan tukang foto. Kedua tokoh ini juga tak suka selfie. Keikhlasan menjadi rahasia hubungan mereka dengan Tuhan.



Sumber: 
Read More

Senin, 25 Februari 2019

Jalan Tol, Untuk Siapa?

25 Februari 0
Jalan Tol, Untuk Siapa?


BANDARpost   Asyik... Tol Trans Jawa sudah jadi. Lebaran bisa pulang cepat. Jakarta-Semarang bisa ditempuh 6-7 jam. Jakarta-Surabaya cuma 10-12 jam. Nggak perlu berlama-lama lagi di jalan.


 Ini baru ada di era Jokowi. Jadi, rakyat harus berterima kasih kepada Jokowi. Tidak kepada presiden-presiden sebelumnya. Karena, yang sukses membangun tol Trans Jawa (panjangnya 933 km) itu presiden Jokowi. Oh... Kalau anda tidak dukung (pilih) Jokowi, jangan lewat jalan tol, begitu kata walikota Semarang.

Sabar! Jangan bereaksi dulu. Cukup yang lulus SD, atau maksimal SMP, yang boleh komentar. Untuk menilai ucapan walikota Semarang itu, tak perlu kuliah dan berijazah S1. Eman-eman ijazahnya. Ketinggian.

Lewat jalan tol, anda merasa asyik. Apakah orang lain juga merasa asyik? Ikut menikmati jalan tol seperti anda?

Anda punya banyak uang. Tak masalah, sekali dalam setahun keluar uang untuk bayar tol. Sopir truk ogah lewat tol. Kenapa? Mahal! Pembekakan biaya.

Bisa sampai 100 persen bengkaknya, kata Nofrisel, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo).

Kalau sesekali lewat tol, itu semata-mata untuk menghindari jembatan timbang. Masuk Weleri, keluar Pekalongan. Cuma 60 ribu rupiah. Dari pada kena tilang di jembatan timbang Rp100 ribu. lumayan, bisa menghemat 40 ribu rupiah.

Pantas saja, jembatan timbang Subah Kabupaten Batang sepi. Terjadi penurunan hingga 90 persen, kata ketua Unit Pelaksana Penimbangan Kendaraan Bermotor (UPPKB) Subah, Arif Munandar. Rupanya, para sopir truk sudah mulai cerdas.

Bus juga males lewat tol. Alasannya sama. Mahal! Padahal, mereka yang setiap hari jalan. Dari mana melihatnya mahal? Tanya Luhut Binsar Panjaitan (LBP). Apa urusannya dengan LBP ya? Apakah tol sekarang sudah jadi urusannya menko maritim? Cuma komentar kan boleh-boleh aja. Apalagi seorang menteri. Sah!

Anda hanya sesekali lewat jalan tol. Itupun kalau lebaran. Atau mendadak ayah, ibu atau keluarga anda ada yang meninggal. Anda terpaksa lewat tol. Jika tak mendadak, dan bukan di hari lebaran, apakah anda pulang kampung lewat tol? Terutama yang punya mobil Avanza dan sejenisnya.

Jakarta-Semarang (424,5 km) pakai Avanza, anda butuh bensin sekitar 300 ribu rupiah. Biaya tol? 289 ribu. Jadi, anda harus keluar biaya hampir dua kali lipat. Jakarta-Surabaya (760 km)? Anda keluar uang untuk beli bensin sekitar 600 ribu. Tol Rp 483.500. Jadi lebih dari 1 juta. Belum lagi anda masuk rest area. Harga makanannya cukup mahal. Beda jauh harganya dengan warung Si Mbok di pinggir jalan Pantura.

Yang pasti, tol tidak dinikmati oleh sopir truk dan para penumpang bus yang umumnya orang-orang kecil yang berekonomi lemah. Juga mereka yang mobilnya tak mewah. Yang masih terasa berat beli bensin, apalagi biaya tol. Lebih-lebih, bensin dan tol beberapa tahun ini berebut naik. Seperti sedang berkompetisi.

Anda pernah merasakan bagaimana nasib para pedagang di jalan sepanjang Pantura? Ada ribuan penjual telur di sepanjang jalan raya Tegal dan Brebes. Ada toko-toko batik di Pekalongan. Ada warung-warung kecil berderet di Batang. Sepi! Sebagian sudah tutup.

Begitu juga nasib sejumlah rumah makan. Sebagian sudah mulai gulung tikar, karena mobil-mobil mewah memilih lewat tol. Tak lagi mampir di rumah makan- rumah makan itu. Sementara, mobil-mobil murah dan bekas, berhitung seribu kali makan di restoran. Bawa bekel sendiri dari rumah. Irit! Karena ekonomi sedang susah.

Tak hanya rakyat kecil yang menjerit, tapi juga PT. Jasa Marga (Persero) tbk.. Tarif sekarang tidak buat kita untung. Bertahan saja berat, kata Donny Arsal, Direktur Keuangan PT. Jasa Marga (Persero) tbk.

5-10 tahun masih harus top up untuk bayar bunga hutang, lanjut Donny Arsal. Sebab, infrastruktur jalan tol dibangun dengan dana pinjaman. Kenapa minjam? Karena PT. Jasa Marga (Persero) Tbk tak punya cukup dana. Kenapa dipaksain?

Pertama, karena Pilpres sudah dekat.

Kedua, ada yang semangat ngasih pinjeman. Kok semangat? Karena ada maunya.

Begitu mahalnya infrastruktur jalan tol, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono ke X tak mau bangun jalan tol. Lebih suka bangun ring road.

Pertama, biaya nggak terlalu besar. Jadi, tak perlu dana pinjaman. Apalagi pinjam luar negeri, yang ujung-ujungnya harus terima impor tenaga kerja.

Kedua, gratis. Nggak perlu bayar. Rakyat tak terbebani. Bahkan motor pun bisa menikmati.

Ketiga, pedagang kecil tak perlu tutup, karena pengguna jalan masih bisa mengakses ke para pedagang yang bertahan hidup dengan jualan makanan itu.

Gubernur DIY tak perlu pusing mikir pilgub berikutnya. Malah pingin hak istimewa sebagai gubernur dicabut. Tapi, rakyat menghendaki tetap jadi gubernur.

Ini baru seorang pemimpin. Pemimpin yang memikirkan rakyatnya akan selalu banjir dukungan dari rakyat.

Sebaliknya, pemimpin yang sibuk dengan dirinya, ia akan mengemis dukungan dari rakyatnya. Segala cara dilakukan, kendati tabrak aturan. Yang penting, dapat dukungan.

Kalau begitu, lalu jalan tol dibangun untuk siapa? Untuk rakyat? Yang jelas, orang-orang miskin tak bisa menikmatinya. Termasuk sopir truk dan penjual telur asin. Atau untuk memenuhi kepentingan dan ambisi pihak yang membangun?

Seandainya Anda menjawab bahwa jalan tol dibangun untuk menghadapi Pilpres, anda tak terlalu salah. Karena jawaban Anda mirip dengan jawaban orang yang ada di Istana.

Penulis: Tony Rosyid


Sumber : 
Read More

Sabtu, 16 Februari 2019

Uninstall Bukalapak, Kedunguan Pendukung Gelap Mata

16 Februari 0
Uninstall Bukalapak, Kedunguan Pendukung Gelap Mata


Oleh: Yudistira Farjana
BANDARpost  Lebay apa baper sih, pendukung Jokowi? Ahh, ada yang bilang dua-duanya. Di masa-masa jelang Pilpres gini, ya wajar orang cuit sana cuit sini di medsos. Harusnya, biasa saja dong reaksinya.

Maksud prolog di atas reaksi para pendukung Jokowi ketika mereka membaca ciutan CEO Bukalapak, Ahmad Zaky. Padahal, Zaky menulis by fakta. Dia tak asal tulis

Dalam cuitannya, Zaky bilang omong kosong industri 4.0 jika budget research and development (R&D) Indonesia masih jauh dibanding negara-negara lain. Dalam data yang dia sodorkan, Indonesia jauh tertinggal dari Singapura dan Malaysia.

"Omong kosong industri 4.0 kalau budget R&D negara kita kaya gini (2016, in USD) 1. US 511B 2. China 451B 3. Jepang 165B 4. Jerman 118B 5. Korea 91B 11. Taiwan 33B 14. Australia 23B 24. Malaysia 10B 25. Spore 10B 43. Indonesia 2B. Mudah2an presiden baru bisa naikin," tulis Zaky di cuitannya. Belakangan, lantaran diserang secara frontal oleh pendukung petahana, cuitan itu dia hapus.

Nah, yang jadi persoalan itu ternyata bukan data-data yang disajikan Zaky. Ahhhh, kampungan banget nggak sih? Ketika data sulit dihujat, mereka enggak-enggak aja komplain soal tulisan 'presiden baru' di dalam cuitan Zaky. Bahkan rame-rame bikin tagar #unisntallbukalapak.

Kalau dengan dingin menyikapinya, harusnya gak jadi masalah dong. Siapapun yang terpilih di Pilpres nanti, toh memang jadi Presiden Baru. Jokowi kalau terpilih, ya jadi Presiden Baru dengan periode baru.

"Bangun2 viral tweet saya gara2 "presiden baru" maksudnya siapapun, bisa Pak Jokowi juga. Jangan diplintir ya :) lets fight for innovation budget," kata Zaky mengklarifikasi.

Yang makin bikin geli, adalah omongan TKN yang bawa-bawa urusan 'jasa Jokowi' terhadap Bukalapak. Ini jelas tak cerdas, panik, dan norak.

"Sangat disayangkan jika kemudian Achmad Zaky men-tweet yang terkesan 'melupakan' upaya Pak Jokowi yang banyak memberikan perhatian terhadap industri digital Bukalapak ini," ujar jubir TKN Jokowi-Ma'ruf, Ace Hasan.

Inilah bentuk kepanikan. Entah itu dari Jokowi atau dari para pendukungnya. Jokowi akhir-akhir ini sibuk meng-counter segala kritik yang datang, pun begitu para simpatisannya, terutama di media sosial.

Ahhh bukan niat membenturkan yaa, tapi apa yang dikatakan anggota tim Advokasi dan Hukum BPN Prabowo-Sandi, Habiburokhman, ini jleb banget.

"Kubu TKN diharap jangan lebay dan seolah anti-kritik menagggapi cuit CEO Bukalapak. Selama ini mereka sering mengkritik dan bahkan melemparkan tuduhan negatif kepada pihak lain yang tidak mendukung Jokowi, tetapi giliran ada kritik kenapa mesti gusar?"

"Tidak ada yang salah dengan cuit CEO Bukalapak, sebagai pelaku bisinis tentu dia paham apa yang disampaikannya soal budget penelitian dan pengembangan, selain itu saat ini memang kita sedang menyelenggarakan event Pemilu. Inti cuit tersebut sederhana sekali yaitu bagaimana presiden hasil Pemilu ini meningkatkan anggaran penelitian dan pengembangan."

Ingat ya, kritik lawan dengan kritik, data dengan data, penelitian dengan penelitian. Bukan data dengan baper.

Sumber : Konfrontasi 
Read More

Rabu, 06 Februari 2019

Runtuhnya Moral Politik Kaum Santri

06 Februari 0
Runtuhnya Moral Politik Kaum Santri

10Berita  Muktamar NU ke-27 di Asembagus Situbondo 1984 berlangsung di tengah konflik yang melanda NU yang merupakan imbas dari konflik yang terjadi di tubuh PPP menjelang Pemilu 1982, terutama terkait dengan Daftar Calon Tetap (DCT) DPR RI PPP yang banyak merugikan politisi-politisi dari kiai-kiai sepuh dan sebaliknya justru menguntungkan politisi-politisi muda NU.

Dampak dari DCT itu luar biasa. KH. Idham Cholid yang saat itu menjadi Ketua Tanfidziyah PBNU sekaligus Presiden Partai (PPP, jabatan simbolik) menyatakan mengundurkan diri sebagai Ketua Tanfidziyah. Pernyataan pengunduran diri ini dibuat di atas kertas dan dilakukan di hadapan kiai-kiai sepuh yang dipimpin KH. As'ad Syamsul Arifin yang secara khusus mendatangi kediaman Kiai Idham. Mengetahui pengunduran diri ini, para pendukung Kiai Idham tidak terima dan berhasil memaksa Kiai Idham untuk mencabut pernyataan pengunduran dirinya.

Dampak pengunduran diri ini, NU terbelah menjadi dua kubu, yaitu Kubu Cipete (merujuk pada tempat kediaman Kiai Idham) yang identik dengan kubu politisi dan Kubu Situbondo (merujuk pada kediaman Kiai As'ad) yang identik dengan kubu khittah.

Muktamar Situbondo menghasilkan duet kepemimpinan KH. Achmad Siddiq (Rais Am) dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur, Ketua Tanfidziyah). Terpilihnya “duet maut” ini tidak mudah. Pemilihan Rais Am harus memakai mekanisme Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA). Kiai As’ad sebagai tuan rumah Muktamar diberikan mandat oleh muktamirin untuk memilih enam anggota AHWA (merujuk pada mekanisme suksesi saat terpilihnya Khalifah Usman bin Affan), yaitu KH Ali Maksum, KH Syansuri Badawi, KH Masykur, KH Ali Hasan Ahmad, KH Romli, dan KH Roffi Mahfudz.

Keputusan ini diterima muktamirin, meskipun tentu ada yang tak puas terutama dari kubu Cipete, tetapi tidak sampai membelah dan memecah NU.

Meskipun akhirnya terpilih sebagai Ketua Tanfidziyah, namun terpilihnya Gus Dur tidak mudah. Ada penentangan dari beberapa muktamirin, termasuk KH. Machrus Ali, pengasuh Pesantren Lirboyo. Penolakan terutama terkait dengan kenylenehan Gus Dur, termasuk posisi Gus Dur sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta.

Namun penolakan terhadap Gus Dur selesai saat KH. Achmad Sidiq bercerita bahwa dirinya bermimpi melihat KH Wahid Hasyim (ayah Gus Dur), berdiri di atas mimbar. Kiai Achmad mentakwilkan mimpi tersebut kalau Kiai Wahid yang juga putra KH. Hasyim Asy'ari merestui Gus Dur. Spontan Kiai Machrus dan muktamirin lainnya berubah sikap menjadi mendukung Gus Dur tanpa syarat. Gus Dur terpilih karena moral kaum santri yang memegang teguh ketaatan dan hormat pada kiainya dengan prinsip sami’na wa atha’na (mendengar dan taat).

Saat Muktamar Yogyakarta, 1989, di kala Kiai As’ad mengambil sikap mufaraqah terhadap kepemimpinan Gus Dur, tak ada kiai lain yang mengikutinya. Kenapa? Karena prinsip sami’na wa atha’na pada gurunya masih cukup kuat. Dalam tradisi NU, Gus Dur yang merupakan cucu Kiai Hasyim termasuk pusering dunyo nahdliyin. Tak ada yang berani melawan Gus Dur. Melawan Gus Dur sama dengan melawan Kiai Hasyim. Ini bangunan moral yang cukup kuat di kalangan kaum santri.

Ketika berlangsung Muktamar Cipasung 1994, rezim Soeharto dengan kekuatan penuh mencoba melengserkan Gus Dur dengan memasang Abu Hasan, orang yang masuk NU karena jasa Gus Dur, sebagai calon boneka untuk jabatan Ketua Tanfidziyah. Menyadari Gus Dur dalam ancaman, maka sebagian besar muktamirin merapat ke Gus Dur. Merapat untuk membela cucu Kiai Hasyim. Akhirnya Gus Dur berhasil memenangkan pertarungan dalam perebutan jabatan Ketua Tanfidziyah, meskipun dengan suara tipis. Padahal saat itu di tubuh NU sudah banyak yang tidak sejalan dengan Gus Dur, terutama dengan segala kontroversinya.

Sampai dengan Muktamar Cipasung terlihat bangunan moral politik kaum santri masih cukup kokoh. Namun selepas Orde Baru tumbang, terlebih ketika iklim politik era Reformasi yang sejak 2004 berlangsung secara liberal, kokohnya moral politik santri mulai meleleh. Tak terbayangkan, dengan intervensi dan bantuan rezim SBY, Gus Dur berhasil “ditumbangkan” oleh keponakannya, Muhaimin Iskandar. Padahal Muhaimin adalah anak muda yang diorbitkan oleh Gus Dur.

Masih ingat dengan Djan Farid, mantan Ketua Tanfidziyah PWNU Jakarta dan Ketua Umum PPP yang dalam tayangan langsung di TVONE dua kali gagal melafadzkan amar makruf nahi munkar. Kalimat yang semestinya begitu mudah diucapkan oleh seorang muslim, namun seorang Djan Farid gagal melafadzkannya, dengan mengucapkannya amar makruf nahi “mankur”.

Kalau membaca dengan pendekatan tradisi moral kaum santri, saya kira kegagalan Djan Farid melafadzkan amar makruf nahi munkar sulit dipahami semata sebagai bentuk keseleo lidah, tapi mesti dipahami sebagai bentuk “teguran keras” Sang Pemilik Kekuasaan atas sikap politiknya yang membiarkan dan bahkan ikut terlibat dalam upaya adu domba dan perpecahan politik yang terjadi di tubuh PPP. Belum lagi sikap politiknya pada saat Pilkada Jakarta 2017 yang mendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), yang telah melecehkan dan menista Islam.

Pembiaran atas perpecahan di tubuh PPP dan dukungannya terhadap Ahok, selain telah merendahkan marwah PPP sebagai partai Islam, juga sekaligus meruntuhkan moral politik santri. Saya tidak bisa membayangkan hukuman apa yang akan diterima oleh Djan Farid bila sikap yang dipertontonkannya dilakukan ketika kiai-kiai sepuh seperti KH. Bisri Syamsuri, KH. Machrus Ali, KH. Yusuf Hasyim, dan KH. Ilyas Ruchiyat masih hidup?

Dulu, ketika mendapati gaya hidup Zubchan ZE., Ketua I PBNU, yang dinilai telah melenceng dari nilai-nilai Islam, Kiai Bisri sebagai Rais Am langsung memecatnya. Apalagi dengan sikap dan perilaku politik yang dipertontonkan oleh Djan Farid, mungkin tindakannya akan jauh lebih keras.

Detik-detik terakhir menjelang berakhirnya waktu pendaftaran pasangan capres dan cawapres, publik dikejutkan dengan munculnya nama KH. Ma'ruf Amin, yang saat itu menjabat jabatan paling terhormat di NU sebagai Rais Am dan juga Ketua Umum MUI Pusat.

Kalau melihat perkembangan detik demi detik jelang berakhirnya pendaftaran capres dan cawapres, memunculkan nama kiai sepuh dengan jabatan tertinggi di NU seperti Kiai Ma'ruf sebagai cawapres, rasanya semakin memperkuat telah runtuhnya moral politik kaum santri. Apalagi ketika memunculkan nama Kiai Ma'ruf sambil menafikan ke-NU-an Moh. Mahfud MD. Bagaimana mungkin Mahfud MD yang orang Madura dinafikan ke-NU-an. Agama sebagian besar orang Madura itu bukan Islam, tapi NU.

Pencalonan Kiai Ma'ruf sebagai cawapres Jokowi terbukti sangat tidak signifikan dalam mengangkat elektabilitas pasangan Jokowi-Kiai Ma’ruf. Partai-partai pendukung pasangan Jokowi-Kiai Ma'ruf, terlebih PKB dan PPP pasti tahu akan hal ini. Terlalu banyak Nahdliyin, baik yang secara politik berafiliasi ke PKB dan PPP atau partai lainnya yang tidak mau memilih pasangan Jokowi-Kiai Ma'ruf. Begitu pun di kalangan “kiai kampung” terlalu banyak yang tidak mau mendukung dan memilih pasangan Jokowi-Kiai Ma’ruf. Alasannya karena mereka melihat bahwa Kiai Ma'ruf yang dari sisi usia termasuk sudah cukup udzur hanya diperalat oleh segelintir politisi NU, terutama dari PKB dan PPP. Kebanyakan Nahdliyin dan “kiai kampung” justru merasa kasihan dengan pencalonan Kiai Ma’ruf.

Beberapa hari lalu publik kembali disuguhi tontotan yang menyedihkan, ketika ada kiai sepuh, KH. Maimun Zubair berdoa dengan ketulusannya justru mendapat koreksi dari Ketua Umum PPP Romahurmuziy, seorang yang sebenarnya masih tergolong dzurriyah NU. Bahkan ketika koreksi doa dianggap belum cukup,
Romahurmuziy pun mengajak Presiden Jokowi masuk ke kamar Mbah Maimun untuk membuat vlogging, tentu vlogging yang menegaskan pernyataan dukungan Mbah Maimun kepada Jokowi.

Sebagai orang yang pernah nyantri dalam tradisi NU, saya melihat bahwa sikap tersebut rasanya sudah masuk kategori sebagai shuul adab dari seorang santri kepada kiai sepuh. Jangankan memprotes, mengoreksi pernyataan kiai, apalagi pernyataan (konteks kasus yang terjadi adalah "memprotes sekaligus mengoreksi doa) kiai sepuh seperti Mbah Maimun, jelas sesuatu yang tabu dalam tradisi kaum santri. Sikap yang dipertontonkan Romihurmuziy sekaligus menegaskan semakin runtuhnya moral politik kaum santri. Sekian.

Kereta Tegal Bahari, 3/2/2019

Penulis: Ma'mun Murod Al-Barbasy


Sumber : portal islam 
Read More