Ini Dia Gus Nuril yang Menjegal Ustadz Abdul Somad di Semarang
10Berita, Nama KH. Dr. Nuril Arifin Husin, MBA yang dikenal sebagai Gus Nuril kembali bikin heboh, kali ini terkait usahanya menjegal ceramah ustadz Abdul Somad di Semarang. Ceramah itu dalam rangkaian dakwah di sejumlah tempat antara lain di Unissula Kaligawe, Lapangan Pedurungan dan Mijen Semarang Barat.
Nuril Arifin (nahi munkar).
Selembar surat yang ditujukan kepada Polda Jawa Tengah tertanggal 22 Juli 2018 ia tandatangani atas nama Panglima Tinggi PGN alias Patriot Garuda Nusantara. Ia beralasaan ceramah Ustadz Abdul Somad (di surat itu tertulis Abdussomad) membahayakan NKRI karena Abdul Somad dia katakan sebagai juru bicara HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yakni sebuah ormas yang sudah dibubarkan pemerintahan Joko Widodo.
Langkahnya memuculkan reaksi. Sejak itu berbondong-bondong sejumlah ormas dan komunitas melayangkan surat juga bahwa mereka mendukung kegiatan ceramah UAS. Antara lain ada Perisai Dakwah Semarang, Forum Komunikasi Aktivis Masjid (FKAM), dan dari Komunitas One Day One Juzz (ODOJ) Semarang.
Kyai Nuril bukan hanya ceramah di gereja, tapi juga ibadah di candi (ist).
Sesungguhnya, kalaulah ustadz Abdul Somad ceramahnya membahayakan NKRI dan Pancasila, jauh-jauh hari sudah dihentikan. Faktanya Jusuf Kalla sebagai Ketua Dewan Masjid Indonesia dan Wakapolri selaku Wakil Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia, menyelenggarakan tablig akbar yang menjadikan UAS sebagai penceramah.
Maka dapat disimpulkan bahwa apa yang dikhawatirkan oleh Nuril Arifin tidaklah mendasar. Yang mendasar justru karena sudah menjadi kebiasaannya menolak orang Islam yang tidak sejalan dengan pikirannya dan lebih melindungi orang non muslim.
Siapakah Nuril Arifin? Dia adalah Gusdurian alias pengikut Gus Dur yang ingin menjembatani pemikiran Gus Dur dengan warga kalangan bawah dan kelompok non muslim agar tidak bentrok. Ia adalah alumni SMA Sultan Agung Semarang dan APPD, pimpinan pesantren Soko Tunggal Sendangguwo Semarang, serta Panglima Tinggi ormas PGN.
PGN yang dipimpinnya juga menolak UAS di Denpasar Bali. Gus Nurul juga biasa ceramah di Gereja dan Klenteng. Ia juga sering disebut kyai comberan karena suka menjelek-jelekkan orang atau kelompok lain.
Di sejumlah ceramahnya topik yang sering dibicarakan adalah soal ahlus sunnah wal jamaah, dan pembelaan kaum marjinal, tapi sayangnya menjelek-jelekkan kelompok lain. Bukan hanya HTI yang dijelek-jelekkan, tetapi juga ketika merambah pada topik politik.
Saat Gus Nuril diturunkan dari panggung (Panjimas).
Contoh dalam tayangan Youtube yang diunggah PGN Tangsel 23 Januari 2017 dalam tema “rokok haram”. Gus Nuril menjelaskan mengapa dimunculkan keputusan majelis tarjih soal haramnya rokok, karena ketika itu Ketua MPR-nya Hidayat Nur Wahid dari PKS, Menteri Komunikasinya dari PKS, Menteri Pertaniannya dari PKS, soal Otonomi Daerah dipegang Ryas Rasyid. Semua yang menghubungkan petani dimatikan semua agar mereka masuk PKS. Itu kata Gus Nuril.
Lebih dari itu, tujuan memunculkan fatwa haram rokok adalah agar memberikan imej bahwa para ulama NU masuk neraka. “Padahal ketika saya sowan mbah Arsy’ad Syamsul Arifin (Pimpinan Pesantren Asembagus Situbondo dan Mustasyar PBNU hingga akhir hayatnya tahun 1990), ketika cium tangan, tangannya baunya asbak. Sementara Mbah Muhaimin Gunardo (Parakan-Temanggung) malah jualan tembako. Lah kalau diharamkan nasib umroh, haji dan ibadahnya bagaimana?,” ujar Gus Nuril.
Itulah salah satu kutipan ceramahnya. Yang kasihan justru ketika ceramah di Masjid Jami’ Assu’ada Jatinegara Kaum Jakarta Timur pada 20 Februari 2015. Ia terpaksa diturunkan dari panggung karena ada teriakan dari pengunjung “turun, turun” lantaran isi ceramahnya dianggap tidak bermutu.
Baru berbicara ia menegaskan bukan memberikan tausiyah melainkan mauidhoh hasanah, soalnya kalau tausiyah itu istilahnya PKS sementara ia bukan PKS tapi NU. Ini supaya jelas, katanya. Lagi pula yang seneng shalawatan biasanya bukan PKS tapi NU.
Dalam penggalan ceramahnya juga menjelaskan ihwal gerakan wahabi, yang salah satunya menghilangkan jejak sejarah. Bekas rumah tempat lahirnya sayyida Khatijah dan Fatimah di pintu keluar sa'i bernama Marwa, kini dijadikan tempat membuang hajat (WC) di Mekah. Padahal faktanya lokasi itu adalah tempat rumahnya abu jahal.
Ia juga bercerita tentang peran para habib di Mekah yang dibantai dan mengunggulkan China yang berjasa membangun kereta dari gurun Gobi ke Arab saudi. Ceramahnya juga membawa-bawa nama Yesus. Kemudian mulai menghina Habaib di Jakarta yang menolak Ahok.
Gus Nuril kemudian berkata “Habib harusnya bersyukur ke orang China, karena sebab China maka ada Maulid”, dan seterunsya, termasuk bercerita tentang perkawinan antara Wahabi dan Ihwanul Muslimin yang melahirkan Hizbuttahrir.
Hingga akhirnya memicu kemarahan pengunjung. Habib Ali bin Husin Assegaf yang berada di belakang Gus Nurl meminta agar pak Kyai Nuril menyampaikan sejarah keagungan baginda Nabi Muhammad.
Tapi rupanya pengunjung ramai, sehingga ceramah diambil alih dan Gus Nurul diturunkan. Melihat videonya, kasihan sebenarnya. Tetapi ya itulah tentang Gus Nuril Arifin yang sekarang sedang kembali jadi perbincangan, karena kebenciannya terhadap para penceramah di luar kelompoknya, dengan mengambil jargon Pancasila dan NKRI untuk memukul kelompok lain.
Semoga saja hal-hal begini bisa mendewasakan kita semua, bukan soal kelompok dan urusan cabang. Sebaiknyalah kalau mau menyoal adalah urusan yang mendasar. Wallahuba’lam (fur/26/7/2018).
Sumber :UC News

Tidak ada komentar:
Posting Komentar