Tangisan 'Buaya' PDIP Saat Kenaikan BBM, Kini Hanya Kenangan
BANDARpost – Saat ini kabinet pemerintahan Indonesia didominasi PDI Perjuangan sebagai partai penguasa dibantu oleh beberapa partai lainnya, meski di awal kampanye Presiden Joko Wiodo mengungkapkan takkan bagi-bagi jabatan, namun usai menduduki kursinya di tahun 2014 silam, bagi-bagi kursi pun terjadi, begitulah politik.
Menelisik era pemerintahan Presiden Jokowi sebagai petugas partai PDIP dalam kaitannya dengan BBM yang baru-baru ini menjadi trending topik di Indonesia dengan mencuatnya harga Pertamax dari Rp 9.500 menjadi Rp 10.400 dilansir dari news.detik.com (14/10/2018).
Jika dihitung-hitung, pemerintahan Jokowi telah menaikkan BBM sebanyak 13 kali, sejak berakhirnya pemerintahan di tangan SBY yang kala itu harga Premium masih Rp 4.500 per liter menjadi Rp 6.550 di tangan Presiden Jokowi. Namun belum lama ini, pemerintah sempat memberitakan akan menaikkan harga premium yang merupakan BBM bersubsidi kisaran Rp 7.000 per liter, meski atas mandat presiden, kenaikan harga tersebut ditundah.
Melihat maraknya kenaikan harga BBM di masa pemerintahan Jokowi ini, membuat sebagian masyarakat Indonesia terkenang akan kisah Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia, Puan Maharani yang ketika di masa pemerintahan SBY menjadi icon penolong rakyat kecil dalam memprotes kenaikan harga BBM.
Puan Maharani yang mengatasnamakan mewakili Partai Wong Cilik ini bahkan tak sungkan menangis di depan awak media dengan tersedu-sedu sebagai bentuk protes dirinya akan kenaikan harga BBM yang menyulitkan perekonomian rakyat.
Melalui Puan juga masyarakat merasa tertolong dengan sosok yang menjadi cucu Presiden pertama Indonesia ini. Ia seakan-akan menjadi Kartini di era demokrasi bagi masyarakat Indonesia. Bahkan tak sedikit, kader PDIP berani meninggalkan rapat parlemen yang membahas kenaikan harga BBM sebagai bentuk ketidaksetujuan mereka akan hal tersebut sebagaimana dilansir dari tribunnews.com (14/10/2018).
Kisah kader PDIP ini benar-benar dielu-elukan rakyat kecil sebagai partainya masyarakat bawah (wong cilik) kala itu. Pada akhirnya partai ini menjadi partai yang memperoleh suara terbanyak pada pemilihan legislatif di tahun 2014. Tak hanya itu, calon presiden yang mereka usungpun ikut memenangi pilpres 2014.
Namun perjuangan tersebut hilang diterpa angin seiring kekuasaan sudah berada di tangan mereka. Harga BBM yang sempat naik-turun di era SBY juga menjadi hilang dalam catatan masyarakat, karena himpitan harga BBM di era Presiden Jokowi bahkan berkali-kali lipat dibanding di era Presiden SBY selama dua periode memimpin.
Belum genap memimpin satu periode, kenaikan harga BBM telah mencapai 13 kali dan masih akan naik lagi mengingat pernyataan staf ahli Presiden yang mengungkapkan harga BBM Premium ditunda bukan diberhentikan. Jika di era Presiden SBY harga BBM Premium sempat diturunkan dari harga Rp 6.000 per liter menjadi Rp 4.500 per liter, namun di era Presiden Jokowi kalimat harga BBM turun terdengar mustahil.
Kenangan tangisan dari Partai Wong Cilik sebagai wujud protes atas kenaikan harga BBM kini hanya tinggal kenangan. Partai Wong Cilik sekarang pun tak ubahnya partai penguasa lainnya yang tak peduli dengan jeritan masyarakat kecil. Kebutuhan semakin mahal akibat meroketnya harga BBM sedangkan penghasilan masyarakat tetap tak berubah bahkan menurun (baca: merugi) akibat masa panen para petani lokal dibarengi dengan kebijakan impor pemerintah.
Sumber : UC News

Tidak ada komentar:
Posting Komentar