Bamsoet ke Tito Karnavian: Rekam Jejak Tak Akan Bohong - BANDAR post

Hot

Selasa, 16 Oktober 2018

Bamsoet ke Tito Karnavian: Rekam Jejak Tak Akan Bohong

Bamsoet ke Tito Karnavian: Rekam Jejak Tak Akan Bohong

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo.twitter @DPR_RI

BANDARpost, JAKARTA, - Ketua DPR RI, Bambang Soesatyo (Bamsoet) meminta Kapolri Jendral Tito Karnavian tetap fokus bekerja sesuai tupoksinya.
Menurutnya, Kapolri tidak perlu larut atau pun terganggu atas isu adanya dugaan aliran dana dari Basuki Hariman dalam kasus impor daging kepada dirinya.
Pasalnya dari penjelasan Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasito sudah jelas bahwa Polri sudah meminta keterangan dari saudara Basuki Hariman mengenai hal tersebut. Dan Basuki mengakui bahwa dirinya tidak pernah memberikan dana kepada Kapolda Metro Jaya yang ketika itu dijabat oleh Tito Karnavian.
“Selain itu, pimpinan KPK juga sudah menegaskan tidak bisa melanjutkan isu ini lebih lanjut. Kita tentu percaya integritas KPK dalam menangani kasus hukum. Jika tidak ada bukti yang kuat, tidak mungkin KPK bisa melanjutkan proses hukum sebagaimana mestinya,” ujar Bamsoet di Gedung DPR RI Jakarta, Rabu (11/10).

Atas dasar tersebut, Bamseot kembali meminta kepada Kapolri Tito Karnavian dan jajarannya untuk tidak perlu menghabiskan banyak energi menanggapi isu ini.
Menurutnya, masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan oleh Polri. Antara lain pengamanan berbagai event internasional seperti Asian Para Games 2018, Annual Meeting IMF - World Bank di Bali, Natal dan Tahun Baru 2019, serta yang sangat penting menyangkut pengamanan Pemilu 2019.
“Jangan sampai isu ini membuat semangat Polri mengendur. Rakyat menaruh harapan besar kepada Polri untuk mewujudkan ketertiban dan keamanan masyarakat,” jelasnya.
Terlebih, kata Bamsoet, Polri sejak dipimpin Jenderal Tito Karnavian pada tahun 2016, kinerjanya terus mengalami peningkatan yang signifikan. Bahkan Survei Litbang Kompas per akhir Juni 2016, tingkat kepercayaan publik terhadap Polri mencapai 63,2 persen. Naik menjadi 70,2 persen pada Oktober 2017. Kemudian meningkat tajam pada Juni 2018 menjadi 82,9 persen, tertinggi semenjak era reformasi tahun 1999.

Dalam hal ini, Bamsoet mengatakan bahwa isu yang menimpa Kapolri harus dijadikan sebagai pelacut bukan justru menjadi pematah semangat.
“Ibaratnya sebuah pohon, semakin tinggi pasti akan menghadapi angin yang semakin kencang. Fitnah, isu agitasi dan propaganda tak bisa dielakan, apalagi terhadap pejabat publik yang dianggap berhasil memimpin sebuah institusi,” tuturnya.
“Ada saja pihak-pihak yang mencatut maupun memanfaatkan nama besar seseorang untuk kepentingan politik maupun bisnisnya yang tak bertanggung jawab. Namun pada akhirnya, integritas dan rekam jejak tak akan pernah bohong,” pungkasnya.
Sumber : 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar