Demokrat Nyerah Bikin Poros Ketiga, Lebih Milih Prabowo Ketimbang Jokowi, Soalnya…
SBY mengaku tahu persis orang-orang yang menjadi dalang penyeretnya dalam kasus e-KTP. Foto via RMOL
BANDARpost , JAKARTA – Partai Demokrat menjajaki peluang untuk berkoalisi dengan poros Gerindra dan PKS.
Salah satu alasannya karena kemungkinan Demokrat sulit membentuk poros ketiga.
Penjajakan awal telah dimulai dengan pertemuan Komandan Satuan Tugas Bersama Partai Demokrat (Kogasma PD) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dengan Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Sandiaga Uno, pekan lalu.
“Pasti dalam rangka koalisi, karena mengumpulkan suara 20 persen kan tidak mudah, maka Demokrat mencoba menjajaki bergabung dengan salah satu poros yang sudah ada,” ucap Juru Bicara Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean menjawab JPNN.com, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (21/5/2018).
Saat ini, lanjut eks relawan Joko Widodo itu, partai pimpinan Susilo Bambang Yudhoyono lebih condong membuka komunikasi dengan poros Gerindra.
“(Gerindra) yang kami anggap bisa menjadi teman yang lebih baik ke depan. Tetapi ini masih dalam tahap penjajakan politik, penjajakan awal, menyamakan frekuensi dulu, persepsi. Tapi tampaknya pembicaraannya akan meningkat,” jelas dia.
Itulah mengapa dalam waktu dekat pembicaraan kedua partai akan diperdalam saat pertemuan SBY-Prabowo yang sedang diatur waktunya.
Ferdinand menyebutkan, dalam proses penjajakan ini partainya tentu akan berkomunikasi dengan PKS yang sudah lebih dulu dekat dengan Gerindra, meskipun keduanya belum resmi berkoalisi di Pilpres mendatang.
“Kami masuk ini sekarang, meskipun belum resmi koalisi antara Gerindra dengan PKS, tapi mereka kita lihat sudah lebih dulu bersama-sama. Tentu kami masuk ke dalam poros yang sudah ada kalau memang nanti kami berkoalisi dengan mereka,” jelas Ferdinand.
Teman Anda Juga Baca Komentar Ini
180
Baju Adat- Jokowi-JK Pakai Baju Adat ke Sidang Tahunan MPR, Pendapat UCers?
Ada yang tak biasa dari momen Sidang Tahunan MPR tahun ini. Presiden Jokowi dan Wpres Jusuf Kalla menggunakan baju daerah yang ditukar. Jokowi menggunakan Baju Bodo khas Makassar dan JK menggunakan blankon dan beskap khas Jawa. Hal ini baru terjadi sekali. Biasanya, para presiden mengenakan jas, kemeja, dan dasi untung acara ini. Bagaimana pendapat UCers tentang hal ini? Apakah ini adalah ritual yang baik atau malah tidak pantas dikenakan saat acara seperti ini?
Sumber : Pojoksatu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar