BANDAR post: KRIMINAL

Hot

Tampilkan postingan dengan label KRIMINAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KRIMINAL. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Maret 2018

HEBOH Tabungan BRI RAIB, INI Pelakunya!

16 Maret 0

HEBOH Tabungan BRI RAIB, INI Pelakunya!


BANDARpost, Kepolisian Daerah Metro Jaya, berhasil menguak misteri raibnya dana tabungan nasabah Bank Rakyat Indonesia. Ternyata, pelakunya adalah pembobol bank bermodus skimming.

Yang paling mengejutkan ialah, dari lima pembobol dana nasabah BRI, hanya satu orang yang tercatat sebagai warga Indonesia, karena empat lainnya merupakan warga negara asing (WNA).

Menurut Kepala Unit IV Subdit Resmob dari Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, AKP Rovan Richard Mahenu, empat WNA itu masing-masing berasal dari Rumania sebanyak tiga pelaku dan asal Hungaria satu pelaku.

"Iya, ada warga negara asing. Hanya satu WNI," kata Rovan, Jumat 16 Maret 2018.

Lima pembobol bank ditangkap, setelah polisi melakukan perburuan selama sepekan. Kelima pelaku ditangkap di sejumlah lokasi berbeda di Indonesia.

Kelimanya ditangkap di DE PARK Cluster Kayu Putih Blok AB 6 No.3, Serpong, Tanggerang, Bohemia Vilage 1 No.57, Serpong Tanggerang, Hotel Grand Serpong, Tangerang, dan Hotel De’ Max Lombok tengah, Nusa Tenggara Barat.

Untuk sementara ini, polisi belum mau menjelaskan secara rinci tentang kasus ini hingga ditangkapnya lima pembobol bank itu.

"Besok (Sabtu, 17 Maret 2018) kita rilis ya, untuk lebih jelasnya," kata dia.

Sumber : PORTAL ISLAM

Read More

Selasa, 27 Februari 2018

Tambah Berani, Seorang Ustadz di Purbaratu Diserang Dua Pria Bertopeng, Ini Kronologinya

27 Februari 0

Tambah Berani, Seorang Ustadz di Purbaratu Diserang Dua Pria Bertopeng, Ini Kronologinya


BANDARpost, Teror terhadap tokoh agama kembali terjadi. Kejadian kali ini pelaku yang berjumlah dua orang dengan wajah ditutup menggunakan tergos hitam dengan menggunakan jaket dan celana hitam-hitam menyerang ustaz.

Pelaku satu sempat memanggil ustaz dan langsung menyerang korban. Sedangkan yang satu lagi menunggu di belakangnya tak jauh dari lokasi kejadian.

Beruntung korban sempat melawan dan dalam satu kesempatan berhasil melarikan diri. Meski demikian korban mengalami luka lebam di bagian wajah bagian kanan hingga sempat tidak bisa membuka mulutnya.

Menurut korba Ustaz Mastur Turmudi (60) warga Kampung Awiluar, Kelurahan Singkup, Kecamatan Purbaratu Kota Tasikmalaya. Berawal dari tahlil ke empat harinya di rumah Dedi Mulyadi, kerabat Mastur, Minggu (25/2/2018) malam. Waktu kejadian sekitar pukul 20.00 WIB. Saat kejadian hujan turun rintik-rintik.

Waktu itu, Ustaz Mastur berangkat menuju rumah Dedi dengan tangan memegang payung. Sekitar 100 meter sebelum sampai tujuan. Dua orang laki-laki tak dikenal mengenakan penutup wajah mencegatnya. Salah satunya meminta Ustaz Mastur untuk berhenti karena katanya ada sesuatu yang akan dirundingkan.

Akan tetapi, Ia terus saja berjalan karena mustami sudah menunggu untuk tahlil. “Kalau memang ada keperluan, nanti usai tahlil,” kata Ustadz Mastur, sambil terus berjalan, saat ditemui di kediamannya, Senin (26/2/2018).

Tapi baru saja kakinya melangkah, kain sorban yang dikenakan Usatdz Mastur ditarik pelaku. Hingga sesak napas dan tidak bisa berteriak. Yakin laki-laki itu akan menganiaya, korban balik menyerang.

Terjadilah perkelahian satu lawan satu. Namun setelah perkelahian itu, korban berhasil meloloskan diri dari pelaku yang hendak menganiayanya menuju tempat tahlilan.

Dengan napas ngos-ngosan korban tiba di rumah Dedi dan langsung memimpin tahlilan.

Usai tahlilan korban menceritakan kejadian yang baru dialaminya pada jemaah tahlilan. Guna mengobati lukanya di bagian pelipis, korban diantar anggota Polsek Cibeureum ke RS Dokter Sukarjo Kota Tasikmalaya untuk dipepriksa.

Sementara Danramil 1209 Cibeureum Kota Tasikmalaya, Kapten Inf Suwarna menyebutkan, pihaknya sebelumnya sudah menghimbau kepada seluruh warga Kecamatan Purbaratu untuk waspada terutama kepada ustadz dan ulama. Mengingat saat ini banyak teror yang dilakukan oleh orang yang hendak melakukan kejahatan.

Selain itu, kepada para santri, pihaknya kerap menyerukan untuk waspada terhadap gurunya dan melalukan ronda malam.

Sumber : kabarpriangan.co.id

Read More

Selasa, 30 Januari 2018

Tersangka Kasus Kondensat Rp 35 triliun, Honggo Lari Keluar Negeri, Bareskrim Kirim Red Notice

30 Januari 0


Tersangka Kasus Kondensat Rp 35 triliun, Honggo Lari Keluar Negeri, Bareskrim Kirim Red Notice

BANDARpost, Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri akhirnya menerbitkan Daftar Pencarian Orang (DPO) atas nama Honggo Wendratno. Padahal, tersangka kasus korupsi penjualan kondensat negara itu diduga sudah berada di luar negeri sejak lama.

DPO itu diterbitkan Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus (Dit Tipideksus) 26 Januari 2018. Ditandatangani Wakil Direktur Komisaris Besar Daniel Tahi Monang Silitonga.

Foto Honggo yang dicantum­kan di DPO tidak mengenakan kacamata. Padahal, berdasarkan foto yang beredar, pria kelahiran 12 September 1946 itu mengenakan kacamata.

Di situ juga dicantumkan nomor paspor, nomor KTP hingga sangkaan pidana yang dilakukan bekas pemilik Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) itu.

"Draft DPO sudah disebar, didistribusikan ke seluruh Polda dan kepolisian di seluruh wilayah Indonesia," kata Daniel. Masyarakat yang mengetahui keberadaan Honggo diimbau untuk memberitahukannya ke kantor polisi terdekat seperti dikutip dari Rmol.co

Hingga kini, Bareskrim masih berkutat mencari Honggo di Tanah Air, dengan menyambangidan menggeledah kediaman­nya di kawasan Pakubuwono, Jakarta Selatan.

Padahal, Honggo sudah pergike Singapura ketika kasus kondensat mulai disidik di era Kepala Bareskrim Budi Waseso 2015 lalu.

Direktur Tipideksus Bareskrim saat itu, Brigadir Jenderal Victor Edinson Simanjuntak langsung menggebrak dengan menggeledah kantor Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dulu bernama Badan Pengelola Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas).

Tak hanya itu, Victor memanggilHonggo Wendratno. Namun bekas pemilik dan Direktur Utama TPPI itu selalu mangkir dan mengundur-undur pemeriksaan. "Kuasa hukum bilang setelah tanggal 29 (Mei) saja," kata Victor dalam keterangan pers 22 Mei 2015.

Diam-diam, Honggo pergi ke Singapura dengan dalih hendak berobat. "Penasihat hukumnya minta diperiksa di Singapura karena yang bersangkutan sakit. Ada surat dari penasihat hukumnya, Ariyanto SH," lanjut ung­kap Victor, 8 Juni 2015.

Victor mengaku dua kali menerima surat keterangan medis (medical certificate) dari dokter Singapura yang diserahkan kuasa hukum Honggo. Surat itu menyatakan Honggo sakit dan perlu menjalani operasi bedah jantung.

"Dikhawatirkan, kalau kem­bali ke Indonesia nanti akan lebih fatal.

Dia (Honggo) berjanji kalau sudah operasi akan kem­bali ke Indonesia," kata Victor.

Namun Bareskrim justru mempercepat pemeriksaan sebe­lum Honggo dioperasi. Penyidik pun dikirim ke Singapura. "(Pemeriksaan) di Kedutaan Besar Indonesia di negara itu. Hasil pemeriksaan harus dike­tahui, ditandatangani dan dicap kedutaan. Akan dilakukan sebe­lum operasi," ujar Victor.

Sejak pemeriksaan itu, Honggotak pernah lagi pulang ke Tanah Air. Hingga Budi Waseso dan Victor lepas jabatan dari Kepala Bareskrim dan Direktur Tipideksus.

Pengganti Victor, Brigjen Bambang Waskito melanjutkan penyidikan. Upaya membawa pulang Honggo tak membuah­kan hasil hingga Bambang me­nyerahkan tongkat komando Direktur Tipideksus kepada Agung Setya.

Agung, bekas Wakil Direktur Tipideksus pernah mengirim penyidik ke Singapura untuk melalui pemeriksaan tambahan terhadap Honggo.

Pemeriksaan ini untuk me­lengkapi berkas perkara setelahdikembalikan kejaksaan. "Dibutuhkan keterangan lanjutan dari tersangka yang kini sakit di Singapura," kata Agung. Namun penyidik gagal memeriksa Honggo.

Setelah penyidikan lebih dari dua tahun, Kejaksaan Agung akhirnya menyatakan berkas perka­ra kondensat lengkap. Kejaksaan pun meminta Bareskrim menyerahkan tersangka.

Permasalahan pun muncul. Honggo belum bisa dibawa pulang. Sementara kejaksaan meminta semua tersangka dis­erahkan sekaligus.

Pelimpahan tersangka Raden Priyono (bekas Kepala BP Migas) dan Djoko Harsono (bekas Deputi Finansial, Ekonomi dan Pemasaran BP Migas) pun batal. Padahal, keduanya sudah memenuhi panggilan Bareskrim.

Kasus ini diduga menyebabkankerugian negara hingga 2,716 miliar dolar Amerika atau sekitar Rp 35 triliun.

Buru Honggo Tersangka Kasus Kondensat, Bareskrim Kirim Red Notice

Tim penyidik Bareskrim Polri masih mencari tersangka kasus dugaan korupsi kondensat, Honggo Wendratmo. Polri sudah mengirimkan red notice untuk meminta bantuan Interpol menangkap tersangka yang berada di luar negeri.

"Honggo masih dalam pencarian, ini kita sedang upayakan (pencarian). Kita sudah kirim red noticenya," ujar Kabareskrim Komjen Ari Dono Sukmanto di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (11/1/2018) seperti dikutip dari detik.com

Belum ditemukannya Honggo, eks Dirut PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) ini membuat pelimpahan tahap 2 yakni barang bukti dan tersangka ditunda. Bareskrim ingin pelimpahan tahap 2 sekaligus dilakukan terhadap tiga orang tersangka kasus kondensat.

"Dari JPU menghendaki ada tiga tersangka, baru ada dua tersangka yang sudah siap," katanya.

Dalam perkara dugaan korupsi kondensat, penyidik menetapkan tiga orang tersangka yakni eks Kepala BP Migas Raden Priyono, mantan Deputi FInansial Ekonomi dan Pemasaran BP Migas Djoko Harsono serta Honggo.

Penyidik menduga PT TPPI menajdi mitra penjualan kondensat BP Migas tanpa dipayungi kontrak. Setelah satu tahun jual beli berjalan, BP MIgas menunggu kesiapan Kejagung dalam pelimpahan tahap 2. (aya/rmol//detik)

Sumber : kabarsatu.news

  

Read More

Kamis, 25 Januari 2018

Wakapolri Sebut Anggota Brimob Tembak Mati Kader Gerindra Untuk Bela Diri

25 Januari 0

Wakapolri Sebut Anggota Brimob Tembak Mati Kader Gerindra Untuk Bela Diri

BANDARpost – Wakapolri Komjen Syafruddin menyebut tindakan Briptu R, oknum Brimob yang menembak kader Partai Gerindra Fernando AJ Wowor, dilatarbelakangi pembelaan terhadap dirinya. Syafruddin mengatakan Briptu R sebelumnya dikeroyok.

“Ya jelas kan penembakannya, dia dikeroyok kan, iya membela diri,” kata Syafruddin di sela acara Rapim Polri hari kedua, di STIK/PTIK, Jalan Tirtayasa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (24/1/2018).

Meski demikian, Syafruddin tetap mengedepankan hasil dari proses penyelidikan. Menurutnya kasus tersebut memang tak dapat disimpulkan dengan cepat.

“Tapi dilihat penyelidikannya, nggak bisa disimpulkan dulu,” ujar Syafruddin.


Syafruddin menjelaskan saat ini kepolisian masih melakukan investigasi terhadap peristiwa penembakan yang dilakukan Briptu R. “Statusnya dalam investigasi yang mendalam,” imbuh Syafruddin.

Sementara itu Dankor Brimob Brigjen Rudy Sufahriadi enggan berkomentar ketika ditanya wartawan mengenai kasus Briptu R. Dia mengatakan masih menunggu proses penyelidikan.

“Saya belum boleh komentar apa-apa, tanya humas. Saya masih nunggu penyelidikan,” ucap Rudy.

Ditanyai mengenai prosedur pemegangan senjata di lingkungan Brimob, Rudy tetap memilih irit bicara. “Tergantung tugas dan fungsinya anggota ya. Jadi saya belum bisa ngomong,” tutup Rudy.

Fernando tertembak pada Sabtu (20/1) dini hari di Bogor, Jawa Barat. Peristiwa ini diawali adanya salah paham kedua belah pihak saat memasuki area parkir di Jalan Sukasari, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor.

Polisi menegaskan Briptu R akan diproses hukum. Namun polisi menegaskan insiden itu murni masalah pribadi.(jk/dt)

Silahkan subscribe eramuslim official channel di youtube…

Sejarah terus saja berulang…

Sumber : Eramuslim

Read More