Banyak Media Kena Getah Reuni Aksi Damai 212, Akankah Ini Mengubah Keberpihakannya?

BANDARpost Tak bisa dipungkiri, reuni aksi damai 212 merupakan salah satu peristiwa yang memiliki nilai berita tinggi bagi media massa yang ada.
Anehnya liputan dan publikasi tentang aksi yang luar biasa tersebut ternyata tidak mudah ditemukan di media-media utama (mainstream) Indonesia.
Hal ini menurut pengamat media Hersubeno Arief yang dilansir dalam situsnya hersubenoarief dotcom (3/12) merupakan bunuh diri masal pers Indonesia.
Reuni aksi damai 212 kemarinm membukatabir yang selama ini coba ditutup-tutupi. Kooptasi penguasa, kepentingan ideologi, politik dan bisnis membuat pers menerapkan dua rumus baku, framing dan black out.
Ada semacam anomali bahwa momen yang seharusnya menjadi sorotan media-media internasional itu sama sekali tidak “menarik” dan dianggap tidak layak berita, bagi sebagian besar media nasional yang terbit di Jakarta.
Her mengatakan sejumlah pembaca Harian Kompas pada Senin (3/12) pagi dibuat terkejut ketika mendapati koran nasional itu sama sekali tidak memuat berita jutaan orang yang berkumpul di Monas. Halaman muka Kompas bersih dari foto, apalagi berita peristiwa spesial tersebut.
Baru setelah dibuka satu persatu, peristiwa super penting itu ternyata terselip di halaman 15. Dengan judul “Reuni Berlangsung Damai” Kompas hanya memberi porsi berita tersebut dalam lima kolom kali seperempat halaman, atau sekitar 2.500 karakter. Tidak ada foto lautan manusia yang menyemut dan memadati kawasan Monas dan sekitarnya.
Her menambahkan Halaman muka Harian Media Indonesia milik Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh juga bersih dari foto dan berita Reuni 212. Mereka memilih berita utama dengan judul “ PP 49/2018 Solusi bagi Tenaga Honorer.”
Pun Harian Sindo Milik Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoe yang memilih berita utamanya “ Pesona Ibu Negara di Panggung G-30” dengan foto-foto mereka dalam ukuran besar.
Tak terkecuali Koran Tempo juga memilih berita utama “Menuju Ekosistem Digital” yang ditampilkan dalam seluruh halamannya.
Nah, di tengah fenomena terus menurunnya pembaca media cetak, tindakan tersebut dianggap Hersubeno sebagai tindakan bunuh diri, dan akan mempercepat kematian media cetak di Indonesia. Boleh jadi mereka nanti akan kena getah pahit dari keputusan ini. Akankah terus begitu sampai Pemilu 2019 nanti? Atau mereka akan berubah menjadi lebih baik setelah kasus ini menjadi sorotan tajam di masyarakat?
Sumber : UC News
