prabowo-subianto-dan-harapan-rakyat-indonesia (foto: indonesiaraya.co.id)
BANDARpost, Pilpres 2019 merupakan pemilu yang ketiga kalinya bagi sosok Prabowo Subianto, sebelumnya Prabowo kalah di Pilpres 2009 dan 2014. bahkan Pilpres 2019 mendatang diakui Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Ahmad Muzani sebagai tantangan terberat bagi Prabowo dibanding pemilu pemilu sebelumnya.
Jika di 2014 Prabowo dan Jokowi sama sama memulai dari garis start, maka di 2019 Jokowi sudah jauh meninggalkan garis start melesat meninggalkan Prabowo, bagaimana tidak Jokowi sudah berbuat banyak dengan 2000 triliun anggaran di APBN guna medongkrak elektabilitasnya, belum lagi sekian juta abdi negara, polisi dan tentara yang digaji negara tentu jadi kekuatan tersendiri bagi sang Petahana, bahkan KPU pun membolehkan pesawat kepresidenan di pakai kampanye.
prabowo-blusukan (foto: okezone.com)
Sementara Prabowo, seperti sebelumnya akan memulai dari garis start lagi, Ia tak punya 2000 triliun untuk menaikkan elektabilitasnya, ia tak punya barisan pendukung dari abdi negara, kepala daerah atau yang lainnya, jika boleh dikatakan Prabowo hanya mengandalkan rakyat, hanya rakyat kekuatan dibelakangnya, jika kepercayaan rakyat sudah pupus maka habislah Prabowo.
Bahkan menurut pengakuan Muzani, Pilpres kali ini, koalisi pendukung merasakan Prabowo dikepung dari berbagai lini, ia mengingat kembali di Pilpres 2009, tidak ada pengerahan kepala daerah baik bupati, wali kota, hingga gubernur untuk mendeklarasikan dukungan kepada salah satu calon. Hari ini secara masif kepala daerah dikerahkan menjadi mesin politik kelompok tertentu, sementara diwaktu yang sama, kepala daerah yang berasal dari koalisi pendukung Prabowo, memilih bungkam tidak berani untuk mendeklarasikan dukungan.
sekjen-gerindra-ahmad-muzani-kami-tak-akan-minta-gubernur-yang-kami-usung-masuk-timses (foto: harianbatakpos.com)
“Terus terang, kami merasakan ini adalah bobot terberat pak Prabowo menjadi calon presiden. Jadi kami merasa bahwa Prabowo saat ini dikepung,” demikian ungkap Muzani, seperti dilansir laman mediajakarta.com (11/10/2018).
Lebih lanjut Muzani memaparkan ‘kepungan’ berikutnya berasal dari berbagai lembaga survei terkait elektabilitas Prabowo hingga pemberitaan di media massa. Menurutnya, pemberitaan di media tendensius, tidak lagi berimbang dengan condong ke Petahana. Pemberitaaan terkait Prabowo selalu negatif guna menggiring opini rakyat untuk tidak menyukai mantan Danjen Kopassus itu.
prabowo (foto: kompas.com)
“Pemberitaan Prabowo tidak boleh positif, rakyat yang mendukungnya harus dalam suasana kayak gini dan seterusnya,” ungkap Muzani.
Di dunia usaha pun situasinya tak beda jauh, Muzani menilai pengusaha yang hendak mendukung Prabowo-Sandi merasa khawatir karena sudah terikat proyek dengan pemerintah. Jika ada yang mau mendukung pun dilakukan secara sembunyi-sembunyi, jika tak ingin proyeknya di pemerintah terancam.
Namun ditengah himpitan tersebut, Muzani mengklaim dukungan rakyat terhadap Prabowo-Sandi justru kian menguat, hal ini tak lain akibat fakta dilapangan yang benar benar dirasakan rakyat berbeda dengan klaim pemerintah tentang ekonomi yang meroket, kondisi ekonomi yang semakin berat dirasakan langsung masyarakat saat ini.
prabowo bersama rakyat (foto: rmolsumsel.com)
“Karena pada akhirnya demokrasi akan diterima dengan cara apapun bagaimana rakyat mempercayai kami, mandat itu bisa kami raih pada Rabu 17 April,” tandas Muzani optimis.

Sumber:
mediajakarta.com/amp/2018/10/11/prabowo-dikepung-diberbagai-lini-dukungan-rakyat-kian-menguat/
+ IKUTI