‘Wahn’ Zaman Now
Ditulis oleh: Rusydan Abdul Hadi
BANDARpost – Disadari atau tidak, dunia pada hari ini dipenuhi oleh kekacuan yang bersifat global. Berbagai materi nyaris menjadi mitos dan bahkan sebagian telah benar-benar lenyap akibat ketamakan kapitalisme yang semakin mutakhir. Dimulai dari hilangnya warna jernih air sungai, hutan gundul, kabut tebal, harimau Sumatra, orang hutan Sumatra, pembantaian ikan hiu, garis pantai semakin mundur, hingga lubang di lapisan ozon yang semakin menganga.
Manusia pun dilanda kepanikan yang bersifat global pula, berbagai upaya perbaikan disuarakan dan disemarakkan. Hari tanpa asap kendaraan diberlakukan satu pekan sekali di hampir setiap kota, gerakan satu orang satu pohon, go green community, penetapan wilayah konservasi, hingga seorang wakil gubernur rela turun langsung dalam sebuah proyek pembersihan danau kota.
Namun sayangnya sedikit manusia yang menyadari mengenai apa yang lebih mengerikan ketimbang lenyapnya materi bagi kehidupan mereka. Adalah dari segi moral dan spiritual, diakui atau tidak sistem ekonomi kapitalisme global yang hanya berorientasi pada keuntungan hari ini nyaris mengikis habis apa yang dulu diyakini masyarakat sebagai tabu. Di samping itu, industri media baik media massa maupun online telah berhasil membuat apa yang dikenal sebagai moral mulai kehilangan batasannya, dan kehidupan spiritual menjadi bagian kehidupan yang paling tidak populer. Tontonan global yang bersifat hiperealis tak sedikit pun mengusik kesadaran nurani kemanusiaan, kalaupun ada tak terlalu dalam dan dibelokkan demi kepentingan pemilik media.
Ketika sebuah daerah tertimpa gempa bumi misalnya, memang kita disuguhi tontonan potret kehancuran yang menyedihkan, mengiris perasaan, namun sedikit bahkan tidak ada yang membawa kita pada perenungan spiritual yang mendalam. Mayoritas seruan yang ada hanyalah sebatas bantuan sandang, papan, dan pangan. Penjelasan-penjelasan yang ada pun hanya berhenti pada ranah “ilmiah”; pelepasan energi bumi, gelombang seismik, pergerakan lempeng bumi. Kalaupun ada penjelasan semisal kemaksiatan yang merajalela, tingkat pergaulan bebas yang mengejutkan, adzab, peringatan, taubat biasanya dicitrakan sebagai sesuatu yang tidak ilmiah.
Akibatnya masyarakat menjadi tidak terlalu peduli terhadap segala dimensi ataupun nilai-nilai spiritual, dan di atas ketidakpedulian inilah kapitalisme dibangun. Kapitalisme akan selalu mengarahkan mereka agar tenggelam dalam kondisi ekstasi konsumsi. Sebagaimana pengedar ekstasi, kapitalisme senantiasa menggiring masyarakat akan terus mengejar apa yang mereka definisikan sebagai kondisi puncak yang sejatinya tak akan pernah mereka gapai.
Kapitalisme senantiasa menawarkan keterpesonaan, ketergiuran, dan hawa nafsu yang sejatinya merupakan satu paket wabah penyakit hati yang melanda kehidupan masyarakat konsumen di tengah-tengah kehidupan yang dikitari oleh belantara benda-benda, tanda-tanda, dan makna-makna semu, di tengah-tengah kehidupan ala kapitalisme yang dibangun di atas gemerlapnya citra-citra ketimbang kedalaman arti, makna, dan subtansi.
Bedak pemutih kulit wajah, obat pelangsing, dan obat kuat menjadi komoditas paling diburu, ya wajah putih bersih dan tubuh “ideal” yang dipertontonkan dalam gambar ataupun video clip iklan bedak tersebut menjadi semacam indoktrinasi pada benak masyarakat konsumen bahwa bertubuh ramping dan berwajah cantik adalah tujuan, berwajah tampan dan berbadan kuat adalah tujuan. Masyarakat konsumen akan tergagap kebingungan ketika ditanya, cantik dan tampan untuk apa? Dan untuk siapa? Maka kapitalisme pun memberikan iming-iming kepuasan lanjutan yang tak kalah semu, ruang-ruang yang mempertontonkan wajah dan bagian tubuh tertentu dipenuhi iming-iming bayaran yang tak masuk akal.
Tak masuk akal dalam artian dalam satu waktu terasa terlalu mahal, namun di waktu lain terasa terlalu murah. Seorang covergirldibayar puluhan juta sekali potret sementara di lain waktu SPG rokok dibayar tak lebih banyak dari penghasilan ojek online dalam sebulan. Mereka sama-sama mempertontonkan kecantikannya, mereka sama-sama membuka betisnya. Namun setidaknya, realitas ini mampu memberikan doktrin bahwa jika kamu berani membuang rasa malumu kamu pasti akan mendapatkan pekerjaan dan penghasilan.
Kontes-kontes kecantikan dan kebugaran diselenggarakan secara periodik dan sistemik. Seberapa berbusanya pembelaan terhadap kontes-kontes tersebut, manusia paling bodoh di muka bumi pun tahu jika yang menjadi juara adalah yang paling simetris lekukan tubuhnya. Memang rasanya kejam sekali membanding-bandingkan sesuatu yang bersifat “bawaan lahir” yang notabene pemberian Allah SWT lalu diambil yang terbaik menurut penilaian manusia. Namun begitulah kapitalisme bekerja, kapitalisme harus menciptakan sebuah kiblat semu mengenai definisi cantik dan tampan, relatifitas kata cantik dan tampan harus mati semati-matinya, karena di atas kematian itulah kapitalisme bernafas, di atas kematian itulah pusat-pusat kecantikan dan kebugaran akan tetap ramai dan sesak.
Pembunuhan serta pembantaian kini tak lagi menjadi hal yang mengerikan, menakutkan, serta membangkitkan perasaan sedih ataupun sadis. Kalaupun ada perasaan sedih, lebih disebabkan oleh emosi kedekatan serta persoalan kepentingan. Hal ini tak lepas dari perilaku media milik para penguasa kapital yang selalu memoles sebuah fakta menjadi sebuah propaganda, yang tentunya dimaksudkan untuk melanggengkan posisi dan kekuasaan mereka.
Ratusan ribu warga Suriah yang terbunuh seolah bukanlah sesuatu yang perlu diberitakan, media justru berbondong-bondong mencatat setiap detil percekcokan tidak subtansial seorang anggota IS dengan gerilyawan HTS di perbatasan Aleppo. Namun di saat yang sama, media mengekspos besar-besaran segelintir korban bom Surabaya seolah inilah aksi pengeboman tersadis di abad ini.
Maka sekali lagi, masyarakat pun tenggelam ke dalam kondisi ekstasi konsumsi, mereka secara teratur menuju suatu dimensi moralitas yang serba terbalik dan ekstrem. Ekstasi konsumsi nyatanya lebih sadis ketimbang pil ekstasi, Ekstasi tersebut hadir dalam rupa pergantian produk, mode, ataupun gaya dalam diskursus fashion, juga dalam bentuk eksploitasi terus menerus hal-hal yang berbau seksualitas, dan juga dalam bidang sosial, di mana komunikasi tanpa perlunya interaksi fisik menjadi sebentuk interaksi yang perlahan mendominasi setiap lini kehidupan.
Namun seorang muslim sejatinya tak perlu terlampau terkejut, karena realitas tersebut hanyalah bentuk kronis dari apa yang disebut oleh Rasulullah SAW sebagai wahn; cinta dunia dan takut mati. Dan cukup menjadi manusia untuk menyadari bahwa realitas tersebut berbahaya, berbahaya untuk kemanusiaan kita. Karena ketika kemanusiaan terkikis habis maka manusia sudah tak punya lagi titik perbedaan dengan binatang, bahkan terkadang menjadi lebih hina.
Sumber :Kiblat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar