Mungkinkah UIN Jogja Perlu Belajar Tentang Kampus Islami Dari IPB? - BANDAR post

Hot

Sabtu, 10 Maret 2018

Mungkinkah UIN Jogja Perlu Belajar Tentang Kampus Islami Dari IPB?

Mungkinkah UIN Jogja Perlu Belajar Tentang Kampus Islami Dari IPB?


Oleh: Nindira Aryudhani
(ibu rumah tangga, alumni IPB, pernah menjadi dosen Diploma IPB)

BANDARpost, Kebijakan pelarangan cadar bagi mahasiswi muslimah di kampus UIN Sunan Kalijaga, Jogja, beberapa hari yang lalu masih menuai rentetan kritik. Kampus tersebut harus menelan pil pahit opini masyarakat, bahwa meski sebagai kampus Islam tapi sangat disayangkan jika cadar sebagai bagian syariat Islam malah dilarang.

Belum lagi dengan peristiwa lain, ketika Rektor UIN Jogja diundang sebagai saksi ahli di Pengadilan TUN dalam sidang pencabutan bahan hukum perkumpulan HTI, Kamis (08/03/2018). Pak Rektor yang ditanya seputar kekhilafahan justru memberikan jawaban-jawaban yang jauh dari makna syariat. Termasuk ketika menyebutkan Donald Trump, Presiden AS, sebagai seorang khalifah. Tak syak, publik makin mempertanyakan status keislamian di kampus tersebut.

Terkait dengan hal ini, wajar jika di dunia maya akhirnya ramai opini bahwa UIN Jogja mungkin perlu sedikit belajar tentang kampus Islami dari IPB. Patut kita ingat bersama, bahwa sejak dulu IPB telah dikenal sebagai Institut Pesantren Bogor. Ya, IPB memang ibarat pesantren bagi para mahasiswa/i serta para dosen dan karyawan/ti yang mayoritas muslim. Suasana islami kampus IPB sangat kondusif untuk pembelajaran dan perkembangan pemikiran Islam di kalangan civitasnya. Istilah ‘pesantren’ itu juga didukung adanya fakta kurang lebih 90% mahasiswi, dosen dan karyawati muslimah di IPB menutup aurat alias mayoritas berkerudung.

Kerudung, jilbab, maupun cadar, telah menjadi fashion yang tak asing dipandang di kalangan mahasiswi muslimah di kampus hijau ini. Ibarat kata, di IPB bisa kita temukan beragam mode pakaian warga kampus dalam rangka menutup aurat. Mulai dari yang baru hijrah, masih belajar, hingga yang sudah sempurna dalam menutup auratnya. Bahkan pernah ada semacam resolusi tak tertulis bahwa mahasiswi yang sebelumnya tidak berkerudung, sebelum lulus dari IPB dijamin sudah berkerudung.

Meski sejumlah perubahan kurikulum dan padatnya perkuliahan menantang para mahasiswa/i hingga menciptakan suasana kampus yang study oriented, aktivitas keislaman di IPB tak pernah vakum. Kegiatan lembaga-lembaga kemahasiswaan bernafaskan Islam, termasuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kerohanian Islam tetap dinanti dan diminati. Karena, bagaimana pun mereka termasuk civitas yang peduli dan berkontribusi dalam rangka mengajak mahasiswa/i untuk memiliki pemikiran, perasaan dan peraturan yang benar berlandaskan Islam dalam menjalani kehidupan.

Lalu, jika dikatakan mahasiswa/i IPB hanya belajar ilmu eksakta dan tak pernah belajar ilmu Islam, itu juga salah besar. Di IPB, dan Bogor pada umumnya, kajian-kajian keislaman begitu tumbuh subur. Mau kajian tafsir, fikih, ushul fikih, pemikiran Islam, Islam politik, dsb, terselenggara lancar jaya di luar jam perkuliahan. Bahkan, agenda-agenda semacam ini difasilitasi oleh pihak kampus. Mau di masjid, auditorium, ruang kelas, selasar, koridor gedung, dsb, begitu ranum dengan aktivitas-aktivitas pembelajaran Islam.

Tanpa bermaksud ashobiyah, namun sungguh suasana islami di IPB telah mengaruskan civitasnya untuk meyakini Islam yang menetapkan bahwa sebelum kehidupan ini ada sesuatu yang wajib diimani keberadaannya, yaitu Allah SWT. Islam juga menetapkan iman terhadap alam sesudah kehidupan dunia, yaitu hari Kiamat. Manusia di dalam kehidupan dunia ini terikat dengan perintah-perintah Allah dan larangan-larangan-Nya, yang merupakan hubungan kehidupan ini dengan alam setelahnya. Yang dengannya, setiap muslim harus mengetahui hubungan dirinya dengan Allah pada saat melakukan suatu perbuatan, sehingga seluruh amal perbuatannya sesuai dengan perintah-perintah dan larangan-larangan Allah.

Sumber : Dakwah media 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar