Maskot Asian Games 2018: Tiga Keunikan, Satu Jiwa - BANDAR post

Hot

Rabu, 08 Agustus 2018

Maskot Asian Games 2018: Tiga Keunikan, Satu Jiwa

Maskot Asian Games 2018: Tiga Keunikan, Satu Jiwa

.com/blogger_img_proxy/

Maskot Asian Games (Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

BANDARpost, Tanggal 5 Mei 2014 jadi sebuah tanggal bersejarah bagi Indonesia. Seperti halnya 23 Mei 1958, pada tanggal tersebut, Indonesia kembali ditetapkan menjadi tuan rumah Asian Games. Kali ini, Asian Games dihelat pada 2018, semata agar tidak bentrok dengan penyelenggaraan Pilpres 2019 --mengingat awalnya Asian Games akan dilaksanakan pada 2019.

Sebagaimana 1958 silam (sebelum menghelat Asian Games 1962), Indonesia kali ini juga hanya punya waktu empat tahun masa persiapan. Sadar tidak memiliki banyak waktu, Indonesia langsung bergerak cepat. Beberapa hal yang berhubungan dengan Asian Games seperti venue pertandingan dan fasilitas pendukungnya segera direnovasi dan dibangun ulang. Tidak hanya itu, beberapa hal lain seperti maskot dan logo juga dipersiapkan.

Namun, perihal maskot dan logo, polemik pernah muncul karenanya. Pada 27 Desember 2015, maskot untuk Asian Games 2018 diluncurkan oleh pemerintah. Namanya 'Drawa'. 'Drawa' adalah burung cendrawasih, hewan khas Papua, yang mengenakan pakaian pencak silat. Soal pemilihan burung cendrawasih ini, sudah mendapat persetujuan dari Dewan Olimpiade Asia (OCA).

Beberapa hari setelah diluncurkan, maskot ini mengundang kontroversi. Netizen Indonesia mengolok pemilihan 'Drawa' sebagai maskot Asian Games 2018. M. Lahandi Baskoro (2016) dalam penelitiannya berjudul Persepsi Netizen Indonesia Terhadap Logo dan Maskot Asian Games 2018 menyebutkan beberapa alasan tentang mengapa netizen mengkritik maskot 'Drawa' ini.

Dari hasil penelitiannya, disebutkan bahwa sebagian besar netizen Indonesia, yaitu sebanyak 86,8%, mengaku tidak puas akan maskot Asian Games 2018. Ketidakpuasan mereka ini bukannya tanpa dasar. Di mata netizen, ada tiga hal yang membuat maskot ini tidak pas dijadikan maskot Asian Games 2018: Perwujudan fisiknya tidak menarik, tampilan kurang kekinian, serta visualisasi maskot yang tak memiliki nilai jual.

Merespons keinginan dari netizen ini, pada Februari 2016, Kemenpora bersama dengan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) berinisiatif mengadakan sayembara untuk menentukan logo dan maskot Asian Games 2018 yang baru. Setelah mengadakan sayembara kurang lebih selama lima bulan, akhirnya, pada Juli 2016, terpilihlah maskot dan logo Asian Games 2018 yang baru.

Maskot dan logo Asian Games 2018 ini merupakan gubahan dari perusahan grafis Feat Studio, yang digawangi oleh Jefferson Edri C, sang pemenang sayembara. Menurutnya, logo dan maskot ini terinspirasi dari sesuatu yang sudah menjadi ikon di Indonesia, seperti Stadion Utama Gelora Bung Karno dan slogan Bhinneka Tunggal Ika.

Mari berkenalan dengan tiga maskot baru Asian Games 2018, beserta dengan filosofi yang mengiringinya.

Bhin-bhin

Bhin-bhin adalah maskot Asian Games 2018 yang berupa burung cendrawasih (Paradisaea apoda). Burung ini merupaka hewan khas dari wilayah timur dari Indonesia, yakni Papua. Karena keindahannya, Alfred Russel Wallace, ahli biologi dari Inggris, mengungkapkan bahwa cendrawasih adalah makhluk berbulu paling cantik di muka bumi. Julukan Birds of Paradise atau burung dari surga tersemat padanya.

Dalam gambar desain maskot Asian Games 2018, Bhin-bhin mengenakan rompi Asmat dari Papua. Bhin-bhin menjadi lambang dari strategi. Mengapa strategi? Hal ini tak lepas dari perilaku cendrawasih itu sendiri yang penuh strategi ketika sedang dalam masa kawin. Melompat dari dahan ke dahan, terbang secara zigzag, serta berdiri terbalik di dahan pohon merupakan perilaku aneh dari cendrawasih.

Perilaku aneh yang merupakan cermin dari kepandaian strategi yang dapat menjadi kunci menuju kemenangan. Inilah yang diharapkan muncul dari para atlet yang berlaga di Asian Games 2018.

.com/blogger_img_proxy/

Pekerja menyelesaikan pengecatan maskot Asian Games yang akan dipasang di depan Balai Kota (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)

Atung

Setelah Bhin-bhin, ada juga Atung selaku maskot Asian Games 2018. Atung adalah seekor rusa bawean (Hyelaphus Kuhlii), hewan endemik yang berasal dari Bawean, Gresik, Jawa Timur. Habitat dari rusa bawean ini adalah hutan-hutan primer dan sekunder, terutama di hutan perbukitan dan padang rumput berawa.

Berbeda dengan rusa pada umumnya yang punya tubuh lebih besar, rusa bawean memiliki tubuh lebih mungil. Rusa bawean memiliki tinggi tubuh 60-70 cm dan panjang tubuh antara 105-115 cm. Tubuh mungil inilah yang berhubungan dari representasi Atung selaku maskot Asian Games 2018: kecepatan. Dengan tubuh mungilnya, rusa bawean memiliki kecepatan dan kemampuan lari yang lebih baik dari rusa pada umumnya.

Berbalutkan sarung motif tumpal yang berasal dari Jakarta, semakin pas-lah Atung menjadi representasi dari kecepatan, sekaligus salah satu dari tiga maskot Asian Games 2018.

Kaka

Selain Bhin-bhin dan Atung, ada juga satu maskot lain yang menjadi salah satu dari tiga maskot Asian Games 2018. Dia adalah Kaka. Kaka digambarkan sebagai seekor badak bercula satu (Rhinoceros Sondaicus) yang mengenakan pakaian tradisional dengan motif bunga khas Palembang.

Dahulu kala, badak bercula satu atau kerap juga disebut badak Jawa merupakan jenis badak yang memiliki habitat paling luas. Habitatnya tersebar mulai dari Jawa, Sumatera, hingga ke India dan China. Namun, populasi badak Jawa kini semakin menurun. Diperkiarakan hanya ada 58 sampai 68 ekor saja badak bercula satu yang tersisa di Taman Nasional Ujung Kulon.

Sebagai maskot Asian Games 2018, Kaka direpresentasikan sebagai kekuatan. Tubuh tegap, dengan cula di kepala, mencerminkan kesan kekuatan dari seorang badak. Dengan kekuatan ini, seekor badak dapat berjalan berkilo-kilo jauhnya untuk mencari makanan. Namun, meski kuat, badak tidak berjalan dengan angkuh dan sombong. Dia berjalan dengan santai dan tenang, dengan membawa perasaan merendah.

Jadi, kekuatan badak tidak hanya terletak pada kekuatan fisik, melainkan juga pada kekuatannya untuk menahan kesombongan. Hal inilah yang menjadi representasi kekuatan dari Kaka, seekor badak bercula satu.

.com/blogger_img_proxy/

Pekerja menyelesaikan pengecatan maskot Asian Games yang akan dipasang di depan Balai Kota (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)

***

Sebagai maskot, tiga hewan ini cocok menggambarkan representasi Indonesia. Terlepas dari motivasi untuk melestarikan tiga hewan yang sudah masuk kategori langka ini, ketiganya menjadi perwujudan dari tiga wilayah berbeda di Indonesia, yaitu barat, tengah, dan timur. Ketiganya mencerminkan tiga keunikan Indonesia.

Lebih lanjut, selain menjadi perwakilan dari tiga keunikan Indonesia, ketiganya juga membawa tiga semangat yang harus diusung para atlet yang berkompetisi di ajang Asian Games 2018. Ada strategi, kecepatan, dan kekuatan di dalamnya. Tiga semangat yang terbalut menjadi satu jiwa bernama Energy of Asia.

Sumber :Kumparan 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar